Wawan Hawe_ Setiawan Bercermin lewat Sastra Sunda.Kompas.Hal.16

Siapa lagi yang mau mempertahankan budaya Sunda selain orang Sunda itu sendiri? Pertanyaan retoris itu memotivasi Wawan “Hawe” Setiawan untuk ikut menjaga budaya Sunda agar tetap relevan di tengah zaman yang terus berubah. la memilih bahasa dan sastra Sunda sebagai mediumnya.

Diteundeun di jalan gedé,

Dibuka ku nu ngaliwat,

Anu weruh di semuna,

Anu terang, di jaksana,

Au rancagé di haté.

“Simpanlah sesuatu yang berharga di jalan besar/supaya bisa dibuka oleh siapa pun yang lewat/ yang bisa mengetahui isyarat/ yang bisa menangkap tanda-tanda/yang kreatif di dalam hatinya”.

Demikian terjemahan harfiah Hawe untuk sepenggal pantun dari “Cerita Pantun Sunda”. Penggalan pantun itu menjadi jiwa Yayasan Kebudayaan Rancagé yang didirikan oleh sastrawan Ajip Rosidi bersama budayawan lainnya pada 1993. Pantun ini juga menjadi salah satu prinsip Hawe dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Sunda.

“Secara personal saya berpendapat, budaya setempat mesti dikelola. Itu bisa dilakukan dengan menjaga relevansinya terhadap kehidupan universal. Hanya dengan cara itu, budaya tidak kehilangan potensi sebagai pemberi inspirasi bagi manusia untuk merefleksikan diri supaya lebih kreatif dan budaya tidak punah,” kata Hawe di Perpustakaan Ajip Ro sidi, Bandung, Jawa Barat, Senin (14/6/2021).

Gelar sebagai budayawan Sunda disematkan pada Hawe sejak 2000-an. Pertanyaan tentang gelar itu membuat Hawe tersipu. Dengan rendah hati ia mengatakan, dirinya hanyalah orang yang rajin menulis. Tulisan Hawe bukan tulisan sembarangan, melainkan akumulasi dari pengetahuan dan pengalaman panjang. Ia merekam banyak jejak perjalanan budaya, sastra, dan bahasa Sunda. Ia juga berusaha meneropong kesundaan dengan lebih segar melalui pembacaan atas simbol-simbol yang samar.

Kecenderungan itu, antara lain, terlihat dalam karya Hawe berjudul Sunda Abad Ke-19: Tafsir atas Ilustrasi-ilustrasi Junghuhn (2019) yang berusaha menggali representasi visual lanskap alam Sunda abad ke-19 dari gambar Franz Wilhelm Junghuhn. Sementara itu, Bocah Sunda di Mata Belanda (2019) menginterpretasi penggambaran anak Sunda dari ilustrasi Roesdi djeung Misnem.

Setidaknya sudah 20 buku yang ditulis Hawe sendiri atau bersama penulis lain. Jumlah ini belum termasuk buku yang ia terjemahkan dan sunting serta puluhan. artikel di surat kabar, jurnal, serta esai berbahasa Sunda.

Hawe lebih sering menggunakan teks sebagai medium karena bahasa adalah kunci dalam melestarikan budaya Sunda. Berbeda dengan budaya Bali yang identik dengan ritual upacara keagamaan, fondasi budaya Sunda adalah bahasa dan karya sastra.

“Dari bahasa, kita bisa mempelajari etos, etika, dan filsafat Sunda yang mulai terkikis. Apalagi pada masyarakat Sunda saat ini, nilai kesundaan memudar. Itu terlihat dari polarisasi selama pilpres. Padahal, ada ungkapan, memelihara kejernihan di antara dua kekeruhan,” ujar Hawe yang terlibat dalam berbagai penelitian tentang masyarakat Sunda. Ia, antara lain, membantu Julian Millie dari Monash University yang meneliti Haji Hasan Mustapa, sastrawan besar Sunda.

Banyak garis merah yang Hawe temukan selama meneliti budaya Sunda dari segi gambar, kata, dan lanskap. Salah satunya, kata Hawe, terkait prinsip hidup orang Sunda yang menghargai harmoni dengan alam, yakni hirup cicing, hirup nyaring, hirup eling. Masyarakat adat di Kasepuhan Ciptagelar, contohnya, tidak boleh menjual padi karena menanam padi adalah darma manusia di Bumi.

Bocah Cisalak

Hawe lahir di Desa Cisalak, sekitar 40 kilometer dari Tangkubanparahu, pada 1968. Di daerah bekas perkebunan teh itu, ia tumbuh bersama ayah yang bekerja di kantor camat. Sang ibu mengurus rumah tangga, dan enam saudara kandung. Karena tidak ada teman sebaya, ia menghabiskan waktu membaca buku di taman bacaan ayahnya.

Hobi membaca ini membawa Hawe ke jalan hidup yang lebih jauh dari ekspektasi orangtuanya. Ayahnya semula berharap Hawe menjadi camat atau insinyur pertanian. Nyatanya, gara-gara membaca cerpen kritis karya Mochtar Lubis, Hawe ogah menjadi pegawai pemerintahan. Ia memilih kuliah di Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran, Bandung, pada 1987. Setelah lulus, ia bekerja sebagai wartawan di Jakarta pada periode 1995-2000.

Pilihan hidup Hawe membuat hubungan dengan ayah sempat merenggang. Profesi wartawan waktu itu dianggap identik dengan kerjaan ngomongin pejabat. Sungguh miris lantaran sang ayah adalah camat teladan yang pernah diundang ke Istana. Setelah era Reformasi, anggapan ayah Hawe soal profesi “kuli tinta” membaik.

Ketertarikannya pada sastra Sunda mendorong ia mendirikan Komunitas Dangiang yang menerbitkan esai mengenai kebudayaan Sunda pada 1999. Sayang, komunitas ini hanya berumur seumur jagung. Belakangan, bertemu dengan Ajip Rosidi yang menuntunnya menjadi editor di Dunia Pustaka Jaya (2000-2002). Dari sini ia menyelami dunia penerbitan, kesusastraan, dan budaya Sunda lebih dalam.

Terpengaruh Ajip, dia mulai menulis dalam bahasa Sunda. “Sebelumnya saya tidak bisa menulis bahasa Sunda meskipun selalu berbicara dengan orangtua dalam bahasa Sunda,” ujar Hawe yang kemudian membantu Yayasan Kebudayaan Rancagé yang didirikan Ajip. Di Yayasan Rancagé, Hawe menjadi juri untuk Hadiah Sastra Rancagé kategori Sastra Sunda.

Sebagai orang yang menyelami budaya Sunda, ia optimistis dengan perkembangan budaya Sunda di masa mendatang. Ia melihat ada adaptasi bahasa Sunda di masyarakat sekarang ini. “Saya menemukan banyak ungkapan dalam bahasa Sunda tetap muncul di ruang publik, seperti Wi-Fi ditulis waifai, malahan kata aing tiba-tiba populer di kota besar,” ujarnya.

Meski diratapi, lanjut Hawe, elemen budaya Sunda ternyata beradaptasi dengan caranya sendiri.

 

Sumber:

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *