Umat Tetap Memilih Datang ke Gereja. Harian Dis Way. 20 Februari 2021.Hal.14,15. Freddy H Istanto. INA

Memang, inti misa bukan sekedar berdoa di sebuah gedung elok bernama gereja. Inti peribadatan itu justru berkumpul dan bersekutu bersama saudara-saudara seiman. Dan di masa pandemi ini, perkumpulan itu harus ditiadakan.

Langit sore itu berwarna kelabu. Pertanda hujan lebat hendak mengguyur bumi. Simbol salib di pucuk Menara Gereja Santo Yakobus sudah tidak tampak lagi. Hanya lampu-lampu kuning di pelataran gereja saja yang tampak.

Halaman gereja juga sudah sesak diisi mobil umat yang berjejer. Sebagian ada yang memarkirkan mobilnya di luar gereja. Rabu itu memang spesial. Bukan hanya misa biasa. Melainkan Rabu Abu. Biasanya di hari Rabu Abu umat akan berbondong-bondong ke Gereja. Mereka akan mengikuti misa khusus. Misa dengan prosesi mengoleskan abu di dahi tiap umat. Itu pertanda bahwa manusia harus bertobat dan kembali merenungi fitrahnya. Hanya debulah aku… Begitulah penggalan salah satu lagu yang dilantunkan pada masa pertobatan selama 40 hari menjelang Paskah tersebut.

Romo Dominicus Mardiyatto yang memimpin misa mengatakan, umat harus bersyukur bisa datang ke gereja. Sebab, tak semua umat bisa menerima abu di dalam misa tersebut. Ada yang harus mengikuti peribadatan dari jarak jauh. Dari rumah. Melalui streaming.

Di antara umat yang datang sore itu, tampak Vinsensius Awey, mantan anggota DPRD Surabaya itu merupakan umat yang hadir saat Rabu Abu di gereja Santo Yakobus.

Bagi Awey perayaan rabu Abu kali ini punya rasa yang berbeda. Menurutnya, saat sebelum ada pandemi masuk, rasa khidmat lebih terasa. Namun, politisi Nasdem itu tetap bersyukur bisa hadir ke Gereja. Sebab tidak semua umat bisa menghadirinya.

Gereja Santo Yakobus memang membuat dua macam misa Rabu Abu. Yakni melalui luring dan daring. Semua yang ingin melaksanakan melalui luring harus memesan tiket lebih dahulu. Kemudian setiap umat yang masuk wajib menunjukkan tiket daring tersebut.

Awey merupakan salah satu dari 600 umat yang memesan tiket. Sejak sehari sebelumnya ia sudah memesan tiket melalui aplikasi yang disediakan oleh gereja. Menurutnya hadir di gereja saat Rabu Abu rasanya lebih khidmat. “Itu yang saya rasakan saat mengikuti misa secara langsung,” katanya.

Awey ingin kembali misa seperti dulu lagi. Seperti tidak ada pandemi. Namun ia tidak bisa menolak dengan kehadiran Covid-19 tersebut. Awey menyadari, virus itu ada juga atas kehendak Tuhan. Virus itu sudah ada dan bisa jadi akan terus ada. Tetapi, Awey juga sadar bahwa manusia dikaruniai akal dan budi untuk bisa berjuang melawan segala tantangan hidup. Salah satunya melalui vaksin. Plus pola hidup yang lebih baik.

Ana, salah seorang umat, juga merasakan hal yang sama. Dia merasa, mengikuti misa secara luring akan terasa khidmat. Ana sejatinya tidak mempermasalahkan prosesi penerimaan abu. Apakah ditaburkan di kepala atau diusapkan di dahi membentuk tanda salib. Menurutnya, yang terpenting adalah pertobatan selama masa prapaskah. “Tetap menjalankan puasa untuk 40 hari ke depan,” ujarnya.

Ana juga mengambil Abu yang disediakan oleh gereja. Abu itu untuk keluarganya di rumah. Anaknya tidak bisa hadir karena tidak mendapatkan tiket. Abu itu akan dioleskan sendiri oleh anaknya. Sesuai tata cara yang berlaku.

Freddy H, Istanto juga merupakan umat Gereja Santo Yakobus. Namun, ia dan keluarga tidak mau datang ke gereja. Sejak pandemi mulai masuk di Indonesia, segala aktifitasnya dengan gereja ia batasi. Ia tidak mau mengambil resiko tertular.

Saat Rabu Abu, ia melakukan prosesi Rabu Abu melalui Streaming. Sedangkan abunya diantarkan langsung oleh asisten imam. Saat prosesi, Freddy yang mengoleskan langsung abu di dahi para keluarganya.

Meski begitu, Freddy amat rindu kembali ke gereja. Baginya pandemi ini merupakan sebuah ketetapan Tuhan yang tidak bisa dielakkan. Ia sempat sedih saat melihat fotonya ketika ibadah misa Rabu Abu. “Hati saya bergetar. Di situ, foto ibu saya terlihat pasrah dengan saat Rabu Abu,” katanya.

Vikaris Jendral Keuskupan Surabaya Romo Yosef Eko Budi Susilo menjelaskan, tidak semua gereja bisa menggelar rabu Abu. Hanya gereja yang masuk dalam zona hijau yang bisa menggelarnya.

Sebelum Rabu Abu, Keuskupan Surabaya sudah menyurati tiap romo dan paroki di bawah naungannya. Selanjutnya misa Rabu Abu diatur oleh romo paroki masing-masing. Paroki di zona merah harus melaksanakan secara daring. Penerimaan abu bisa dikoordinasi oleh pengurus lingkungan masing-masing. “Salah satu syaratnya, keluarga yang menerima abu harus mengikuti misa streaming Rabu Abu,” ungkapnya.

Menurut Romo Eko, Rabu Abu memang dimaknai sebagai masa pertobatan. Yakni mengawali masa prapaskah atau masa retreat agung bagi umat Katolik seluruh dunia. (Doan Widhiandono-Andre Bakhtiar)

 

Sumber: Harian Di’s Way. 20 februari 2021. Hal.14-15

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *