Topeng yang Menyatukan. Surya. 31 Agustus 2020. Hal. 6. Library

Oleh Inggrita Febriza Putri (Staff Library Universitas Ciputra Surabaya)

UNIVERSITAS Ciputra Su­rabaya bekerja sama dengan Museum Ullen Sentalu Yog­yakarta memberikan wadah bagi kerinduan para pecinta budaya untuk berkesenian melalui seminar daring, International Webinar on Mask of Global Society and The Dance of Maestro, Sabtu (15/8/2020) dihadiri oleh lebih dari 200 peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, dan praktisi. Kegiatan yang berfokus pada kesenian topeng dan tari ini dimulai pada pukul 09.00 WIB dan dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, H Emil Elestianto • Darclak: Sambutan kemu­dian diberikan oleh Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemente­rian Pendidikan dan Kebuayaan; Jeong Hongsik, sekretaris umum International Mask Arts & Cultural Organization; Daniel Haryodiningrat, Direktur Museum Ullen Sentalu, dan Yohannes.Somawiharja, Rektor Universitas Ciputra Surabaya.

Kathy Foley, salah satu pemateri membawakan tema “Mask of The Other”. Kathy mempresentasikan mengenai kecintaannya dengan topeng. Baginya, topeng adalah alat untuk adegan luar biasa dan de­ngan menggunakan topeng seseorang bisa bertransfor­masi menjadi karakter lain • seperti “binatang”, raksasa, dewa, dan bisa juga menjadi karakter yang lucu.

“Topeng dan wayang adalah kunci dari rahasia hidup, kunci yang turun temurun dari leluhur. Topeng dan wayang adalah petunjuk tentang arti hidup di sini dan di dunia abadi,” tuturnya:

Selanjutnya para peserta dibagi ke dalam dua sesi pararel. Pada pararel sesi satu yang dimoderatori

oleh Daniel Haiyodiningrat B, pemaparan dibuka oleh Matthew Isaac Cohen dengan membawakan tema “The Reality of Topeng: Javanese Masks and Islamic Mysti­dsm” dilanjutkan dengan pemateri lain. Ira Kusumor­asri membicarakan “The • Greatest Panji”, Steven Frost dengan “Mask Traditions of China’s Guizhou Province” dan di akhir pararel sesi satu * ditutup oleh pemaparan Yati Yusoff tentang cara para praktisi menjaga tradisi topeng tetap hidup

“Topeng dapat mudah diterima oleh generasi mile­nial dengan memanfaatkan teknologi dan juga kolabora­si dengan seniman-seniman muda,” kata Yati.

Sesi pararel kedua dipimpin oleh Head Centre for Creative He­ritage Studies Universi­tas Ciputra, Michael N Kurniawan. Paparan di sesi ini menarik dengan ditampilkannya `Tari Topeng di Jawa Barat” oleh Een Herdiani. Ada jugaHiro Kajihara yang mengambil tema “Japanese Intangible Cultural Heritage in Masks” dilanjutkan oleh Clara Gilbert mengenai tradisi dan ritual topeng di Paris dengan tema “Mask Traditions and Rituals in France”.

Pembicara terakhir adalah Lester Finch dengan tema “MaskerS and Markers Aotearoa” mengenai tradisi topeng di New Zealand. “Budaya menjadi perekat antara manusia, tempat kita bisa menemukan kesatuan di dalam perbedaan yang ada,” tuturnya.

Meski daring, peserta tetap disuguhi pagelaran tari dari para maestro tari seperti Lantip Kuswala Daya dengan Tari Kyai Goweng, Een Hardiana dan Enclang Caturwati yang memba­wakan Tari Purbasari dan Purbararang. Ada juga Handoyo yang membawakan tarian Topeng Klana serta Bulantrisna Jelantik dengan Tari Topeng Sitarasmi.

“Ini adalah kesempatan pertama saya tampil di depan umum setelah men­jalani 8 bulan perawatan dan terapi kanker pancreas. Tari Topeng Sitarasmi yang diambil dari kisah Ramayana 300 tahun lalu tentang kisah cinta sejati Sinta terhadap Rama yang meragukan kesuciannya setelah diculik oleh Rah­wana 14 tahun lamanya,” tutur Bulantrisna.

Sebagai penutup kegiatan webinar, Founder Tracing Patterns Foundation, Sandra Sardjono menyampaikan jika, webinar ini menjadi sarana penting bagi pengenalan budaya dan diharapkan dapat terus berkembang. Menu­rutnya, topeng adalah lingua franca, sebuah bahasa yang universal yang dapat menya­tukan meskipun dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Dengan adanya webinar ini dapat membuka kesem­patan baik bagi dunia untuk dapat berkolaborasi dan terkoneksi. Ke depannya akan diadakan kembali we­binar dan library projects,” tuturnya.

 

Sumber: Surya. 31 Agustus 2020. Hal. 6

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *