Titanic vs Kapal Nabi Nuh.Tabloid Kontan.1 Februari – 7 Februari 2021. Hal.13

Hari-hari belakangan ini, investasi di pasar modal semakin bergairah. Peningkatan indeks harga saham gabungan yang cukup signifikan di awal tahun, membuat masyarakat awam yang tergiur melakukan transaksi surat berharga ini.

Kemudahan transaksi saham secara daring lewat aplikasi digital, membuat urusan jual beli saham menjadi sesederhana permainan jari-jemari. Apalagi, beberapa figure publik, mulai dari tokoh agama, selebritas dan anak pejabat tinggi, yang aktif berbicara mengenal urusan ini di media sosial, sambil memamerkan dan mempromosikan saham-saham tertentu. Sampai-sampai ada yang berani menyebut ulasan dan pandangan mereka dengan julukan X-mology atau Y-mology, mengacu kepada praktik bandamology dalam dunia pasar saham.

Antusiasme yang luar biasa ini, tak jarang membuat orang lupa diri dan ingin buru-buru mengeruk keuntungan dari jual beli kertas berharga ini. Bahkan, ada yang berani menggunakan hot money rumah tangga, seperti: uang belanja bulanan, modal persiapan nikah, hingga dana pinjaman online, untuk melakukan transaksi penuh risiko ini. Seolah-olah, dengan modal sedikit nyali, orang bisa menyulap uang recehan menjadi tumpukan harta dalam waktu seketika.

Saya jadi teringat cerita dari seorang sahabat fund manager yang sudah lama menggeluti bisnis semacam ini. Katanya, kalangan yang berhasil memetik sukses dari investasi seperti ini umumnya adalah orang-orang yang konservatif. Mereka bukanlah manusia-manusia sok pemberani yang membenamkan sebagian besar duitnya dalam perdagangan kertas berharga, sambil waswas memelototi papan indeks setiap hari. Mereka juga bukan kelompok high achiever yang ingin cepat kaya, sembari menertawakan potensi-potensi risiko yang bakal muncul. “High risk, high return. No risk, no return”, demikian kredo kawanan progresif ini.

Namun, mereka yang berhasil, justru adalah kelompok yang berniat melakukan investasi secara jangka panjang; bukannya pengharap rezeki nomplok dalam semalam.

Tidaklah mengherankan kalau para pemetik sukses investasi semacam ini adalah kaum pensiunan atau ibu rumah tangga biasa. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa mengelola uangnya dengan seksama.

Para pensiunan tahu persis, jika uang pensiunannya dibelanjakan secara tak bertanggung jawab, kemuraman masa tua akan menghadang di depan. Sama halnya, para ibu rumah tangga biasa, juga mengerti bila uang tabungannya diatur dengan cara setengah berjudi, jangan-jangan anaknya tak bisa menyelesaikan sekolahnya secara pantas.

Selanjutnya, sang teman melukiskan sikap seksama dalam berinvestasi lewat cerita kuno berikut. Ia membandingkan narasi tentang perahu kayu Nabi Nuh dan kapal modern Titanic. Titanic adalah kapal supermewah yang dirancang para insinyur perkapalan terhebat pada awal abad modern. Titanic juga direkayasa dengan bantuan teknologi mutakhir dan menelan biaya jutaan dollar. Dengan gagah perkasa, kapal ini diklaim sebagai the unsikable ship alias kapal yang tak bisa tenggelam. Siang hari, Titanic terlihat seperti hotel berbintang lima kelas platinum. Pada malam hari, ia tampak laksana kawasan mewah yang mengapung penuh kerlap-kerlip.

Namun, sejarah akhirnya bercerita, dalam awal perjalanannya. Titanic sudah harus kandas membentur gunung es akibat amukan badai.

Hitungan cermat

Bagaimana dengan kapal Nabi Nuh? Ah, itu hanya kapal sederhana yang dibuat sekadarnya oleh tangan-tangan manusia. Tanpa campur tangan rekayasa teknologi, apalagi aplikasi arsitektur empat dimensi yang canggih. Bahannya pun hanya gelondongan kayu yang seadanya pula. Walaupun demikian, karena pesan Ilahi yang diterimanya, Nuh membuatnya dengan sabar, cermat, dan sekaligus penuh hikmat.

Hasilnya? Sungguh luar biasa. Kapal Nabi Nuh yang terisi penuh dengan anggota keluarga dan segenap hewan dapat bertahan kokoh menghadapi gejolak badai dan air bah. Tak tanggung-tanggung, hingga empat puluh hari empat puluh malam lamanya!

Titanic dibuat dengan semangat pamer dan unjuk kehebatan, sementara kapal Nabi Nuh dikerjakan dengan ketekunan dan penuh keseksamaan.

Sang teman fund manager menutup ceritanya dengan nasihat berikut. Katanya, pada hakekatnya, investasi adalah sebuah bisnis. Ada proses yang perlu ditempuh, bukan melulu hasil yang ngotot diburu. Perlu kesabaran, perhitungan, dan prudence.

Dalam bahasa Indonesia, prudence acapkali diterjemahkan sebagai sikap kehati-hatian. Tetapi, secara pribadi, saya lebih suka mengartikannya sebagai keseksamaan alias cermat dalam perhitungan.

Dan, jangan lupa, lakukan perhitungan pada waktu kita dalam keadaan yang sungguh-sungguh tenang. Mengapa? Karena pada saat sedang diliputi rasa antusiasme dan euphoria, orang hanya bisa melihat satu sisi dari investasi, yakni: potensi keuntungan. Padahal, yang namanya investasi saham, peluang untung dan buntung sama besarnya.

 

Oleh Ekuslie Goestiandi

Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

 

Sumber: Kontan, 1-7 Februari 2021

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *