Tips Mengelola FOMO (Fear of Missing Out)

“Pada pamer saham, apa gue ikutan juga ya”

“Si A udah kerja di perusahaan gede, aku masih disini aja”

“Sepatu ini lg ngetren banget, meskipun harus kredit gapapa deh”

“Kata orang umur 23 udah harus punya rumah, aduh mana bisa”

Apakah UC People pernah merasakan hal yang sama? Bisa jadi secara tidak sadar UC People mengalami yang namanya FOMO. Tapi apa sih sebenarnya FOMO itu?

FOMO (Fear of Missing Out) adalah perasaan takut tertinggal yang berasal dari persepsi bahwa hidup orang lain lebih baik dan lebih menyenangkan dibanding kita. Hal ini ditandai dengan keinginan untuk tetap terhubung dengan apa saja yang orang lain lakukan atau miliki dan ketakutan bahwa memutuskan untuk tidak berpartisipasi adalah pilihan yang salah. Mulai dari takut karena tidak membeli barang yang sedang populer hingga perasaan khawatir tentang studi dan karir.

FOMO semakin menjadi-jadi salah satunya adalah karena penggunaan social media yang berlebihan. Arus informasi yang begitu deras membuat kita menjadi kalang kabut dengan list pencapaian yang didasari dari pencapaian orang lain. Kalo dulu kita membandingkan diri dengan teman2 yg dikenal, skrg kita membandingkan diri dengan ratusan hingga ribuan orang yang lalu lalang di media social kita. Yang kadang terabaikan adalah bahwa social media memang tempat ajang pamer, social media hanya menampilkan sisi terbaik dari seseorang. Alhasil kita disibukkan dengan berbagai hal yang sebenarnya bukan merupakan kebutuhan kita, hal tersebut mengaburkan kita dengan standar pencapaian dan tujuan pribadi yang sebenarnya.

Efeknya, seseorang bisa merasa stress, khawatir berlebihan, memiliki citra diri yang buruk hingga membuat keputusan-keputusan yang merugikan.  Misalnya tren Bitcoin yang sedang menjamur belakangan, banyak yang  mengikuti tanpa benar-benar mempelajari dan memahami cara kerja Bitcoin, beberapa sampai rela  berhutang dan mengorbankan aset, dan ketika nilai bitcoin anjlok, mereka tidak hanya kehilangan aset tapi juga kehilangan relasi.

UC Library memiliki beberapa tips agar UC People dapat mengenali dan mengelola FOMO agar tidak berdampak buruk pada kebahagiaan kita

  1. Find inward

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah dengan menyadari bahwa FOMO bukanlah pola pikir yang membangun. Selanjutnya adalah dengan mengenali diri sendiri lebih dalam dan belajar untuk menghargai proses yang diri ini sudah jalani. Terkadang gemerlap social media membuat kita merasa kecil, seolah menutupi seluruh pencapaian yang kita sudah dapatkan. Nah ini waktunya untuk kamu melihat kedalam dan melihat bahwa dirimu juga berharga.  Jika perlu, kurangi penggunaan social media. Misalnya dengan menjadwalkan penggunaan instagram maksimal 45 menit setiap harinya.

 

  1. Count what you have now

Kadang rasanya memang rumput tetangga selalu lebih hijau ya, sampai-sampai kita lupa kalo ada bunga yang sedang tumbuh tepat dibawah kaki kita. Mungkin sebenarnya diri kita sudah berjalan jauh, hanya saja kita membandingkan diri kita dengan orang lain dengan mengabaikan banyak faktor yang ada. Kesuksesan orang lain bisa jadi hanyalah pucuk gunung es dari banyak hal yang terjadi dalam diri mereka. Kita perlu memahami bahwa setiap orang memulai dari titik yang berbeda dan setiap orang memiliki pergumulannya masing-masing.

Jadi alih-alih menghitung hal-hal yang tidak kita miliki, kita perlu belajar mensyukuri apa yang saat sudah ini kita miliki

 

  1. Needs vs Want

Di dunia yang serba cepat dan serba ada ini rasanya banyak sekali yang harus kita kejar dan dapatkan. Tapi dari semuanya itu mana sih yang sebenernya kita perlukan? Kita perlu mengkotak-kotakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) terleih dahulu. Jangan sampai yangg kita lakukan hanyalah sifat impulsif kita karena takut ketinggalan. Perlu sedikit riset sebelum mengambil keputusan. Misalnya, jika kalian FOMO dengan gadget terbaru, pastikan terlebih dahulu apakah gadget tersebut kebutuhan atau hanya keinginan. Selanjutnya, riset dulu kemampuan finansialmu dan pastikan bahwa spec barang sesuai untuk dirimu. Tujuannya adalah agar keputusan yang kita buat tidak merugikan kita secara mental dan material.

 

  1. Be Willing to Not Have It All

Saran diatas bukan berarti discourage kamu untuk terus mendapatkan banyak hal ya. Tapi untuk mengembalikan fokusmu kepada hal yang lebih penting dan bermakna untuk dirimu. Jika saat ini kamu dalam proses membangun bisnis, maka self-worth kamu tidak akan berkurang kalau kamu tidak bekerja di perusahaan besar tempat temanmu bekerja. Terima fakta bahwa kamu tidak perlu memiliki semua hal untuk bisa berharga. Memutuskan untuk memprioritaskan sesuatu butuh untuk merelakan opsi lain. Buatlah goal personalmu, teruslah bekerja keras, tekuni hobimu, perlahan namun pasti apa yang kamu impikan akan tercapai.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.