Tim Dosen Universitas Ciputra Blusukan Latih Bisnis Online di Papua_Ajarkan Bikin Foto Mahal tanpa ke Studio. Jawa Pos. 17 Juni 2021. Hal. 13,19. FPD

Tim dosen Prodi Fashion Product Design & Business Universitas Ciputra punya agenda blusukan untuk mengajar.  Tak hanya di Pulau Jawa, tapi kini mereka juga menginjakkan kaki di Papua.  Misinya adalah untuk mengajak UMKM hidup di tengah pandemi.

HAMPIR 24 jam perjalanan dicapai Fabio Ricardo Toreh dan Yoanita Tahalele dari Surabaya ke Biak, Papua.  Perjalanan di tengah pandemi membuat pesawat menuju Biak harus berhenti di dua kota lainnya, Jakarta dan Makassar.  Kunjungan tersebut bisa dibilang nekat.

“Memang orang Surabaya sih ya, jadi kami beneran di bilang bondo nekat alias bonek karena mau datang ke sana,” ucap Ita, sapaan Yoanita.

Pujian bonek itu muncul dari Pemda Biak.  Konon permintaan kerja sama dengan pihak lain banyak dihelat secara berani. Hanya mereka yang berani datang langsung untuk mengajar.

Ita dan Fabio punya misi memperkenalkan bisnis berani kepada perempuan di Biak.  Banyak ibu sejak pandemi terjadi.  Kegiatan mereka akhirnya terbatas dan produk  mereka kehilangan penghasilan,” ucap Fabio. meski masih secara berani. setidaknya ada 30 peserta yang ikut mereka dan ibu yang kehilangan pendapatan mereka tak bisa terjual. “Karena semua jual secara offline, Melalui blusukan itu, harapannya  mereka bisa kembali.

“Terharu, sampai sekarang mereka semua aktif. Belum ada yang protol,” tutur  Ita.

Meski sudah bertahun-tahun memiliki ketplace atau media sosial untuk berjualan.  Ada sih yang doyan Facebookan, tapi tahu Tokopedia atau Instagram,” ucap salah seorang peserta. Saat dia mulai Instagram utama, anaknya sontak menggoda. “Akhirnya  ponsel, peserta belum mengetahui pemasaran iseng utama.

“Saya sering diolokinanaksaya, mamamana Ita dan Fabio berangkat dari penjelasan peserta benar-benar tak terbayangkan seperti apa jual beli online. Dilanjutkan bagaimana mengelolanya, tombol apa yang harus ditekan, dan apa saja yangharus dilakukan sehari-hari.        Sedetail itu mereka tahu teknologi juga nihh  , mama,” katanya.  sederhana soal berjualan secara online.  harus mendampingi ibu-ibu di Biak.

Salah satu momen yang menantang adalah menciptakan foto produkterbaik.  Sebelumnya, mereka hanya asal memfoto produk yang .  Kadang-kadang latar belakang dapur yang masih berantakan.  Produknya jadi tidak mencolok.  Padahal, semakin menarik foto, calon pembeli semakin yakin.  “Kami harus pakai bahan minimalis yang gampang. Pakai kardus bekas saja,” ucap Fabio.  Kardus tersebut disulap jadi studio mini dengan dilapisi kertas manila polos.  Voila!  Produk yang diletakkan di tengah kardus itu jadi tampak menarik sekali di kamera.

“Kita juga belajar menggunakan ponsel mereka. Karena itu alat yang bakal dipakai peserta seterusnya kan,” sambung pria asal Surabaya itu.  Trik menghilangkan bayangan, penerangan dengan lampu, serta penataan produk dalam satu kali pertemuan.  Peserta jadi pencapaian sendiri.  Ternyata, membuat foto bagus tidak perlu sewa fotografer mahal, nih bagaimana biar rapi dengan aksesoris,” ucapita. Sentuhan bunga-bungaan dijadikan sebagai aksesoris simpel. Gunakan saja apa perlu beli hiasan ini-itu aplikasi untuk foto. produk pas yang dipakai jadi profil Wa ucap Kaprodi Fashion Product Design & Business UC tersebut. Tak hanya pelatihan, bertemu juga dengan peserta hingga akhir tahun. di rumah sendiri juga bisa.

“Ada produk cobek.  Kita belajar menata pun yang ada di sekitar sebagai aksen.  Tak “Bahkan saking happynya, banyak foto Marini Yunita, koordinator program, mengatakan bahwa kunjungan ke Biak menjadi pengalaman yang paling berkesan.” Selama ini masih di Jawa.  Begitu ada tawaran ke  Pendampingan dilakukan untuk melihat efektifitas bisnis online dengan masuk peserta di tengah pandemi. (*/c6/  git)

 

Sumber: Jawa Pos. 17 Juni 2021. Hal. 13,19.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *