Tiga Tahun Museum Mini di Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya_Ada 12 Koleksi Panji dari Gubuk Wayang. Surya. 8 Agustus 2020. Hal.1,15

Perpustakaan memang identik dengan buku. Namun diera digitat kini perpustakaan dituntut untuk dapat berkembang menjadi sebuah tempat belajar, referensi, bahkan penelitian.

             HAL itu dibuktikan dengari komitmen yang diberikan Pusat Kajian Warisan Budaya Kreatif atau Center for Creative Heritage Studies (CCHS) yang telah mengubah wajah perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya menjadi museum sejak 3 tahun lalu.

Setiap tahun museum ini memiliki tema yang berbeda. Di tahun ketiga kali ini mengusung tema Tranformasi Budaya Panji dengan menampilkan 12 koleksi Panji yang berasal dari Museum Gubuk Wayang, Mojokerto, Jawa Timur.

Deretan kotak kaca berisi terakota beragam bentuk diletakkan di Lantai 2 Universitas Ciputra Surabaya, tepatnya di dalam perpustakaan sebelum masuk ke ruang buku.

Tiap kotak kaca mewakili kelompok khusus. Misalnya, salah satu kotak kaca menampilkan patung kepale perempuan dengan beragarr aksesori yang dikenakan. Hal tersebut mengandung makna arti keberagaman.

Pejabat sementara (Pjs) Kepala Biro Perpustakaan Yehuda Abiel mengatakan diera digital perpustakaan harus menjadi tempat yang komplit. “Kami berusaha agar perpustakaan tidak hanya sebagai tempat belajar sesuatu dari buku tapi juga dapat menjadi media penelitian, referensi, dan memberi inspirasi kepada mahasiswa agar dapat memberikan solusi dari masalah yangterjadi diluar,” kata Yehuda 
kepada Surya, Jumat (7/8).

“Kami juga memiliki banyak koleksi buku berkaitan dengan Majapahit, namun ketika dihadirkan benda seperti ini, pengunjung pasti lebih tertarik,” imbuhnya.

Kepala Center for Creative Heritage Stidies Michael N Kurniawan mengatakan panji digunakan Majapahit untuk menjadi cerita pemersatu. “Kisah-kisah Panji dihidupkan Majapahit untuk mempromosikan karakter baik seperti rasa setia dan teladan lainnya,” ungkapnya.

Mengingat, Indonesia beberapa tahun terakhir sedang aktif dalam menggali budaya panji untuk masa kini. ”Kami berusaha untuk membantu mahasiswa menciptakan budaya baru dengan mengangkat dari cerita budaya panji, karena itu kami menyediakan artefakartefak yang menceritakan tentang kehidupan di masa Majapahit,” ujar pria yang juga sebagai kurator museum mini ini.

“Sehingga mahasiswa tidak hanya menciptakan kreasi baru dengan basis sejarah, seperti komik atau cerita anak dengan sisipan sejarah,” katanya.

Terdapat pula dua kotak kaca yang tergolong sebagai kelompok benda terlihat seperti miniatur rumah, potongan genting, dan ukir-ukiran. “Ini tentu dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa jurusan desain interior,” pungkasnya. (mohairunad zainal arif)

 

            Sumber: Surya. 8 Agustus 2020. Hal, 15

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *