Teguh Wibowo. Taman Keabadian Edelweis. Kompas. 17 Juni 2021. Hal.16

Sejak tiga tahun lalu, Teguh Wibowo (37) bersama Kelompok Tani Hulun Hyang di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mengembangkan edelweis secara eksitu. Tiga tujuan dicapai sekaligus, yakni konservasi alam, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.

Telepon dari Kompas, Minggu (13/6/2021) pagi, hanya dijawab sebentar oleh Teguh. Pasalnya, ia tengah bersiap menyambut pengunjung taman edelweis yang biasanya meningkat pada akhir pekan. Lelaki berperawakan kurus itu berjanji akan mengobrol selepas kesibukannya mereda.

Benar saja, sepanjang hari itu, ada 150 an wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Edelweis di Desa Wonokitri. Sebagian besar anak muda yang berasal dari daerah di sekitar Pasuruan.

Hanya dengan membayar tiket Rp 10.000 sampai Rp 25.000 untuk paket edukasi, mereka bisa menikmati desa wisata berupa kebun edelweis seluas 1.196 meter persegi yang berada di sisi barat utara Gunung Bromo. Di tengah udara segar pegunungan, wisatawan bisa belajar menanam, memetik, hingga merangkai cendera mata berbahan bunga unik itu.

Sejak Taman Edelweis lahir, suasana di Desa Wonokitri terasa lebih hidup. Warung-warung milik warga bermunculan. Warga juga mendapat pemasukan dari parkir kendaraan. Meski baru seumur jagung, rupanya taman edelweis yang diklaim sebagai yang pertama di Indonesia itu mulai memberikan manfaat.

Edelweis sendiri memiliki makna khusus bagi warga. Masyarakat Tengger yang mendiami kawasan penyangga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) meng anggap edelweis sebagai bunga sakral. Mereka menyertakan edelweis dalam rangkaian sesaji dengan maksud sebagai lambang keabadian leluhur.

Masyarakat Tengger tersebar di dataran tinggi di Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Malang, dan Lumajang. Mereka dikenal masih memegang teguh adat istiadat. “Orang Tengger, termasuk di Wonokitri, tidak bisa lepas dari edelweis. Bunga itu tidak tergantikan oleh yang lain. Edelweis selalu menyertai setiap ritual, menjadi media sesaji setiap aktivitas budaya, seperti hari raya Karo, Kasada, serta selamatan tanah dan air,” tutur Teguh.

Selama ini edelweis dikenal sebagai bunga abadi karena sifatnya yang tahan lama. Orang Tengger mengenalnya sebagai tana layu. Dalam bahasa Sanskerta, tan artinya tidak, layu berarti layu.

Semakin jauh

Tingginya kebutuhan akan edelweis membuat keberadaannya di alam semakin menjauh. Teguh menceritakan, jika sebelumnya edelweis bisa ditemukan pada radius sekitar 1 kilometer dari permukiman, kini dibutuhkan lebih banyak langkah untuk mendapatkannya. Belum lagi bencana tidak terduga, seperti kebakaran lahan saat kemarau, berpotensi merusak edelweis dan flora khas Bromo Tengger Semeru lainnya.

Di ketinggian 1.900 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara 16-23 derajat celsius inilah Ke lompok Tani Hulun Hyang di bawah pimpinan Teguh mengembangkan edelweis menjadi sebuah taman. Kegiatan ini juga tidak terlepas dari peran Balai Besar (BB) TNBTS selaku inisiator.

Cerita kegiatan konservasi ini berawal pada 2017. Kala itu, ada percobaan penanaman edelweis di Wonokitri yang sekaligus menjadi program Desa Edelweis oleh BBTNBTS. Ada tujuh warga yang terlibat, salah satunya Teguh. Kala itu, Kelompok Tani Hulun Hyang belum terbentuk.

Sebelumnya, pihak BBTNBTS telah berhasil membudidayakan edelweis dengan sistem biji. “Awal nya tidak banyak. Benih berasal dari BBTNBTS. Hanya dikembangkan di halaman Mushala Syariah Mandiri yang kemudian diresmikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. Saat ini, jumlah tanaman mencapai 1.200 an batang,” tuturnya.

Pada November 2018, Taman Edelweis dibuka untuk wisata. Ada tiga jenis edelweis yang dikembangkan di taman itu, yakni Anaphalis javanica, Anaphalis longifolia, dan Anaphalis viscida. Apa yang dikembangkan di Wonokitri sesuai dengan jenis edelweis yang ada di dalam kawasan taman nasional. Dalam perkembangannya, pihak perbankan juga ikut ambil bagian dalam pengembangan taman ini.

Mengembangkan edelweis, menurut Teguh, tidak terlalu sulit karena lokasinya berada di ketinggian dan kondisi alamnya mendukung. Kendalanya justru ada pada sumber daya manusia, yakni bagaimana mengubah pola pikir masyarakat yang semula tinggal memetik di alam bebas kemudian diberdayakan untuk menanam sendiri.

Tak jarang, di masa-masa awal keberadaan taman edelweis, nada miring dari sesama warga terlontar. “Pro dan kontra pasti ada. Sudah jadi makanan sehari-hari. Asalkan tujuan kita baik. Kepada anggota kelompok saya tekankan, tidak usah takut selama tujuan kita baik, namanya orang suka tidak suka itu pasti ada. Yang penting kita tunjukkan, mulai dari diri kita sendiri,” katanya.

Sosialisasi pun terus diupayakan, baik oleh pihak taman nasional maupun Teguh bersama kelompok tani yang beranggotakan 26 orang. “Masalah sebenarnya bukan pada wisatawan yang memetik di alam. Hukum pasar, ketika ada permintaan (dari wisatawan), ada yang menyuplai. Termasuk kerabat kita sendiri, masih ada yang meng ambil edelweis liar untuk dijual,” ujar Teguh.

Oleh karena itu, menurut Teguh, yang pernah mendapat penghargaan terkait upaya pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2020, ke depan orang-orang yang masih mengambil edelweis liar untuk dijual ini akan menjadi target.

Mereka akan diarahkan untuk bisa ikut serta membudidayakan edelweis. Di luar Kelompok Tani Hulun Hyang, saat ini sebenarnya sudah ada warga yang ikut-ikutan menanam, baik itu di pekarangan maupun di sela-sela kebun.

Selain masalah sumber daya manusia, hal lain yang menjadi kendala untuk pengembangan edelweis dalam skala besar, menurut Teguh, berkaitan dengan lahan. Sebagian besar tanah di kawasan itu merupakan lahan produktif yang biasa ditanami komoditas pertanian oleh warga. Seperti diketahui, sebagian besar warga Wonokitri merupakan petani.

“Ke depan, arah pengembangan edelweis ke agrowisata, taman edelweis sebagai sentra. Jadi, kita tidak mengubah pekerjaan warga. Namun, bagaimana warga bisa mendapat nilai tambah dari edelweis selain bertanian sich. Karena mengubah orang dari biasanya bertani untuk menekuni yang lain susah,” papar Teguh.

Konsep Desa Edelweis sendiri menjadi salah satu turunan program konservasi tumbuhan di TNBTS yang dikemas dalam wujud pemberdayaan masyarakat penyangga kawasan. Selain Wonokitri, ada Desa Ngadisari, di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, yang juga mengembangkan edelweis.

pengembangan edelweis di luar kawasan konservasi menunjukkan manfaat, baik dalam rangka menyediakan bahan untuk kepentingan budaya, memberikan peluang ekonomi bagi warga, maupun konservasi terhadap tanaman yang dilindungi undang-undang.

 

sumber: Kompas. 17 Juni 2021. Hal.16

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *