Tantangan Anak muda Indonesia. Surya. 13 Oktober 2018.Hal.16. Febe Yuanita Ratna Indudewi_Entrepreneurship Program Coordinator Universitas Ciputra

News Analysis : Febe Yuanita Ratna Indudewi (Entrepreneurship Program Coordinator Universitas Ciputra)

 

KETIKA revolusi industri 4.0 memasuki tahun ke tujuh, Indonesia sudah memiliki empat startup digital yang mendapatkan pendanaan Internasional lebih dari 1 miliar dolas AS. Starup pertama yang menarik investor internasional menanamkan investasinya adalah Go-Jek.

Start up berstatus “Unicorn” pertama di Indonesia ini memboyong konsep “On Demand Services” yang ada di luar negeri, dan mengadaptasikan fitur-fitur jasanya sesuai kebutuhan pasar di Indonesia.

Di peringkat kedua, Tokopedia, bergerak di bidang e-commerce yang berhasil memenangkan kepercayaan Alibaba dan meningkatkan nilai perusahaan secara keseluruhan. Traveloka menyusul Tokopedia sebagai “Unicorn” tercepat, memperoleh kepercayaan investor lokal dan internasional di bidang perjalanan dan pariwisata.

E-commerce lainnya yang menjejakkan langkahnya sebagai “Unicorn” ke empat di Indonesia adalah Bukalapak. Belajar dari keempat “Unicorn” tersebut, startup digital Indonesia sesungguhnya tengah membuat investor-investor dunia melirik tajam kepada kemampuan “Techpreneur” Indonesia.

Jumlah investasi startup Indonesia hanya sedikit di bawah Singapura, dan jauh di atas beberapa negara lain di Asia Tenggara. Beberapa startup digital Indonesia juga berkiprah memenangkan kompetisi internasional seperti E-Fishery yang mendapatkan juara pertama dalam kompetisi Get In The Ring yang diadakan Global Entrepreneur Week bekerjasama dengan Kauffman Foundation pada 2015.

Tentu saja masih banyak lagi lainnya yang mendapat apresiasi, pendanaan, dan liputan di media massa internasional seperi HijUp, PicMix, Kaskus, Kitab, dan lain-lain. Startup digital di Indonesia menjadi sebuah fenomena, sejalan dengan ambisi pemerintah mencanangkan gerakan startup digital dan target 1.000 starup digital pada 2020.

Start Up digital sesungguhnya adalah suatu keunikan yang dimulai dari mentalitas pendirinya, yang ingin memberikan solusi atas permasalahan mendasar dalam skala besar. Kemampuan mengenali akar permasalahan dari gejala-gejala yang tampak dari suatu komunitas dalam skala besar menjadi suatu esensi kunci untuk mengawali sebuah start up digital yang berhasil.

Permasalah mendasar yang ingin diselesaikan Go-Jek diawali hanya dari sebuah gejala dipermukaan mengenai kemacetan di ibu kota, dan pengangguran di kota-kota besar. Nadiem Makarim sebagai pendiri Go-Jek, tentu saja memiliki kejelian menghubungkan permasalahan kemacetan dengan banyaknya orang yang memilih menggunakan jasa ojek sepeda motor untuk melakukan perjalanan dengna lebih cepat, dan dengan harga yang terjangkau.

Permasalahan tersebut membawa Nadiem bahwa segmen pasar itu tidak memiliki akses yang cepat terhadap keberadaan tukang ojek yang ada. Belum lagi masalah keamanan baik dari sisi tukang ojek maupun konsumen, dan tarif yang berbeda-beda. Antar pengguna ojek.

Konsep “On Demand Service” kemudian diperkenalkan Go-Jek pertama kalinya dalam balutan teknologi sederhana yaitu melalui panggilan telepon. Nadiem mengemas suatu model bisnis yang memberikan solusi atas keterbatasan akses menemukan tukang ojek dan sekaligus membuka pintu rezeki bagi banyak tukang ojek.

Dari cerita ini, kita bisa melihat bahwa pasar dengan sendirinya akan mencari dan menggunakan produk atau jasa start up yang memang membawa pengaruh signifikan dalam kehidupan mereka.

Tidak hanya dari sisi pengguna ojek, tetapi juga tukang ojek itu sendiri menjadi pasar dalam skala besar yang saling membutuhkan.

Hal yang sama dapat kita lihat pada Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak yang menghubungkan pembali dan penjual. Membuka akses selebar-lebarnya bagi dua pihak yang saling membutuhkan dengan cara yang lebih praktis dan terjangkau karena melibatkan kemajuan teknologi. Efisiensi biaya, waktu, dan aset-aset tetap menjadi bentuk digital membuat banyak pihak lebih dapat menjangkau akses tersebut, baik secara harga maupun ketersediaan.

Fokus startup kepada pengalaman dan kemudahan pelanggan yang terus diperbaiki secara kreatif dan inovatif, membuat pemasaran viral secara online dan offline menjadi sangat efektif. Para pendiri starup harus selalu ingat bahwa solusi awal yang mereka tawarkan mungkin tidak selalu mendapatkan tanggapan positif. Justru dari tanggapan-tanggapan yang tidak positif tersebut, seorang pendiri startup akan mendapatkan banyak masukan yang berharga untuk mengembangkan model bisnisnya. Bermula dari penggunaan teknologi sederhana, Go-Jek tidak pernah berhenti mengembangkan teknologi dan jasa yang ditawarkan.

Setiap pengembangan ke area yang baru, Go-Jek mempelajari karakteristik pengguna potensialnya. Yang semula hanya menawarkan jasa ojek di ibu kota, menjadi asa antar degan menggunakan mobil untuk daerah-daerah yang tidak terbiasa dengan budaya ojek.

Gojek pun menambahkan berbagai fitur “On Demand Services” lainnya, bahkan merambah fintech. Semakin besar jumlah pengguna yang merasakan manfaat fitur jasa yang ditawarkan, semakin besar kepercayaan konsumen dan investor terhadap startup tersebut. (iit/fla)

Sumber : Surya.13-Oktober-2018.Hal.16

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *