Taman Tidak Selalu Tanaman. Harian Dis Way. 30 Desember 2020. Freddy H. I

Oleh Freddy H. Istanto (Dosen Arsitektur-Interior Fakultas Indusiri Kreatif Universitas Ciputra)

 

KATA taman memang selalu diidentikkan dengan tanaman. Dan itu betul sekali. Padahal Taman yang baik merupakan perpaduan antara elemen alami (ciptaan Tuhan) dan elemen non-alami (buatan manusia). Kalau berdasarkan kesan, ada elemen lunak (soft-material). Elemen ini bisa berupa lanaman itu sendiri, air, juga satwa. Lalu ada yang membagi menjadi elemen keras (harri-material), seperti bahan-bahan keras untuk lantai, pagar, patung, pergola, bangku taman, kolam dan lampu taman.

Meskipun banyak yang menganggap elemen man-made itu sebagai pelengkap taman. Kehadirannya sangat penting. Tidak hanya untuk fungsi estelika, tetapi juga punya fungsi strategis dan fungsi kegunaan. Sebagai contoh untuk jalan setapak di taman, dibutuhkan lidak hanya untuk lungsi. Tetapi bisa didesain secara estetis.

Material bisa yang alami (dari bambu, kayu, batu alarn). Tetapi bisa juga keramik, paving, beton, dan batu bata. Tidak selamanya tanarnan ditanam di hamparan tanah yang ada. Pot-pot atau wadah tanaman bisa rnempercantik taman. Sekaligus punya fungsi untuk lanamanlanarnan tertentu yang hidupnya dibalasi dalam sebuah vvadah. Bahan bisa rnulai plastik, cor-coran beton, terakota, bambu, bahkan dari kayu.

Air mancur, air terjun tidak hanya menawarkan keindahan visual saja, tetapi sekaligus gemercik suaranya, rnenenterarnkan jiwa. Apalagi kalau ada ikan hias dan fauna lainnya (kura-kura, kodok) di sana. Kehadiran fauna-fauna eksotik zarnan now bisa melengkapi keindahan sebuah taman menjadi menyenangkan (iguana dll).

Burung-burung akan menyumbangkan suaranya, memperkaya taman itu berasa nirwana. Desain sangkar, kolam haruslah unite (rnenyatu) dengan desain laman secara keseluruhan. Tarrtangan menarik apabila fauna-fauna datang sendiri ke laman kita. Satwasatwa yang bergantian datang dan pergi akan menyemarakkan suasana taman. Burung-burung datang untuk minum atau makan (disediakan), kodok rnelantunkan nyanyiannya, kupu-kupu beterbangan ke sana-kemari. Surga dunia berasa di taman kita.

Unsur desain yang lain adalah dinding. Dinding taman boleh dibiarkan polos ada adanya, tetapi memperkaya dengan bebatuan alam, kayu, bambu, bahkan mural bisa membuat kesan estetik taman itu. Karya-karya seni berupa lukisan, pahatan, ukiran punya hak untuk menambah cantik suasana laman.

Untuk larnan yang cukup luas, Gasebo bisa menjadi tempat ngopi atau santai keluarga. Bahan bisa bermacam-macam tergantung kebutuhan dan selera. Yang berkesan tradisional bisa rnengambil desain Bale Bengong Bali, bergaya arsitektur Jawa, pergola klasik Yunani atau gaya Jepang dan China. Yang berbahan ringan dan di lahan sempit, bisa tampil dengan bahan tenda berupa tritisan. Yang sangat modern minimalis bisa berbahan kaca.

Pencahayaan alami itu yang sangat murah meriah dan indah. Tentu saat malarn hari, pencahayaan buatan lidak bisa dihindari. Pencahayaan mernang tergantungkonsep dan keinginan. Ada yang suka suasana tarnan yang temaram. Ada yang membutuhkan penyinaran spot fokus pada objek-objek tertentu (tanaman, air mancur, kolam, patung).

Selain fungsi pencahayaan, armatur lampu sekarang desainnya juga banyak yang menarik. Desain-desain itu bisa bernapaskan tradisional/elnik maupun yang modern minimalis atau yang didesain sendiri. Armatur juga bisa dilengkapi dengan perangkat kecerdasan artificial.

Benda-benda seni tentu menjadi bagian yang menarik untuk lebih mempercantik sebuah Taman. Patungpatung (manusia, fauna, llora), ornament arsitektur/interior dan karya desain kriya lainnya menjadi bagian penting di dalam konteks estetika sebuah laman.

Warga CitraLand yang memiliki laman atau urban larming bisa mengikuli Garden & Urban Farming Competition yang diadakan Harian Disway, CitraLand Surabaya, dan Universitas Ciputra. masih dibuka. Ada hadiah jutaan rupiah dan jalan-jalan ke Singapura. Informasi mengenai lomba bisa mendaftar melalui website harian.disway.id atau menghubungi panitia di 081222808035, (*)

 

Sumber: Harian Dis Way. 30 Desember 2020

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *