Syanaz Nadya Winanto Putri. Perempuan yang Bergaya dan Berdaya. Kompas. 15 Juni 2021. Hal.16

Bagi Syanaz Nadya Winanto Putri (45), perjalanannya dengan Rorokenes bukan sekadar pembuktian bahwa produk mode lokal bisa bersaing dan diakui kualitasnya di tingkat internasional. Namun, di balik itu tersimpan visi bahwa perempuan harus berdaya dan memberdayakan sesamanya.

Perjalanan Sanya, begitu dia disapa dengan jenama Rorokenes yang punya arti ‘seorang putri yang aktif, cerdas, dan memiliki kesadaran sosial’, dimulai pada 2014. Dengan setengah bercanda, ia mengatakan, saat itu ia naksir berat tas-tas Bottega Veneta asal Italia yang memiliki ciri khas anyaman kulit. “Tetapi, saya tidak mampu beli karena harga satuannya puluhan juta dan suami juga tidak mau membelikan, ha-ha-ha,” (11/6/2021). katanya, Jumat

Dia juga melihat produk tiruan Bottega Veneta itu banyak beredar di pasaran dengan harga yang tak bisa dibilang murah. “Rata-rata produk KW-nya buatan China atau Korea. Harganya yang berkualitas bagus sudah Rp 1,5 juta ke atas,” ujarnya.

Saat ia menceritakan kegalauannya itu kepada ayahnya yang seorang pengusaha, Djoko Moerwienanto, ayahnya justru balik menantangnya. “Katanya kalau cuma beli gampang, yang susah bikin. Sekarang kamu bisa beli saja atau bisa bikin sendiri dan dengan bangga bisa berdiri tegak memakainya di lautan merek-merek terkenal itu,” tutur Sanya menirukan kalimat ayahnya.

Tantangan itu melecut alumnus Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, ini. Ia pun memulai perjalanannya dengan modal Rp 35 juta pinjaman dari suaminya. Sebagian modal ia belikan satu produk tiruan Bottega Veneta berkualitas baik, sebuah handle bag seharga Rp 2 juta. Produk tiruan itu ia bongkar dan pelajari cara pembuatannya.

la meriset produsen bahan-bahan kulit berkualitas dan mulai mencari tenaga kerja yang bisa membuat kerajinan kulit bermutu bagus. Akhirnya ia mendapat tiga pekerja (yang ia sebut artisan) penjahit dan tiga penganyam ditambah satu orang pembantu. Ia bertekad membuat tas anyaman kulit karena menurut dia anyaman adalah salah satu produk khas Nusantara yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

“Anyaman ini sangat Indonesia, tetapi mengapa setiap bicara produk anyaman kulit, ingatnya ke Bottega Veneta?” tukasnya.

Produk-produk perdananya ia luncurkan pada acara Semarang Great Sale tahun 2014. Sebanyak 30 tas buatannya terjual habis kala itu. Sukses di Semarang, langsung ia lanjutkan dengan mengikuti pameran kerajinan Craftina di Jakarta pada tahun yang sama. “Ini untuk membuktikan apakah produk saya bisa bersaing head to head dengan produsen level nasional dan bisa diterima pasar Jakarta. Kalau berhasil di Jakarta, saya akan berhasil di mana saja. Ternyata produk saya terjual habis,” ucap Sanya.

la mengenang periode 2014-2016 adalah periode saat dia mencari bentuk. Sanya mende sain sendiri produk-produk buatannya sambil terus mengasah pengetahuannya soal desain. Meski dia sangat menyukai desain-desain Bottega Veneta, produk-produknya bukan jiplakan dari merek Italia itu.

Produk Rorokenes yang menggunakan 100 persen kulit asli dan 85 persen materialnya berasal dari dalam negeri makin dikenal. Periode 2017-2019, Rorokenes sudah mengikuti berbagai pameran di luar negeri, mulai China, Slovenia, Austria, Inggris, Jepang, hingga Rusia. Rorokenes juga melayani pembelian bebas ongkos kirim ke Singapura, Malaysia, Thailand, dan Hong Kong.

Laboratorium idealisme

Sukses dikenal orang dan majunya penjualan bukan satu-satunya tujuan Rorokenes. Sanya berpikir bagaimana keuntungan dari bisnisnya bisa memberikan dampak sosial dan menjadi platform untuk menyuarakan isu-isu yang ia perjuangkan, yakni kesetaraan jender. Rorokenes, lanjut dia, menjadi laboratorium untuk berbagai idealismenya. “Saya perempuan. Pengguna produk Rorokenes 80 persen juga perempuan. Kini, saatnya perempuan saling mendukung, saling melindungi, saling mengedukasi terkait kesetaraan jender,” ungkap Sanya yang memiliki kepedulian khusus pada kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan pelecehan seksual.

Sanya menjalin kerjasama dengan Pundi Perempuan Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (YSIK) dan Komnas Perempuan. Sebagian keuntungan Rorokenes ia sumbangkan ke Pundi Perempuan. Selain itu, ia juga menyelipkan brosur Pundi Perempuan dalam setiap produk nya. Brosur ini berisi definisi KDRT, pelecehan seksual, dan dimana para korban bisa mencari pertolongan.

Peraturan perusahaan berkesadaran jender juga ia terapkan di Rorokenes. Pegawai perempuan, misalnya, bisa mendapatkan cuti datang bulan. Sementara pekerja laki-laki mendapat hak cuti melahirkan hingga lima hari saat istri nya melahirkan.

Bekerja sama dengan Kadin Semarang dan Baznas Semarang, sejak 2019 Rorokenes memberikan pelatihan menganyam kulit dan literasi keuangan kepada para ibu dari anak-anak penderita kelumpuhan otak (cerebral palsy) akut. “Anak-anak itu tidak bisa ditinggal ibunya sehingga ibunya tidak bisa bekerja dan produktif. Mereka menjadi sangat bergantung kepada suami dan self esteemnya turun drastis. Dengan pelatihan ini, kami bertujuan membuat mereka punya self esteem lagi dan mendapat uang untuk membantu perekonomian keluarga,” tutur Sanya.

Dari segi lingkungan, Rorokenes menetapkan syarat ketat saat mencari pemasok kulit. Pemasok tersebut harus memiliki SNI, ISO pengolahan limbah, dan lolos SGS test report untuk memastikan bahan kimia yang digunakan tidak berbahaya bagi manusia. Selain itu, Sanya menetapkan material sisa yang dibuang dari lini produksinya kurang dari 5 persen.

 

Sumber: Kompas. 15 Juni 2021. Hal.16

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *