Syafrizal_Pembela Anak Berkebutuhan Khusus

Tidak ada manusia ingin terlahir cacat. Ketika ditakdirkan cacat, tidak sedikit orang menganggapnya sebagai aib. Tatkala kecacatan dianggap beban. Syafrizal hadir menjadi pembela. Kegigihannya mengajar anak-anak berkebutuhan khusus diakoninya meski tidak jarang ia tidak mendapat dukungan dari keluarga mereka sendiri (Syahnan Rangkuti).

Janji bertemu dengan Syafrizal di Pulau Rangsang, pulau terluar di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, Sabtu (13/1) pagi, ternyata tidak mudah. Jalan di tengah pulau itu memiliki banyak percabangan dan tidak memiliki petunjuk arah. Rumah-rumah penduduk berjauhan. Setelah beberapa kali tersesat dan bertanya, akhirnya kami bertemu juga dengan laki-laki berperawakan tegap itu di persimpangan dekat Gedung SMP Negeri Rangsang Barat.

Syafrizal, Kepala Sekolah Luar Biasa Sekolah Meranti, Desa Anak Setatah, Kecamatan Rangsang Barat, itu berada di atas sepeda motor bebek yang menggandeng gerobak kayu berukuran 60 x 200 cm. Di atas sarana transportasi darurat itu ada dua muridnya duduk memakai baju seragam olahraga berwarna hijau-hitam.

Menjemput Murid

Kondisi Syafrizal tampak kurang segar. Di kepalanya menempel dua koyo. Dia mengatakan badannya agak demam dan kepala pusing. Namun, pagi itu dia tetap memaksakan  diri menjemput anak didiknya agar kegiatan belajar di sekolah tetap berjalan. “Ayo kita jalan,” kata Syafrizal mengajak kami menjemput beberapa anak didik lainnya.

Perjalanan menjemput anak didik berkebutuhan khusus di pulau itu bukan pekerjaan ,udah. Gerobak  Syafrizal harus memasuki dusun demi dusun, melewati jalan sempat, rusak dan tergenang air, serta menerobos perkebunan karet keluarga. Sesekali ia harus menepi karena berpapasan dengan sepeda motor lain.

Setelah berjalan lebih dari 20 menit, rombongan sampai di rumah Syahbani (17), murid Syafrizal, penyandang tunagrahita. Namun, Syahbani belum mandi. Setelah menunggu sesaat, Syahbani selesai berpakaian dan langsung naik ke gerobak.

Syafrizal kembali  memacu gerobak menuju rumah Hasan , murid lainnya, yang berjarak sekitar 5 kilometer dari rumah Syahbani. Namun sesampainya di sana, orang tua Hasan mengatakan anknya masih tidur. Hari itu Hasan tidak sekolah. Perjalanan kembali berlanjut ke rumah seorang murid perempuan. Namun, siswa itu sudah diantar orang tuanya.

Di tengah jalan rombongan Syafrizal berpapasan dengan Abdul Subuh (18), seorang kurid penyandang autisme yang mengendarai sepeda. Abdul lalu naik gerobak Bersama sepedanya. Penjemputan murid akhirnya selesai dan Syafrizal bergerak menuju sekolah.

Waktu tempuh Syafrizal untuk menjemput muridnya ke sekolah makan waktu dua jam. Ketika sekolah usia pada sing hari, Syafrizal kembali mengantarkan murid ke rumah masing-masing.

Perjalanan menjemput dan mengantar para murid yang dilakukan Syafrizal terasa sangat berat. Perjalanan diwarnai entakan dan guncangan sepeda motor yang mesti melalui jalan tidak beraspal, berbatu-batu, rusak, dan berlubang. Perut langsung terasa sakit selama perjalanan menjemput atau mengantar para murid yang memakan waktu sekitar 90 menit.

Di desa itu tidak ada transportasi antar jemput itu. Syahrizal mengisi kekosongan transportasi untuk para siswa berkebutuhan khusus tanpa perlu dibayar. Tidak hanya itu, para siswa berkebutuhan khusus itu juga tak perlu membayar untuk sekolah.

“Saya harus menjemput dan mengantar siswa. Karena orangtua siswa tidak sempat. Kalau tidak dijemput, murid saya tidak sekolah,” kata Syafrizal.

SLB Sekar Meranti didirikan oleh Syafrizal Bersama abangnya, Rudi Hartono (48), pada 2013. Awalnya, Rudi yang bekerja sebagai pedagang ikan keliling merasa prihatin melihat banyak anak cacat di lingkungannya. Setelah berdiskusi dengan Syafrizal, yang waktu itu masih menjadi pengepul kelapa dan pinang, dua bersaudara itu bertekad membuka sekolah luar biasa.

Mendirikan Sekolah

Dibantu oleh pamannya, Bachtiar (almarhum). Sekretaris Desa Anak Setatah, sekolah diberi izin menumpang di sebuah madrasah. Syafrizal ditunjuk sebagai kepala sekolah.

Pada tahun pertama, tidak ada murid yang mendaftar. Syafrizal tidak menyerah. Dia mendatangi orangtua anak berkebutuhan khusus dan meminta agar anaknya disekolahkan di SLB Sekar Meranti. Akan tetapi, responsnya lebih bnayak negative.

“Banyak sekali orangtua menolak dengan mengatakan tidak ada guna anaknya sekolah. Ada juga yang mengejek SLB adalah sekolah untuk orang gila. Kami juga dituding gila. Namun, ada juga yang mau menyekolahkan anaknya asalkan gratis dan diantar jemput setiap hari. Itulah, mengapa saya harus menjemput dan mengantar siswa,” kata Syafrizal.

Tahun 2014, siswa SLB Sekar Meranti hanya tiga orang. Pada awal 2016, berbekal dana pribadi dan sumbangan dari berbagai sumber, Syafrizal dan Rudi membangun Gedung sekolah di tanah keluarganya. Bnagunan itu berukuran 6 meter x 12 meter yang seluruhnya terbuat dari kayu, beratap seng, dan berlantai kayu setinggi 40 cm di atas tanah.

Bangunan itu kemudian disekat menjadi empat bilik. Tahun 2017, Komandan Pangkalan TNI AL Dumai menyumbang sebuah ruangan kelas baru. Kelas baru itu bakal dipakai untuk anak murid autis dan ruangan guru. Kini murid Syafrizal sebanyak 40 orang.

Sejak sekolah berdiri, guru yang mengajar di SLB Sekar Meranti berjumlah 18 orang, termasuk Syafrizal. Namun 12 di antaranya sudah mengundurkan diri karena tidak mendapatkan honor. Saat ini, guru, selain Syafrizal, tinggal lima orang, yaitu Lily Purnama Sari, Siti Nur Fadillah, Sewi Kurniati, Siti Zunurul Ain, dan Defira. Semuanya perempuan dan berstatus mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Selat Panjang.

“Semua bekerja sukarela dan awalnya tidak dibayar. Namun, sekarang kami mendapt dana BOS (bantuan operasional sekolah) Rp 275.000 per bulan,” kata Syafrizal.

Kini peran Syafrizal semakin bertambah setelah terpilih menjadi Ketua SOIna Kabupaten Meranti. SOIna adalah olimpiade khusus untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki akar kuat di seluruh dunia. Anak didiknya, Mulyadi (26), menjadi atlet tercepat di Riau dan mendapat medali emas untuk nomor Lari 100 meter. Pada Juni 2018, Mulyadi akan menjadi tumpuan Riau dalam ajang Pekan Olahraga SOIna di Pekanbaru.

Sejauh ini Syafrizal lebih banyak memikirkan murid-muridnya daripada diri sendiri. “Saya memikirkan anak-anak dulu. Masih ada 200 anak berkebutuhan khusus di pulau ini yang belum sekolah. Kalau nanti semuanya lancer, baru saya memikirkan diri sendiri.” katanya.

Syafrizal

Lahir: Anak Setatah, 28 Oktober 1982

Pendidikan

  • SD: Desa Anak Setatah, 1995
  • SMP: Madrasah Tsanawiyah Ayun Bantar, 1998
  • SMA: Paket A tahun 2012
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *