Sukses Berdagang di Media Sosial

Berawal dari praktik terapi depresi, Kania Annisa sukses berbisnis aneka produk yang jual lewat media sosial.

 

Merlinda Riska

Menjadi ibu rumah tangga dengan tugas utama mengurus keluarga bukan halangan untuk sukses berbisnis. Kania Annisa Anggiani sudah membuktikannya. Berawal dari keinginan untuk mengisi waktu luang saat mengurus anak, kini ia sukses berbisnis tanpa mengganggu kewajibannya sebagai ibu.

Saat ini, Kania sukses berjualan aneka pernik perabot rumah. Sebagian besar transaksi lewat daring. Lewat Chic & Darling, kini ibu dua anak itu mampu meraup omzet hampir setengah miliar setiap bulan. Uniknya, bisnis itu dirintis sebagai bagian dari terapi. Awalnya, perempuan kelahiran Jakarta,13 November 1982 mengalami depresi pasca melahirkan (post partum depression). Saat itu, selepas meninggalkan kariernya selama 13 tahun di production house demi kandungannya ia merasakan emosi yang tidak stabil, perasaaan rendah diri, tidak berguna, meratapi nasib dan hidup.

Salah satu bentuk terapi untuk menyembuhkan hal ini adalah dengan membuat prakarya. Awalnya, untuk kebutuhan rumah tangga dan sehari-hari. Ia mengawali dengan membuat taplak meja kecil, pouch, serbet (napkin), dan srung bantal dari perca. Tak disangka, hasil kreasinya itu disukai banyak orang. “Karena dirumah saya itu ada banyak sisa bahan, handai tolan yang datang kerumah minta dibuatkan juga,” katanya. Saat pesanan terus bertambah, ia menjadi lebih percaya diri untuk memasarkannya ke orang luar. Pada tahun 2013,saat sedang ramai media sosial Instagram, Kania mengunggah foto bantal hasil kreasinya. Beberapa bulan kemudian, dia juga membuat laman Chic & Darling.

Kania bilang, usaha ini nyaris tanpa modal. Sebab, dia hanya memakai kain perca dan mesin jahit dari mertua. “modal awal tidak sampai Rp.500.000. paling untuk membeli berbagai perlengkapan menjahit, seperti benang, jarum,ritsleting, dan lain-lain,”paparnya. Sejak membuat akun di Instagram, setiap minggu pesanan bantal terus meningkat. Kania sampai kewalahan. Soalnya,semua dikerjakan seorang diri,mulai dari mendesain,menjahit,menerima pesanan lewat email,SMS,membungkus produk,mengirimkan ke kurir hingga belanja bahan baku. Ia masih harus mengurus rumah dan anaknya yang saat itu masih batita.

Karena itulah , tiga bulan setelah usaha berdiri, Kania mulai menggandeng penjahit langganannya. “Desain, bahan, dan pola tetap dari saya. Sya juga memperkejakan satu pegawai sebagai admin untuk membantu membungkus produk, menjawab email pelanggan, mengantar produk ke kurir” jelasnya. Karena pesanan terus naik, Kania menambah empat karyawan lagi untuk admin, penjahit,dan desain grafis. Meski begitu, ia tetap memilih sendiri bahan baku. “Sambil gendong anak,saya keliling Cipadu atau Mayestik untuk mencari bahan,”ceritanya.

Mulai dari garasi

Awalnya, semua aktivitas bisnis itu digarap di meja makan rumah. Karena kebutuhan tempat lebih luas, Kania merombak garasi sebagai ruang kerja. “Saya siapkan uang Rp.25juta. saya bolak-balik ke material untuk beli semen, tegel, dan cat. Semua interiornya itu saya atur dan putuskan,”ujarnya. Ruang kerja baru ikut memompa semangat baru juga. Namun bukan berarti tak ada kendala. Pada tahun kedua, bisnis seret,pesanan menurun. Bahkan dia sampai meminjam uang suaminya guna membayar gaji pegawai. “Saya pernah merasakan usaha saya sepi, gaji pegawai tidak bisa dibayar,bayar vendor molor, dimaki-maki vendor,” cerita Kania.

Berkat saran sang suami, Kania mulai merancang strategi pemasaran. Selain mengeluarkan gimmick marketing lewat media sosial, ia juga berkolaborasi dengan pihak tertentu. Misalnya, bekerjasama dengan perusahaan untuk memproduksi ratusan tas,agenda, atau keprluan kantor. “Contoh kolaborasi kami adalah dengan Hijabenka untuk produk scraf edisi Ramadhan,” terangnya.

Demi memperkuat branding Chic & Darling, Kania tidak lagi membeli bahan motif di pasaran, tapi medesain dan mencetak sendiri dibahan. “Saya lakukan ini karena saya menemukan produk Chic & Darling mulai ditiru,”ungkapnya,. Ia juga rajin ikut pameran untuk menjalin hubungan dengan perusahaan besar. “Ini merupakan skema B2B usaha kami. Sekali pesan minimal 100 produk,” ujar dia.

Kini produk Chic & Darlng pun semakin beragam. Jika sebelumnya Chic & Darling dikenal sebagai home essential product, kini sudah menjadi lifestyle product yang terdiri dari tiga kategori, home essential product seperti bantal, keset, taplak meja, lalu daily essential product seperti tas, pouch, agenda, kalender, dan terakhir ready to wear product seperti baju. “Sekarang ada tiga bidang dengan jumlah kurang lebih 30 produk,”ujar dia.

Tahun lalu, Kania menyewa kantor di gedung tak jauh dari rumahnya. “Suami saya ingin agar rumah kami dikembalikan lagi fungsinya sebagai rumah,” ucap dia. Karyawannya sast ini mencapai 10 orang.

Berkat jirih payah itu, Kania mengaku omzet rata-rata Chic & Darling per bulan mencapai Rp 300 juta- Rp 400 juta. Bila ada pameran atau ada gimmick marketing baru atau peluncuran produk baru, omzet itu bisa meningkat dua kali lipat.

 

Sumber: Kontan.22-28-Januari-2018.Hal_.19

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *