Subandi Giyanto “Jangan Berebut Kursi”

Subandi Giyanto_Jangan Berebut Kursi.Kompas 14 Februari 2017.Hal.16

Lewat lukisan kaca, Subandi Giyanto menyampaikan “pitutur” atau petuah leluhur. Pesan bijak itu, menurut Subandi, masih relevan sampai hari ini. Diungkapkan lewat figur punakawan dengan gaya jenaka, ia berharap  pesan-pesan itu menjadikan orang terhibur sekaligus belajar hidup secara arif. “becik ketitik ala ketara” merupakan petuah dalam bahasa Jawa yang bisa dibilang cukup populer dalam masyarakat Jawa.

OLEH FRANS SARTONO

Terjemahan bebasnya, “siapa yang baik akan ketahuan dan siapa yang buruk atau jahat akan ketahuan pula pada akhirnya.”

Petuah itu tertulis di bagian tengah atas lukisan kaca karya Subandi Giyanto. Di bawah pitutur itu ada tokoh Punakawan Semar, Petruk, dan Gareng. Digambarkan Semar dan Gareng bertelanjang dada. Sementara Petruk mengenakan pakaian kebesaran berupa semacam jas merah, lengkap dengan kethu atau topi kebesaran yang lazim digunakan tokoh raja dalam pewayangan.

Pada lukisan lain tertera petuah aja rebutan kursi atau jangan berebut kursi. Pada lukisan itu tiga anak semar, yaitu Petruk, Gareng, dan Bagong berebut kursi. Pada lukisan ini kursi menjadi metafora kedudukan, kekuasaan. Petuah jangan berebut kursi, dikatakan Subandi, menjadi semacam pengingat untuk tidak saling “berkelahi” berebut kekuasaan sehingga melupakan persaudaraan.

Begitulah cara Subandi menyampaikan pitutur atau petuah dengan medium lukisan kaca. Pitutur “klasik” yang tertuang dalam karya Subandi antara lain aja watak wani wiring (jangan punya watak tidak tahu malu). Digambarkan Petruk berjas-dasi, satu tangannya memasukkan uang ke kotak amal, tetapi tangan yang lain merogoh kantong bagong.

“Orang korupsi, nyolong kok tidak malu. Kalau ketahuan kan wiring, tercemar namanya,” kata Subandi yang merupakan abdi dalem keraton Yogyakarta bernama Mas Wedono Dwijo Cermo Wiguno.

Pesan bijak lain adalah asu gedhe menang kerahe (anjing besar akan menang bertarung); rebut balung tanpa isi (berebut tulan tanpa isi); eling lan waspada (sadar dan waspada); ojo dumeh (jangan mentang-mentang); serta melik nggendong lali atau keinginan berlebihan bisa membuat orang lupa diri.

Wulang wuruk (ajaran/petunjuk) dalam masyarakat Jawa itu sangat bermanfaat dan masih relevan sampai hari ini. Akan tetapi, pitutur itu, mungkin akan dilupakan kalau para penuturnya sudah habis. Saya menurunkan atau mewariskan pesan itu dalam bentuk gambar,” kata Subandi tentang pilihan tema pada lukisan kacanya.

Penyungging Wayang

Lukisan kaca yang ditekuni Subandi merupakan jenis seni rupa yang terpinggirkan dalam perkembangan seni rupa masa kini. Ciri-ciri seni rakyatnya cukup menonjol tampak dari olah visual yang terbatas pada pola-pola penggayaan yang bertumpu pada seni rupa wayang kulit. Hal itu tampak pada figure-figur tokoh wayang ataupun narasinya.

Unsur dekoratif pada karya Subandi sangat menonjol. Selalu ada dua gunung biru sebagai latar. Di depan gunung ada sawah atau ubin dalam semacam pendopo. Satu lagi, lukisan Subandi sering di bingkai oleh gorden seperti panggung pertunjukkan wayang.

Dengan kerangka artistic seperti itu, Subandi memasukkan unsur-unsur baru, kekinian, misalnya dalam lukisan berjudul “Sing Eling Lan Waspada,” ia menampilkan Petruk naik skuter sambil menenggak minuman. Ia mengenakan blue jeans dan T-shirt. Di belakangnya duduk perempuan dengan gaun merah. “kontradiksi” bentuk-bentuk wayang dan non wayang akan memberikan tegangan kreatif, baik bagi seniman maupun penikmat.

SUBANDI GIYANTO

Lahir    : Bantul, 22 Juni 1958

Pendidikan      : SSRI, Jurusan Seni Rupa IKIP Negeri Yogyakarta

Pekerjaan         : Pelukis, Guru SMK Negri 5 Yogyakarta

Sejumlah Pameran       :

  • Pameran tunggal lukisan Gambar Pitutur, 2004, Galerry Pitoe Yogyakarta
  • Pameran Tjap Petroek, Bentara Budaya Yogyakarta, 2004
  • Pameran lukisan kaca Tradisi dan Perkembangannya, Bentera Budaya Jakarta 2005
  • Pameran Seni Rupa Sanggarbambu, di Balai Rupa Rumah Budaya Tembi, Yogyakarta 2006
  • Pameran Petruk Nagih Janji, di Bentara Budaya Yogyakarta dan Balai Soedjatmoko, Solo

Subandi lahir dan tumbuh dalam keluarga penyungging dan penatah wayang kulit di Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ayahnya Giyanto dan paman-paman Subandi adalah para penatah wayang. Umur 7 tahun, Subandi kecil sudah belajar menata wayang.

Lukis kaca mulai dikenal Subandi saat bergabung dengan sanggar bamboo pada awal 1975. Di sanggar tempat berhimpun seniman terkemuka Yogyakarta inilah Subandi mengenal Hardiyono, seorang seniman lukis kaca yang saat itu aktif di Pasar Seni Ancol, Jakarta.

“Pertama kali sangat sulit karena menggunakan teknik terbalik. Tapi ternyata lukisan kaca dengan tema wayung laku keras,” kata Subandi yang lulus dari sekolah menengah Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta, 1975.

Social Politik

Subandi mulai menggunakan tema pitutur dan kemudian mengarah ke komentar social setelah dilibatkan Butet Kartaredjasa dalam produksi Teater Gandrik pada awal 1980-an. Oleh Butet ia di mintak membuat lukisan di atas kertas seukuran ubin untuk keperluan pentas. Lukisan itu bermuatan tema social politik.

“saya berpikir, kalau ini saya bikin di lukisan kaca, orang mungkin akan suka. Ternyata benar dan sekarang keterusan.”

Petuah leluhur itu dirasa Bandi berlaku pada segala zaman. Ia melihat situasi sekitarnya dan ia merasa perlu mengingatkan orang pada pesan-pesan tersebut. Selain itu, ia sebagai pribadi juga merasa perlu membuat karya sebagai semacam pelepasan ketegangan Subandi atas situasi yang menurut dia menekan. Lukisan “Ojo Rebutan Kursi,” misalnya, dibuat Bandi sebagai respons atas situasi social politik menjelang 1998. “Secara psikis, saat itu saya juga tertekan,” kata Subandi.

Begitu pula ketika kasus yang kemudian dikenal sebagai “cicak vs buaya” mencuat, Bandi merespons dalam lukisannya. Suatu kali ia membaca berita tentang psien yang ditolak oleh sebuah rumah sakit, maka lahirlah karya “Orang miskin dilarang sakit.”

Karya –karya Subandi ternyata disukai orang. Lukisan “Ojo Rebutan Kursi,” misalnya, dibuat sampai 15 kali dengan perubahan sedikit disana-sini. Karyanya dikoleksi kolektor sejumlah Negara, termasuk Taiwan, Jepang, Tiongkok, Belanda, Jerman, Australia, Amerika Serikat dan Australia.

Subandi, lewat karyanya, ingin berbagai kearifan warisan pitutur leluhur kepada orang banyak, termasuk penikmat lukisannya.

“Saya memosisikan diri sebagai orang netral. Saya memvisualkan pitutur leluhur supaya kehidupan menjadi tenang. Jika pitutur tersebut dijalankan, dimanfaatkan, semoga kita menjadi lebih arif,” kata Subandi.

Sumber: Kompas 14 Februari 2017 hal 16

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *