Studi Banding Virtual dengan Kampus Tiongkok. Jawa Pos. 28 Juni 2020

Sebelum Pembelajaran Kembali ke Sekolah

SURABAYA, jawa pos – Kampus dan lingkungan sekolah harus benar-benar memastikan kesiapan sebelum nanti diperbolehkan menyambut siswa, pengajar, dan karyawan kembali ke sekolah. Yayasan Ciputra Pendidikan berinisiatif meminta ilmu pelaksanaan new normal dari Tiongkok yang sudah lebih mengaktifkan kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

“Belajar dari Tiongkok yang sudah mengalami dulu. Apalagi, berhasil menekan angka Covid-19 menurut saya penting,” tutur Dr Ir Denny Bernardus MM, executive board Yayasan Ciputra Pendidikan. Denny mengatakan, tentu saja pelaksanaanya disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.

Melalui video conference, seluruh perwakilan berdiskusi dengan Hongqiang Zhang PhD, international cooperatife programme dari Guangdong Lingnan Institute of Technology. Zhang menuturkan, dengan keberagaman demografi dan sosial masyarakat, protokol tak bisa hanya mengacu lada satu standar. “Misal, yang di pelosok kesulitan dengan fasilitas dan internet. Harus ada aturan pusat yang bisa mengakomodasi hal tersebut,” ucapnya.

Di tingkat sekolah dan kampus, pimpinan sekolah menjadi penaggung jawab utama. “Di sini, kami sangat patuh. Sebab, jika sekolah atau kampus jadi lokasi penularan untuk satu orang saja, Kasek bisa dipecat,” jelasnya.

Sebelum sekolah dan kampus kembali beroperasi normal, ada mekanisme pelaporan kondisi tubuh selama 14 hari. Siswa, pegawai, maupun guru harus melapor tiap hari. “Kami buat klasifikasi hijau, kuning, merah. Jika di kategori hijau terus-menerus selama 14 haru, mereka boleh ke sekolah,” jelasnya. Jika tidak mendapat kategori hijau, seseorang harus melakukan karantina selama 7 hari untuk kategori kuning dan 14 haru untuk kategori merah. (dya/c11/nor)

 

Sumber: Jawa Pos. 28 Juni 2020

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *