Stasiun Semut, Stasiun Pertama di Surabaya (5) Jalur Distribusi Gula ke Luar Jawa dan Eropa. Radar Surabaya 16 November 2020. Chrisyandi Tri Kartika. Library

“Stasiun Semut yang lebih dikenal sebagai stasiun Surabaya Kota merupakan tempat pemberhentian terakhir rangkaian kereta api yang masuk ke Kota Surabaya baik yang melewati jalur selatan maupun jalur timur pulau Jawa. Stasiun ini juga merupakan salah satu saksi sejarah jalur distribusi gula dari pabrik-pabrik yang berdiri di kawasan Sidoarjo dan Pasuruan,” Muh Purmadani

             PEMERHATI sejarah Kota Surabaya, Chrisyandi Tri  Kartika (Pustakawan  Universitas Ciputra Surabava) mengatakan, kawasan Stasiun Semut berdekatan dengan salah satu pusat belanja tertua di Surabaya, yakni Pasar Atom. Kawasan ini sejak dulu menjadi pemuki-man padat penduduk.

“Dibangunnya jalur kereta api pada masa itu kian menambah deras arus migrasi para pekerja dari daerah-daerah di sekitar Surabaya, seperti Lamongan, Sidoarjo, Gresik dan lainnya. Para migran ini banyak terserap di sektor industri dan bekerja sebagai bur uh kasar di Surabaya,” katanya.

Kehadiran Staatsspoorwagen (SS) atau perusahaan kereta api di Surabaya membuat proyek perkeretaapian lintas Jawa semakin semarak. Pabrik-pabrik gula yang mulai bermunculan di kawasan Sidoarjo dan Pasuruan diharapkan dapat menumbuhkan perekonomian masyarakat seiring meningkatnya konsumsi gula di Hindia Belanda maupun di Eropa.

Jalur kereta api SurabayaPasuruan ini merupakan jalur kereta api pertama SS yang selesai pada tanggal 16 Mei 1878. Jalur ini melewati Bangil dan Sidoarjo, menghubungkan pabrik-pabrik gula di Sidoarjo dan Pasuruan dengan pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya untuk dikirim ke Eropa dan kotakota lain di luar Jawa.

Pada tahun 1880-an, SS kemudian mengembangkan jalur kereta api yang menghubungkan Surabaya dan Sidotopo dengan pelabuhan Kalimas. Jalur tersebut selesai pada tanggal 1 Januari 1886, termasuk membuka stasiun barang baru di utara Fort Prins Hendrik (sekarang Stasiun Benteng). (bersambung/jay)

 

Sumber: Radar Surabaya, 16 November 2020, Hal. 3

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *