Stasiun Semut, Stasiun Pertama di Surabaya (2) Pusat Pengungsi dan Pejuan Saat Peristiwa 10 November. 12 November 2020. Chrisyandi Tri Kartika. Library

“Pada awalnya Stasiun Semut yang asli berada di sebelah timur atau berjarak sekitar 300 meter dari Stasiun Surabaya Kota saat ini. Stasiun tersebut digunakan terakhir sekitar tahun 1990-an, mengikuti kompleks pertokoan yang mulai dibangun kemudian. Di zamannya, keberadaan Stasiun Semut tidak hanya sarana transportasi komoditas ekspor. Dalam peristiwa 10 November 1945, stasiun ini juga dipakai sebagai pusat perjuangan melawan tentara Sekutu inggris,” Mus Punnadani

PEMERHATI sejarah Kota Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika (Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya) mengatakan,berdasarkan buku Sekilas 125 Tahun  Kereta Api Kita karya Iman Subarkah, disebutkan bahwa pendaratan tentara Inggris di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945 untuk melucuti bala tentar Jepang pada  awalnya diterima oleh masyarakat Surabaya.

Bahkan, pemerintah dan masyarakat mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan kepada legiun asing asal Eropa itu. Tapi setelah itu, sama dengan kota-kota pendudukan lainnya, mulai terjadi perselisihan masalah kekuasaan atas bekas tanah jajahan.

“Tiga hari pasca pendaratan, pos-pos milik tentara Inggris di Kota Surabaya mulai diserang rakyat yang menyebabkan Brigadir Jenderal AWS Mallaby tewas. Hal ini membuat Mayor Jenderal RC Mansergh marah dan mengeluarkan perintah bernada ancaman. Intinya semua rakyat Surabaya harus dihukum dan menyerahkan senjata yang dimiliki serta menyerah tanpa syarat. Jika tidak dilaksanakan hingga pukul 06.00 pada 10 November 1945, maka Surabaya akan digempur habis-habisan dari darat, laut dan udara,” jelasnya.

Akhirnya, pertempuran 10 November pun benar-benar pecah yang menjadi tonggak perjuangan arek-arek melawan penjajah dan diabadikan sebagai Hari Pahlawan. Seiring dengan agresi tentara Inggris yang membuat para pejuang mundur hingga ke Mojo- kerto, Kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) yang ada di Surabaya juga dipindahkan ke kota onde-onde itu pada 12 November. Namun demi keamanan, dipindahkan lagi ke Pare, Kediri.

Akan tetapi, karena kantor Pemerintah Provinsi Jawa Timur di bawah pimpinan Gubernur Soerjo dipindah ke Malang, maka kantor DKARI juga dipindah ke kota dingin itu. “Kereta api yang keluar dari Surabaya akhirnya dipenuhi pengungsi yang menuju ke pedalaman Jawa. Sedangkan kereta yang menuju ke Surabaya dipenuhi warga dari berbagai daerah di Jatimdan Jawa Tengah untuk bertempur di medan laga Surabaya.

Dengan semangat Bung Tomo yang membakar semangat rakyat, akhirnya para pejuang ini berhasil menghadapi tentara Inggris di Surabaya,” ungkapnya. (bersambung/jay)

 

Sumber: Radar Surabaya. 12 November 2020. Hal 3 dan 7

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *