Stasiun Semut, Stasiun Pertama di Surabaya (11) Paling Sibuk pada Masanya, Angkut Air, Hasil Bumi, dan Manusia. Radar Surabaya, 24 November 2020, Halaman 3 dan 7. Chrisyandi Tri Katika. LIB

“Stasiun Surabaya Kota atau Stasiun Semut yang diresmikan pada 16 Mei 1878 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van Langsberge, adalah salah satu stasiun kereta paling sibuk pada masanya. Saat ini, stasiun ini mengalami restorasi dan akan segera difungsikan kembali,” Mus Purmadani

PEMERHATI sejarah Kota Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, awalnya Stasiun Surabaya Kota atau Stasiun Semut dibangun untuk sarana transportasi gula yang diproduksi beberapa pabrik gula di Pasuruan untuk dikirim ke luar pulau bahkan luar negeri lewat agen-agen perdagangan di Surabaya.

Karena angkutan kereta api dianggap lebih cepat dan lebih aman di zamannya, maka berkembang menjadi sarana mobilitas masal favorit. “Meski saat itu sudah ada pesawat, kereta api adalah alternatif transportasi masal yang relatif cepat dan murah,” jelasnya.

Saat itu, jalur SurabayaPasuruan pulang-pergi (p.p) atau vice-versa (v.v) dianggap sangat penting lantaran tak hanya produk pertanian yang bisa diangkut dari Pasuruan dan pedalaman Jawa Timur, melainkan juga air bersih yang bersumber dari mata air Umbulan yang sangat besar.

Pasokan air dari Umbulan ke Surabaya itu juga diangkut menggunakan sarana kereta api berbarengan dengan produk hasil pertanian. “Pada masa itulah, Stasiun Semut merupakansalah satu dari dua stasiun yang terkenal di Kota Surabaya tempo dulu. Lainnya adalah Stasiun Pasar Turi,” jelas pustakawan dari Universitas Ciputra Surabaya.

Stasiun Semut merupakan bagian dari jalur selatan pulau Jawa yang melayani rute Surabaya-Solo-Yogyakarta, Tasikmalaya, Bandung, dan Jakarta. Ketika itu jalur Jakarta-Surabaya masih ditempuh dengan perjalanan selama tiga hari. Begitu malam tiba, kereta berhenti dan penumpang menginap di penginapan untuk melanjutkan perjalanannya pada keesokan harinya.

Chris menambahkan, ada jalur baru yang dibuat ketika masa penjajahan Jepang. Bahkan ada juga jalur yang akhirnya mati dan hilang. “Jejak sisa jalur ini diyakini sebagai bunker oleh sebagian kalangan, bahkan oleh pejabat dan pendiri sebuah komunitas. Tapi menurut saya, itu pondasi jembatan rel kereta,” jelasnya. (bersambung/jay)

 

Sumber: Radar Surabaya. 24 November 2020. Hal. 3, 7

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *