Denok Marty Astuti Srikandi Sampah Kota Solo

Denok Marty Astuti. Kompas. 14 Januari 2016. Hal 16

Oleh Gregorius Magnus Finesso

 

Tutur sapanya ramah. Senyum selalu mengembang dari roman mukanya yang terus berbinar, terlebih saat bertukar pikiran mengenai pengelolaan sampah di Kota Solo, Jawa Tengah.

“Dalam satu hari di Solo, sampah yang menumpuk dari segala penjuru mencapai 300 ton. Kalau mau membayangkan, satu gajah itu beratnya 3.000 kilogram. Artinya, sehari-hari, warga Solo menghasilkan sampah dengan ukuran lebih kurang sama dengan 100 gajah,” tutur Denok.

Bisa dibilang, lebih dari 10 tahun terakhir, pergumulan hidup Denok tidak jauh dari urusan sampah. Itu semua sudah dimulai sejak dia masih tinggal di Ibu Kota, jauh sebelum kiprahnya dalam pemberdayaan masyarakat marjinal Kota Solo dilakukannya.

Lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Denok mulai menapaki kehidupan mapan sebagai akuntan di PT Astra Honda Motor (AHM) sejak 2003. Namun, dorongan memberikan perhatian lebih kepada lingkungan tak jua bisa dibendung.

Setiap menyusuri gang permukiman padat penduduk Kawasan Sunter Jaya yang berada begitu dekat dengan perusahaan tempatnya bekerja, Denok prihatin melihat kampung nan kumuh, penuh sampah. Kebiasaan membuang dan menumpuk sampah di sembarang tempat membuat hidup warga tak sehat.

Hatinya mulai risau. Tersirat di benaknya, tidakkah mungkin sampah yang mengotori lingkungan permukiman jadi hal bermanfaat. Pemikiran tersebut yang melahirkan ide mendampingi warga untuk mengelola sampah menjadi barang berguna. Dia dibantu seorang tokoh masyarakat yang ikut mengenalkan cara membuat kompos dari sampah.

Setelah perubahan mulai dirasakan, Denok menawarkan ke perusahaannya untuk menjadikan Kawasan Sunter Jaya sebagai kampung pro iklim melalui program tanggung jawab social perusahaan (CSR). Saat ini, kampung binaan PT AHM itu telah jadi kawasan pro lingkungan percontohan di Jakarta.

Tak hanya kepeduliat terhadap lingkungan, Denok juga tidak segan terjun bergaul dengan anak-anak jalanan, pemulung sampah, serta menyambangi panti jompo dan panti asuhan. Aktivitas tersebut rutin dijalani setiap Sabtu-Minggu dan hari libur lain.

Bagi Denok, nyala lilin dalam jiwanya kian menyala terang setiap berbagi dengan kaum marjinal seperti mereka. “Saya lagi-lagi terpikir bagaimana cara memberdayakan mereka yang lemah secara ekonomi ini dengan modal murah? Jawabannya, ya, sampah,” kata perempuan berkacamata ini penuh semangat.

 

Dampingi narapidana

Semangat itu pula yang mendorong Denok memutuskan berhenti bekerja setelah 12 tahun. Pada 2014, dia kembali ke Solo, tanah kelahirannya.

Tidak butuh waktu lama bagi seorang Denok kembali bergumul dengan sampah seperti yang dilakukannya di Jakarta. Pada Januari 2015, Denok mendirikan Gerakan Orang Muda Peduli Sampah (Gropesh) Solo Raya. Sebelumnya, dia pun tergabung dengan Gropesh Jakarta yang berdiri sejak 2007.

Namun, jika di Jakarta Denok punya banyak rekan, di Solo, dia harus berjuang memulai semuanya sendiri. Program rintisan dikembangkan dengan mendampingi narapidana (napi) Rumah Tahanan Kelas IA Solo untuk mengelola sampah organik dan non-organik.

Bukan tanpa alasan Denok melibatkan napi. “Banyak napi ketika keluar dari bui tidak mengerti harus berbuat apa. Akhirnya, mereka melakukan nkejahatan dan masuk penjara lagi,” ujarnya.

Tak mudah baginya mengajak napi ikut pelatihan keterampilan mengolah sampah. Setelah rutin berkunjung dan berdialog dari hati ke hati dengan para napi, akhirnya Denok mampu mengajak 80 napi bergabung.

Mereka kini mampu menghasilkan pupuk dari sampah yang diberi nama Kompos Organik Biorutani. Sekitar 30 persen dari hasil penjualan diberikan kepada napi dan 70 persen untuk membeli bahan baku.

Selain kompos, hasil karya lain kelompok ini ialah aneka aksesori, seperti kerajinan keranjang, kap lampu, vas bunga, miniature becak, miniature angkringan, dan sangkar burung.

“Kebetulan, sejak kecil, saya memang sudah berminat terhadap kegiatan prakarya dengan membuat berbagai aksesori dan hiasan. Sekarang, keterampilan itu bisa berguna buat orang lain,” ucap Denok.

Produk-produk para napi dibanderol Rp 3.000 – Rp 300.000 per item. Ragam aksesori dan hiasan dari sampah ini dipasarkan melalui berbagai ajang pameran bekerja sama dengan Pemerintah Kota Solo. Para napi juga rutin menggelar pameran setiap Minggu di car free day dan lewat jual-beli daring. Omzetnya kini mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

Kiprah Denok Bersama Gropesh terus berkembang. Anak-anak muda Solo kian tertarik bergabung dengan gerakan itu. Mereka lalu merambah ibu-ibu rumah tangga di seputaran Kota Solo.

Ibu rumah tangga diajak mengolah sampah organic menjadi pupuk kompos. Dari situ, ibu-ibu bisa menjual 1 kilogram kompos padat seharga Rp 10.000 dan kompos cair seharga Rp 7.000 per liter.

Tak henti berkreasi

Denok juga tak berhenti berkreasi. Baginya, kreativitas adalah hal tanpa batas asal jeli dan mau belajar. Hingga kini,dia mengingat, lebih dari 300 ragam kerajinan dihasilkannya dari bahan baku sampah.

Kerajinan dari bahan baku sampah plastic, misalnya, kini mulai dijadikan tas elegan tanpa terlihat “murahan”. Caranya, anyaman bekas bungkus kopi instan yang memiliki motif indah kemudian dijahit di atas kulit sintetis dan dipadukan dengan hiasan manik-manik hingga kristal. Usaha ekonomi kreatif itu sangat menguntungkan karena bisa dijual hingga Rp 300.000 dengan modal tak lebih dari separuhnya.

“Ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak punya uang belanja lebih sekarang mulai bisa menambah pendapatan suaminya,” ucap Denok yang kini mendampingi 13 kelurahan di Kota Solo dan terus meluas hingga Boyolali, Sukoharjo, dan Wonogiri.

Bersama Gropesh, Denok juga mengajak anak-anak memungut sampah setiap selesai gelaran car free day di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Dia yakin penanaman kesadaran membuang sampah pada tempatnya lebih mudah ditanamkan saat masih bocah.

Untuk memperluas pemasaran produk kerajinan kreatif, Denok memfasilitasinya dengan mendirikan CV Republik Hasta Kriya. Pemasaran daring yang dilakukan bahkan mengundang minat pembeli luar negeri, seperti Amerika Serikat dan Inggris.

“Kapan lagi kita bisa ekspor sampah?” ucap Denok tertawa lebar.

 

Sumber : Kompas, Kamis, 14 Januari 2016

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *