Srengganan, Sisi Perjuangan dan Penyangga Wilayah Utara (1). Masuk Kawasan Dalam Tembok Kota. Radar Surabaya. 24 Juli 2021. Hal.3. Lib. Chrisyandi

Kawasan Srengganan yang berada di Surabaya Utara sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Bahkan di peta tahun 1886 ada kawasan tersebut.

Kawasan tersebut saat ini juga sebagai penyangga kawasan seperti Ampel, Pegirian, dan sekitarnya. Kawasan itu memang pamornya tak seperti Ampel, Pegirian, Kembang Jepun, Pabean dan lainnya, akan tetapi menjadi kawasan yang cukup penting dan strategis.

Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, tahun 1886 merupakan era kolonial Belanda. Di tahun itu peta kawasan Srengganan sudah ada masuk dalam tembok kota.

“Kalau istilah sekarang seperti tembok Cina atau seperti tembok keraton Yogyakarta. Nah itu sudah ada di dalam peta,” katanya kepada Radar Surabaya. Chrisyandi menjelaskan, tujuan tembok kota itu untuk melindungi berbagai sarana, prasarana, penduduk, termasuk aktivitas di dalamnya yang bisa diawasi atau diatur dengan baik. “Seperti rumah yang kita huni sekarang ini jadi tembok kota seperti itu,” jelasnya.

Kawasan Srengganan dekat dengan Pandean, Sawahan, Srengganan, Kebon Topaten, Topaten, Batu Putih, Kebon Dalem, dan Tenggumung. Semakin ke selatan perkampungan Bumiputra.

Seiring berjalannya waktu, kolonial Belanda masuk ke kawasan itu ada perubahan besar dari sisi perkembangan bangunan. Tapi zaman kolonial kawasan itu jadi tempat berkumpulnya para pejuang untuk melawan Kolonial. Menurutnya, hampir semua kawasan penduduk di Surabaya terdapat banyak pejuang. Pengaruh Belanda juga berpengaruh pada struktur bangunan di kawasan itu “Pembangunan Surabaya Utara juga secara bersamaan pesat karena pengaruhnya,” pungkasnya. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 24 Juli 2021. Hal.3.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *