Srengganan, Sisa Perjuangan dan Penyangga Wilayah Utara (9). Penduduk Kampung Rata-Rata Pekerja. Radar Surabaya 3 Agustus 2021. Hal.3

Srengganan tepi jalan merupakan kawasan perniagaan. Hal itu dite gaskan dengan tumbuhnya cabang-cabang perusaha an dagang dan bank-bank di Surabaya akibat dari Undang-Undang Gula dan Undang-Undang Agraria sejak tahun 1870.

PERTUMBUHAN ini terutama terasa sekali pada penduduk Eropa. Karena penduduk Eropa sebagai penguasa dan penentu kebijakan kota. Pustakawan Sejarah asal Universitas Ciputra Chrisyandi Tri Kartika menuturkan, dalam buku Perkembangan Kota Surabaya di tahun 1870. hingga 1940 banyak orang Eropa yang mengambil tanah luas dan membangun rumah-rumah yang besar, kantor dan toko-toko.

“Mereka berlomba-lomba membeli tanah baik di tengah kota di pinggiran maupun dekat persimpangan jalan. Meskipun saat itu ada larangan bagi warga Eropa,” tuturnya kepada Radar Surabaya.

Dengan digunakan di Srengganan yang ada di tepi jalan untuk perniaagaan, menurut Chrisyandi, banyak pekerja yang bermukim di pemukiman dalam Srengganan. “Dari buku Petundjuk Isi Kota Surabaya, daerah Srengganan memang daerah pemukiman, kemungkinan para pekerja yang berada di situ,” jelasnya.

Pekerja yang bermukim di Srengganan menurutnya pekerja harian pada perusahaan, toko maupun pabrik-pabrik kecil semacam home industry. “Dari pertumbuhan itulah banyak sekali urbanisasi ke Surabaya. Mereka mencari pekerjaan sebagai pelayan, pekerja harian dan sebagainya,” katanya.

Selain itu, dirinya menyebut kawasan Srengganan hingga Sidodadi banyak tempat usaha. “Karena dari sumber buku yang sama, kampung sekitar Srengganan seperti Sidodadi dan lain lain banyak terdapat tempat usaha,” pungkasnya. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya 3 Agustus 2021

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *