Sosok Malaikat yang Tak Bersayap Ternyata Selalu ada di Sekitar Kita

 

Kasih ibu tak terhingga sepanjang masa, ungkapan yang seringkali kita dengar sampai-sampai sudah tertanam rasanya di benak kita. Memang, kasih seorang ibu tidak bisa digantikan dengan apapun. Bahkan dari sebelum kita menginjakkan kaki di bumi ini, 9 bulan lamanya ia sudah menjaga kita dengan sepenuh hati. Mungkin bagi kalian para wanita yang nantinya atau sedang mengandung juga sudah bisa merasakan ikatan yang telah terjalin dengan bayinya. Di setiap doanya, pasti tersirat nama kita dengan harapan yang sungguh mulia. Sebenarnya, banyak sekali loh ungkapan-ungkapan mengenai bagaimana tulusnya kasih ibu terhadap anaknya. Sosok ibu bagi setiap orang juga pasti berbeda-beda, mungkin ada yang menjadi seorang sahabat, yang asik, yang selalu menemani, atau bahkan sebagai pahlawan bagi hidupnya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa seorang ibu itu selalu menjadi sosok yang penting didalam hidup kita.

Mungkin karena kasihnya yang begitu besar untuk kita semua, mendorong kita untuk membalas kembali jasanya dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan merayakan Hari Ibu. Diyakini bahwa seorang wanita bernama Anna Jarvis yang tinggal di Amerika Serikat merupakan seseorang yang memulai perayaan Hari Ibu modern pertama kali. Pada tahun 1908, yaitu 3 tahun sebelum kematian ibunya yang terkasih itu, Jarvis berinisiatif untuk mengadakan memorial berupa hari Ibu di Gereja Methodist St Andrew di Virginia Barat. Berangkat dari inisiatifnya dan ketekunannya, akhirnya membuahkan hasil yang tidak mengecewakannya. Siapa sangka bahwa usaha Jarvis dalam mempromosikan hari ibu ini akhirnya menarik perhatian Woodrow Wilson sebagai Presiden Amerika pada tahun 1914. Woodrowpun akhirnya setuju dan membuat Hari Ibu sebagai salah satu hari libur nasional.

Hari Ibu ini sendiri tidak selalu dipatenkan di satu tanggal, di beberapa negara, Hari ibu biasanya dirayakan di minggu kedua bulan Mei. Namun berbeda dengan Indonesia, yang menetapkan Hari Ibu nasional pada tanggal 22 Desember. Sejarahnya, Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden Nomor 316 tahun 1959 telah menyetujui adanya perayaan Hari Ibu. Kira-kira kenapa ya harus tanggal 22 Desember?. Ternyata 22 Desember itu juga bertepatan dengan Kongres Perempuan Indonesia pertama yang berlangsung di Yogyakarta pada tahun 1928. Pada hari itu, berbagai pimpinan organisasi perempuan di seluruh Indonesia bersepakat untuk berkumpul dan bersatu memperjuangkan kemerdekaannya sebagai perempuan. Wah wah, sungguh dedikasi yang luar biasa yah teman!.

Dari sini kita tahu, bahwa sebenarnya perjuangan emansipasi wanita itu tidak melulu berbicara mengenai R.A Kartini, namun ternyata ada ribuan wanita lainnya yang ikut berjuang loh!. Walaupun sempat terjadi protes karena dahulu hanya Hari Kartini yang diperingati, merekapun akhirnya mendapatkan keadilan dengan adanya Hari Ibu.

Mari kita sejenak mengenang bagaimana dedikasi wanita-wanita yang telah berjuang pada masa kolonial tersebut. Pada jaman dahulu, hampir seluruh agenda dalam kongres itu berbicara mengenai hak-hak perempuan. Mulai dari perkawinan dimana mereka dipaksa untuk menikahi seseorang pada usianya yang masih belia, hingga derajat dan harga diri seorang wanita yang dianggap lebih rendah dari pria pada masa itu.

Kalau tidak ada mereka semua, mungkin para kaum perempuan sampai saat ini masih memiliki derajat dibawah lelaki loh!. Kebayang gak sih kalian kalau sampai-sampai kita tidak diperbolehkan untuk bekerja, keluar untuk berbelanja, atau menganyam pendidikan?. Tentu kita tidak mau itu semua terjadi.

Kesataraan harus tetap ada, dan itulah mengapa kita harus selalu menghormati sosok perempuan, apalagi ibu kita sendiri. Perayaan Hari Ibu ini sendiri biasanya dimanfaatkan untuk memberi ucapan terima kasih kepada ibu karena kasihnya yang selalu ada dan menghangatkan kita semua. Tapi di masa pandemic ini, mungkin beberapa dari kita menghadapi berbagai permasalahan dan tidak bisa menjenguk ibunda tercinta. Mungkin terasa beda, namun kita masih bisa menunjukkan kasih kita dengan melakukan call maupun video call atau bahkan mengirim kado untuk mereka semua. Apapun itu, pastikan itu membuat ibu kita bahagia yah!.

 

Daftar Pustaka

Kumampung, Dian (2020, Mei 9). Hari Ibu Sedunia 2020: Tanggal, Sejarah dan Maknanya. Kompas.com. Diakses pada https://lifestyle.kompas.com/read/2020/05/09/134654620/hari-ibu-sedunia-2020-tanggal-sejarah-dan-maknanya. 5 Dec 2020

Zheid, Rianna (2019, Dec 22). Ini lho Alasan Hari Ibu Dirayakan Tanggal 22 Desember. Idntimes.com. Diakses pada https://www.idntimes.com/life/family/rianna-zheid/ini-alasan-kenapa-hari-ibu-dirayakan-setiap-tanggal-22-desember-c1c2/5. 5 Dec 2020.

Azanella, Luthfia (2019, Dec 21). Hari Ibu di Indonesia 22 Desember, Tanggal Berapa di Negara Lain?. Kompas.com. Diakses pada https://www.kompas.com/tren/read/2019/12/21/191200465/hari-ibu-di-indonesia-22-desember-tanggal-berapa-di-negara-lain-?page=all. 5 Dec 2020.

Putsanra, Dipna. (2019, Dec 22). Sejarah Hari Ibu 22 Desember Bermula dari Kongres di Yogyakarta. Tirto.id. Diakses pada https://tirto.id/sejarah-hari-ibu-22-desember-bermula-dari-kongres-di-yogyakarta-eosy. 5 Dec 2020

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *