Sistem Pemadam Kebakaran Belum Lengkap. Jawa Pos.18 Januari 2018.Hal.26_Freddy H Istanto

SURABAYA – Kepala Freddy H. Istanto mendongak ke langit-langit Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria kemarin (17/1). Pandangannya menyebar ke sudut-sudut aula yang biasa dipakai misa. Tak lama kemudian, dia mengajak bicara F.X. Hardjonodirono CM, pastor rekan, dan Mastinus A. Paryanto CM, pastor kepala paroki kelahiran Santa Perawan Maria. “Harusnya ini dipasang sensor asap atau sensor panas Romo,” komentar Fredd yang menjadi direktur Sjarikat Poesaka kepada Romo Hardjo, panggilan akrab F.X.Hardjodironno CM, kemarin siang. Pemerhati cagar budaya itu sengaja bertamu ke gereja katolik tertua di Surabaya tersebut setelah mendengar kejadian Museum Bahari di Jakarta terbakar pada Selasa (16/1).

Freddy mengaku ingin mengetahui apakah gereja yang mulai didirikan pada tahun 1899 itu mempunyai sistem penanganan api yang baik. Apalagi, gereja tersebbut jadi jujungan para wisatawan setiap minggi selain jamaah. Dia tidak mau Surabaya kehilangan nilai historis cagar budaya tersebut seperti yang terjadi di Balai Pemuda pada 2011.

Setelah melihat, dia baru tahu bahwa bangunan tersebut sangat rentan terhadap bencana kebakaran. Menurut pengelola, tempat iibadah yang akrab disebut Gereja Kepanjen itu tidak mempunyai hidran. Yang dipunya hanya 10 alat pemadam api ringan (APAR). Itu pun disimpan di sisi selatan Gereja.

Romo Hardjo mengaku bahwa pihaknya berusaha sebaik-baiknya mengelola cagar buday teresebut.(bii/c20.any)

Sumber: Jawa-Pos.18-Januari-2018.Hal_.26

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *