Nozomi Okuhara Si Mungil yang Pantang Menyerah

Si Mungil yang Pantang Menyerah. Kompas.29 Maret 2016.Hal.16

Merayakan ulang tahun ke-21 sebagai juara tunggal putri All England 2016 merupakan momen yang luar biasa dalam kehidupan pebulu tangkis asal Jepang, Nozomi Okuhara. Pencapaian itu diraih melalui kerja keras disertai karakter ulet dan pantang menyerah.

OLEH AMBROSIUS HARTO

Piala, uang senilai 41.250 dollar AS atau Rp 537 juta, dan 11.000 poin yang mengerek peringkatnya di Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) dari posisi ke-8 ke posisi ke-3 juga menjadi kado amat indah bagi Okuhara.

Setelah menjuarai All England, Okuhara sudah mengumpulkan total poin 75.722 dan uang 240.465 dollar AS atau Rp 3,13 miliar. Pemain bulu tangkis ini lantas kembali bersiap untuk menggapai mimpi dan ambisis besar lain, yaitu meraih medali Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Jalan menuju olimpiade musim panas di Brasil, 5-21 Agustus 2016, itu bisa jadi bakal mulus bagi Okuhara. Dengan peringkat ke-3 saat ini, posisinya terhitung lumayan aman. Apa lagi, peringkat ke-3 merupakan pencapaian tertinggi Okuhara selama berkarier di dunia bulu tangkis.

Pebulu tangkis yang lolos ke Olimpiade disektor tunggal adalah mereka yang berperingkat 16 besar dengan batas waktu Mei 2016. Sebelum batas waktu itu, peringkat masih mungkin turun, bertahan atau naik bergantung pada rajin atau tidak pebulu tangkis mengikuto dan menjuarai beberapa turnamen.

Turnamen bergengsi terdekat dan akan diikuti Okhura adalah India Terbuka, 29 Maret-3 April 2016. Diturnamen ini, beberapa pebulu tangkis elite bakal hadir kembali, antara lain Carolina Marin (Spanyol/peringkat ke-1), Li Xuerui (Tiongkok/2), Wang Shixian (Tiongkok/4), dan juara bertahan Saina Nehwal (India/6). Mereka semua pernah menang dan kalah saat menghadapi Okuhara.

Di turnamen itu, berdasarkan undian, Okuhara menjadi unggulan ke-7. Di putaran pertama, Okuhara akan menghadapi Bae Yon Ju (Korea selatan/16). Mereka sudah dua kali bertemu dan saling mengalahkan atau posisi 1-1. Akankah pamor Okuhara bakal terus bersinar? Mari kita lihat nanti.

Pendek dan Tinggi

Dengan tinggi badan 155 sentimeter. Okuhara mungkin cenderung disebut pemain pendek. Namun, prestasi dara kelahiran Prefektur Nagano, 13 Maret 1995, justru tinggi.

Di final All England 2016, Okuhara yang merupakan unggulan ke-8 mampu mengalahkan para pemain dengan tubuh yang lebih tinggi, lebi berpengalaman, dan lebih diunggulkan. Namun, ternyata Okuhara mengalahkakn lawan-lawannya. Di final, dia mengandaskan Shixian yang memiliki tinggi 168 sentimeter, berpengalaman, peringkat ke-5 BWF, unggulan ke-7, juara Asian Games Guangzhou 2010, Masters Final 2010, dan All England 2011.

Menjadi juara saat ulang tahun dengan mengalahkan pemain unggulan tentu merupakan momen penting kehidupan. “Ulang tahun terbaik dalam hidup, saya tidak punya hadiah. Tetapi, sangat bahagia karena ulang tahun tepat saat partai final dan saya memenanginya,” katanya.

Kemenangan Okuhara juga menjadi sejarah bagi bulu tangkis Jepang. Dia mempersembahkan trofi tunggal putri All England setelah 39 tahun. Getar terakhir dipersembahkan pada 1977 oleh Hiroe Yuki, legenda bulu tangkis “Negeri Sakura”. Pencapaian Okuhara di All England ibarat kejutan, hadiah, perayaan , dan prestasi tinggi oleh si pendek.

Bisa dibilang perjalanan di All England yang dilalui Okuhara cenderung mulus. Di putaran pertama, Okuhara mengandaskan Nitchaon jindapol (Thailand/28) dengan skor 21-13, 21-15. Diputaran kedua, giliran Linda Wenifanetri (Indonesia/24) dengan skor 21-11, 21-10. Diperempat final, Okuhura mulai membuat kejutan dengan mengalahkan unggulan ke-4, Wang Yihan (Tiongkok/6), dengan skor 21-9, 21-13. Disemi final, lagi-lagi dia menumbangkan pebulu tangkis terkuat, Carolina Marin (Spanyol/1), dengan skor 21-11, 16-21, 21-14. Selanjutnya, partai final yang dimenanganinya membuktikan bahwa Okuhara sebagai pebulu tangkis yang menarik.

Saat mengalahkan Wang Shixian di final, Okuhara memperlihatkan kegigihan luar biasa. Bertubuh lebih pendek, pem,ain asal Jepang itu justru mampu bergerak lincah mengejar kemana pun kok ditempatkan lawan. Dia tak mengandalkan smes, tetapi lob-lob panjang kebelakang, dropshot, netting, dan bola-bola silang di depan yang memaksa Shixian pontang-panting. Okuhura akhirnya menang berkat kegigihannya dalam tiga set permainan yang menguras tenaga.

Tak Bisa

Sebenarnya perjalanan karier Okuhura berhasil ememnangi kejuaraan Dunia Bulu Tangkis Junior dan Kanada Terbuka. Namun, pada 2013, tidak ada kejuaraan bergengsi yang diraih Okuhura. Sinarnya meredup karena cedera sehingga bolak-balik harus operasi. Kariernya mulai kembali pada 2014 dengan memenangi Vietnam Terbuka, Selandia Baru Terbuka, dan Korea Masters.

Mata pencipta bulu tangkis kian terbelalak saat melihat Okuhura menjuaraii Jepang Terbuka 2015. Prestasi pemain ini kian kinclong saat memenangi Masters Final 2015, turname super series premier. Tidak main-main, di turnamen itu, Okuhura mengalahkan Newhal yang saat itu peringkat ke-1. Dia menjadi satu-satunya pebulu tangkis putri Jepang yang menjuarai Masters Final.

Super series premier merupakan turnamen sangat bergengsi, ibarat grand slam dalam tenis. Derajat turnamen ini setingkat di bawah kejuaraan dunia dan olimpiade. Untuk super series premier, selain Masters Final dan All England, adalah Indonesia Terbuka, Malaysia Terbuka, Tiongkok Terbuka, dan Denmark Terbuka.

Dalam suatu pemberitaan, legenda bulu tangkis Indonesia, Susy Susanti, menilai, permainan Okuhara sebenarnya biasa, postur tubuh tidak setinggi pemain-pemain Indonesia. Namun, kelebihan Okuhara adalah ulet dan pantang menyerah. Mental bertandingnya sekeras baja. Dia kerap dalam posisi tertinggal, bahkan di set ketiga penentuan, tetappi pantang menyerah, terus bermain, dan berhasil menang. “gaya permainan Okuhura patut dicontoh, pantang menyerah,” kata susi.

Okuhura bermain sabar, berani menguras stamina dengan reli panjang, dan drop shot mematikan. Dengan postur pendek, sulit bagi Okuhura bisa bergerak amat lincah sehingga sulit dideteksi dan diantisipasi.

Melihat Okuhura bermain ibarat melihat prajurit Jepang saat bertempur, yang pantang menyerah, bahkan berani mati. Mungkin dalam dirinya tertanam kode etik Bushido, tradisi yang masih dipegang teguh warga Jepang. Kesungguhan, keberaniian, kebajikan, penghargaan, kejujuran, dan kehormatan dibawa dan dipraktikkan dalam segenap aspek kehidupan. Bagi seorang atlet, norma agung itu diperlihatkan di arena. Mungkin ini yang membuat permainan Okuhura ibarat bunga sakura yang mekar; begittu indah sekaligus membutakan lawan.

Sumber : Kompas selasa, 20 Maret 2016

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *