Seri 3. Oei Hiem Hwie. Merawat Sejarah. Kenang-kenangan Jam Tangan Bung Karno. Harian Disway. 3 April 2021. Hal.6,7

Sebagai jurnalis Terompet Masjarakat, Oei Hiem Hwie mendapat kesempatan emas mewawancarai Bung Karno. Ia bertemu langsung di bandara Abdulrachman Saleh, Malang. Lalu diajak Bung Karno terbang ke istana negara. Saat itu adalah momen paling berkesan. Berdua saja dengan Bung Besar.

Kakek satu cucu yang tetap bersemangat di usia senja itu memperlihatkan sebuah foto pada Harian Disway. Foto itu terletak dalam lemari kaca di halaman depan Perpustakaan Medayu Agung, yang terletak di jalan Medayu Selatan gang IV 42-44.

Dalam foto itu tampak Bung Karno sedang berbincang dengan seorang pemuda yang mengenakan pakaian jas dan dasi. “Nah, pemuda itu saya!” serunya. Foto itu diambil oleh rekan jurnalisnya ketika Oei bertemu Soekarno di bandara Abdulrachman Saleh, Malang.

Sebagai jurnalis harian Terompet Masjarakat, ketika itu Oei mendapat kemudahan untuk bertemu Bung Karno. Harian yang dulu berkantor di sisi timur Tugu Pahlawan, Surabaya, itu memang dikenal selalu mendukung kebijakan Presiden pertama Republik Indonesia itu.

Oei lalu bercerita bahwa ia sempat diajak bersafari keliling Malang oleh Bung Karno. Lalu ketika pulang ke Jakarta, Oei masih dibawanya serta. Satu pesawat dengan Bung Karno. Terbang ke ibu kota, lalu menuju istana negara.

Bung Karno mengajak Oei duduk di halaman belakang istana negara. Di bawah pilar, di depan taman bunga. Sang Presiden memberi kesempatan Oei untuk mewawancarainya langsung. Face to face. Duduk saling berhadapan.

Ketika itu banyak hal yang ditanyakan Oei. Mulai kebijakan-kebijakan Bung Karno, perlawanannya terhadap nekolim, serta ketegasan sikapnya. “Intinya itu. Tapi untuk detail pertanyaannya saya sudah lupa. Rentang waktunya terlalu jauh. Wong kejadiannya kalau tidak salah thun 1964, kok,” ujar Oei.

Menurut penuturannya, usai berbincang-bincang akrab dengan Bung karno, Oei meminta kesediaan Bung Karno untuk difoto.

“Lihat ini!” ujarnya kepada Harian Disway. Ia menunjuk sebuah foto Bung Karno berukuran besar. Bung Karno berpose duduk sambil menyerongkan kaki. Senyum mengembang. Cekung lesung pipitnya tampak. Kiranya itulah bagian dari Soekarno yang menawan hati para gadis.

Si Bung Besar memang akrab dengan kaum hawa. Namun dalam foto itu kedua mata sang proklamator tak melihat kamera. Melainkan memandang ke kiri. Sungguh, foto itu memiliki nilaih kisah: Seakan Bung Karno sedang melirik gadis cantik di sampingnya.

“Yang sampeyan lihat itu adalah foto Bung Karno. Disulap jadi besar berkat teknologi masa kini,” ujar Oei sambil memandangi foto idolanya itu.

“Nah, kalau ini foto aslinya,” ujarnya. Lalu menunjuk bagian dalam lemari kaca. Di dalam lemari itu terdapat foto serupa. Namun berukuran kecil. Mungkin ukurannya 3R. Foto itu adalah satu dari beberapa koleksinya yang berhasil diselamatkan.

Menurut kesaksian Oei, ketika itu Bung Karno tampak senang ketika diajak berbincang. Bagi Oei, mewawancarai orang nomor 1 di Indonesia itu adalah pengalaman terbaik seumur hidup. Ketika keduanya mengakhiri pembicaraan, Oei dan Bung Karno saling bersalaman.

Bung Karno sempat melihat tangan Oei. Lalu ia bertanya, “Oei, kenapa kamu tak mengenakan jam tangan?”. Lalu Oei menjawab, “Maaf Bapak, saya memang tidak punya jam tangan”.

Mendengar jawaban Oei, Bung Karno tertawa. Ia tiba-tiba membetulkan kerah jas yang dikenakan oleh Oei. Lalu menasihatinya, “Kamu itu pakai jas dan celana rapi, rambut pun klimis. Kurang padu jika tanpa jam tangan!” ujarnya.

Tiba-tiba Bung Karno melepas jam tangannya. Kemudian diberikannya pada Oei.

“Tak terbayangkan. Saya mendapat jam tangan langsung dari Presiden Soekarno,” kenang Oei dengan berapi-api.

Jam tangan pemberian Bung Karno itu hingga kini masih terpasang rapi di lemari kaca bagian paling depan. Harian Disway diajaknya melihat kondisi jam itu. Ternyata masih terawat dengan baik. Warnanya kuning keemasan.

Di atas bulatan penanda waktunya terdapat gambar burung garuda Pancasila. Di bawahnya tertulis: Istana Presiden RI.

Ia memandanginya cukup lama. Memang setiap benda yang memiliki kenangan, meski ada dan dipajang setiap hari, tak pernah bosan untuk dinikmati.

Oei kembali berjalan menuju kursi tempat kami semula berbincang. Ia duduk. Matanya memandang nanar ke tiap sudut ruangan perpustakaan. Sebagian besar foto yang dipajang adalah foto-foto Bung Karno. Ayah dua anak itu memang Soekarnois sejak muda. Sayang, kedekatannya itu di kemudian hari membawanya pada peristiwa-peristiwa pahit sepanjang hidupnya. Namun tak sekalipun ia mengeluh atau memendam sesal dan dendam.

“Sebenarnya dua kali saya bertemu Bung Karno. Pertemuan terakhir di Istana Negara, pada tanggal 29 September 1965,” ungkapnya. Itulah kali terakhir Oei bertatap muka dengan Bung Besar. Setelah itu ia melanglang buana. Dari penjara ke penjara. (Doan Widhiandono-Guruh Dimas Nugraha)

 

Sumber: Harian Di’s way, 3 April 2021

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *