Seri 2. Oei Hiem Hwie. Merawat Sejarah. Tangan Bung Karno Bisa Nyetrum. Harian Di’s way. 2 April 2021. Hal.6,7

Oei Hiem Hwie, mantan tahanan politik Pulau Buru dan penyelamat naskah tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer itu, memulai kariernya sebagai jurnalis. Tugas pertamanya cukup berat. Jurnalis pemula tapi langsung diserahi amanat untuk mewawancarai Presiden.

Pria tua itu beranjak dari tempat duduknya. Tangannya melambai-lambai, menyuruh Harian Disway agar mengikutinya dari belakang. Usianya telah sepuh meski masih terlihat gagah. Langkah kakinya perlahan dan terseok-seok. Namun itu tak menghalangi antusiasmenya untuk bercerita tentang pengalaman masa lalunya.

Sambil berjalan, Oei menceritakan pengalaman masa lalunya saat menjadi jurnalis. Setelah kuliah di Akademi Ilmu Politik dan Hukum Universitas Malang, Oei sempat mengikuti kursus jurnalistik dengan Manan Adinda, staff Goei Poo An, pimpinan harian Terompet Masjarakat. Lalu ia dikuliahkan di Akademi Pro Patria, Yogyakarta. Mengambil jurusan jurnalistik.

Setelah lulus dan mendapat ijazah dari Jogja, ia menunjukkan ijazahnya itu pada para petinggi harian Terompet Masjarakat. Oei kembali mendapat pelatihan oleh Manan Adinda selama satu tahun. Setelah itu barulah ia ditugaskan liputan.

“Ikut saya. Dokumentasikan ijazah saya sebagai lulusan Pro Patria masih ada,” ujarnya. Ia berjalan menuju ruang samping perpustakaan Medayu Agung. Rupanya ruangan itu selain difungsikan sebagai tempat pemajangan sertifikat dan ijazah Oei, juga dipakai sebagai ruang kantor. Di situ ada dua pegawainya yang sedang serius mengerjakan sesuatu.

“Jangan sungkan. Masuk saja. Nah, ini ijazah saya sebagai tahanan Pro Patria,” ujarnya sambil menunjuk kertas lawas yang dibingkai. Ternyata benar. Kertas itu adalah ijazah. Ejaannya masih memakai ejaan lama dan tertulis angka tahun 1962. Terdapat pula foto Oei semasa muda. Waktu itu usianya masih 27 tahun. Lalu Oei melanjutkan ceritanya.

Setelah merasa puas terhadap perkembangan tulisan Oei, Manan, staff Goei Poo An memberinya mandate. Tugas pertamanya adalah interview dengan sosok terkenal. Oei tanya, “siapa?”. Dengan tegas Manan menjawab, “Bung Karno!”.

Meski merinding mendengar tugas itu, Oei bertanya tentang cara untuk menemui Bung Karno. Apakah ia harus pergi ke istana negara? Atau bagaimana?

“Dua hari lagi Bung Karno ada acara di Malang. Sambutlah di bandara. Bilang saja kalau kamu jurnalis Terompet Masjarakat,” ujar Manan pada Oei.

Pada hari yang ditentukan, sepagi mungkin Oei telah berada di bandara Abdulrachman Saleh, Malang. Ia menantikan kehadiran presiden pertama Republik Indonesia itu.

Ketika pewasat kepresidenan tiba, para pengawal Bung Karno segera bersiap. Mereka menghalau orang yang berusaha mendekat. Kecuali Oei. Pasalnya, ia telah memberi tahu bahwa dirinya berasal dari Terompet Masjarakat. Jurnalis dari harian itu memang diistimewakan, karena Haluan politiknya mendukung arah kebijakan Soekarno.

“Saya melihat Bung Karno datang. Ketika itu beliau menyalami para pegawai pemerintahan yang turut menyambutnya. Terakhir, ia berdiri di hadapan saya,” ungkap Oei.

Waktu itu ia gugup. Salah satu pengawal memberitahukan pada Presiden bahwa pria di hadapannya adalah jurnalis dari Terompet Masjarakat. Si Bung menatap Oei dari ujung rambut sampai ujung kaki. Oei tampak menunduk, gugup dan berusaha tersenyum. Tak berani menatap. Hingga ia lihat uluran telapak tangan Bung Karno padanya.

Oei menjabat tangan sang Proklamator. Lalu Oei terkejut. Telapak tangan Bung Karno seperti dialiri listrik. Lengan hingga wajah Oei rasanya tersengat.

“Betul! Wibawanya itu membuat siapa pun tak berani memandang. Bersalaman dengannya, tangan saya seperti kesetrum!” ungkapnya sambil mengetar-getarkan tangannya sampai ke Pundak. Seolah ingin memeragakan peristiwa saat itu. Bahkan ekspresinya pun ia peragakan. Oei memang menjiwai saat bercerita.

“Bung, kenapa tanganmu bergetar? Kamu takut pada saya?” kata Bung Karno waktu itu. Lalu tertawa. Saat itulah Oei mulai berani memandang Bung Karno dan tersenyum padanya.

“Mau wawancara? Di istana negara saja. Sekarang kamu ikut saya,” perintah Bung Karno pada Oei. Ia menurutinya. Saat itu Oei diajak Bung Karno bersafari ke berbagai tempat di Kota Malang. Sore harinya, Oei bersama rombongan presiden terbang ke Jakarta. Menuju istana negara.

Oei tersenyum mengenangnya. Baginya, peristiwa itu adalah momen terindah dalam hidupnya.

Sampeyan tahu, kira-kira apa yang saya dapatkan di istana negara?” tanyanya pada Harian Disway. Tentu saja Harian Disway menggelengkan kepala. “Ini!” serunya tiba-tiba sambil menunjuk ke arah sebuah benda yang tergeletak di lemari kaca.

Benda itu adalah jam tangan.

Ada apa dengan jam tangan?

 

Sumber: Harian Di’s way, 2 April 2021

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *