Seri 1. Oei Hiem Hwie. Merawat Sejarah. Sejak Kecil Tertarik Jurnalistik. Harian Di’s way. 1 April 2021. Hal.6,7

Jika saja Oei Hiem Hwie tak berupaya menyelamatkan naskah Pramoedya Ananta Toer, maka kita tak pernah tahu tetralogy dahsyat yang menghiasi khazanah sastra Indonesia. Oei masih sehat dan segar bugar. Meski langkahnya terseok. Perjalanan hidupnya penuh warna. Sedih, luka dan letih. Sebagian besar kenangan itu masih melekat di benaknya.

 

Setiap pagi, Oei selalu hadir di Perpustakaan Medayu Agung miliknya. Terletak di jalan Medayu Selatan gang IV no. 22-24. Oei masih menjalani rutinitasnya seperti biasa. Membaca berlembar-lembar koran, buku, lalu berkeliling untuk menyapa satu per satu stafnya. Ia bahkan telah hadir lebih pagi dari jadwal wawancara dengan Harian Disway kemarin.

Duduk di kursi ruang tamu, Oei masih setia dengan kemeja favoritnya yang bermotif batik. Tubuhnya masih kekar, tinggi semampai. Namun kini sedikit membungkus. Garis-garis wajahnya seakan kumpulan aksara yang membentuk rangkaian panjang jalan hidupnya. Memandangnya seperti memandang sebuah ketegaran. Keteguhan tanpa akhir.

“Ini nanti difoto juga ta? Dandanono fotoe yo cek aku ketok enom titik,” ujarnya memulai pembicaraan. Ia ingin jika difoto nanti, fotonya diedit. Agar terlihat lebih muda. Oei memang sosok humoris. Lekat dengan candaan-candaan. Kontras dengan masa lalunya yang keras. Sama sekali tak terlihat seperti pria yang pernah menghabiskan 13 tahun masa tahanan.

Oei adalah pria asli Malang. Tepatnya dari desa Lowokwaru. Tanah kelahiran sekaligus tanah yang kelak memenjarakannya. Ia adalah anak seorang pedagang yang berkeinginan kuat menjadi jurnalis. Kedua orang tuanya sebenarnya menolak niatnya. Karena sebagai anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga Tionghoa, seharusnya Oei meneruskan usaha berdagang ayah ibunya. Bukannya bekerja di bidang lain.
“Sempat ditolak. Tapi saya tetap teguh pada pendirian. Apalagi saya suka kalau lihat jurnalis. Bisa keliling, menulis dan bertemu banyak orang,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara itu. Ia sedari kecil memang gemar menulis. Menuliskan apa pun yang diamati maupun menulis tentang perasaan-perasaannya. Terlebih pada masa itu, Oei memandang profesi jurnalis laiknya seorang raja. Siapa saja pasti menaruh segan dan hormat bila bertemu seorang jurnalis.

“Tapi di balik segala penghormatan, profesi jurnalis dulu dijalani dengan sangat keras. Kalau jurnalis sekarang enak. Tinggal buka Google,” ujarnya. Kerasnya kerja jurnalis masa itu adalah minimnya bahan atau sumber lain yang sulit didapatkan. Oei sedari kecil memahami hal itu. Bahkan ketika SD ia mulai mengumpulkan dan menyimpan surat kabar. Siapa tahu besok ketika jadi jurnalis, ia dapat menemukan narasi tambahan dari artikel-artikel surat kabar itu.

Kegemaran Oei terhadap profesi jurnalis semakin menguat. Terlebih tetangga depan rumahnya yang bernama Na Hong Siong adalah jurnalis surat kabar Terompet Masjarakat. Ia kerap memberikan tulisan-tulisannya pada tetangganya itu. Ia meminta untuk dikoreksi. Diajak menulis dengan baik, juga kerap diajak liputan.

Dengan kata lain, Na Hong Siong adalah guru pertamanya dalam jurnalistik. “Pak Na Hong Siong yang banyak menuntun saya dalam menulis. Termasuk bertanya tentang tema-tema penulisan yang saya minati,” ungkap pria berusia 85 tahun itu. Oei selama ini berminat dengan tema-tema politik. Gurunya itu pula yang menyuruhnya agar kelak setelah lulus SMU, melanjutkan kuliah jurusan politik. Demi mendalami niatnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat dasar hingga SMA di sekolah Tionghoa Hwie Kwan, Malang. Oei menuruti saran Na Hong Siong. Ia melanjutkan kuliah ke Akademi Ilmu Politik dan Hukum di kota Malang.

Ia dengan tekun mempelajari ilmu politik dan hukum. Dari studinya itu Oei menyerap banyak ilmu. Ia banyak menulis tentang politik, baik esai maupun tulisan-tulisan jurnalistik. Karya tulis Oei juga pernah dikirimkan ke media massa dan dimuat. Saat itulah Na Hong Siong, yang intens membaca tulisan-tulisan Oei mulai menangkap kesungguhan muridnya itu.

“Suatu siang, Pak Na Hong Siong mendatangi rumah saya. Memberitahukan bahwa pimpinan harian Terompet Masjarakat akan singgah ke rumahnya. Saya disuruh datang,” ungkapnya. Tanpa pikir panjang Oei menyetujuinya. Ia mulai menyiapkan naskah-naskah tulisannya. Dengan harapan ketika bertemu pimpinan, ia dapat menunjukkannya. “Siapa tahu dia suka, dan saya diangkat jadi jurnalisnya,” tambahnya.

Pada hari yang telah ditentukan, sedari pagi Oei telah bersiap di rumah Na Hong Siong. Seseorang yang dinantikan akhirnya tiba. Ialah Goei Poo An, pimpinan harian Terompet Masjarakat. Harian ternama yang ketika itu berkantor di sebelah timur Tugu Pahlawan. Sekarang jadi kantor gubernur Jawa Timur.

Na Hong Siong berbincang-bincang dengan pimpinannya, lalu mengenalkan Oei padanya. “Pak pimpinan, ini Oei Hiem Hwie. Anak ini berbakat menulis. Mungkin bisa dibaca dulu tulisan-tulisannya,” ujar Na Hong Siong ketika itu, seperti dituturkan oleh Oei.

Oei pun menyerahkan naskah-naskahnya. Ketika usai berbincang serius dengan Na Hong Siong, Goei Poo An tampak kembali serius membaca naskah-naskah Oei. Lembar per lembar dibalik, dibacanya dengan tuntas.

“Oei, kamu mau jadi jurnalis?” tanya Goei Poo An.

Oei mengangguk.

“Kursus dulu di Manan Adinda, lalu berangkatlah ke Yogyakarta. Kuliah lagi di Akademi Pro Patrial,” perintah Goei Poo An pada Oei. Namun ketika itu Oei belum menyelesaikan studinya di akademi Malang.

Jadi selagi Oei menyelesaikan studinya, ia juga mengikuti kursus jurnalistik pada Manan Adinda, staff Goei Poo An. Kemudian melanjutkan kuliah di Akademi Pro Patria. Ia dijanjikan setelah lulus, diterima sebagai jurnalis Terompet Masjarakat.

“Saya dengan segera menyelesaikan kuliah pertama saya. Lalu langsung ke Surabaya, ke kantor Terompet Masjarakat. Dibiayai penuh, saya mendaftar di Pro Patria dan diterima,” ungkapnya. Sekitar empat tahun lamanya Oei kuliah dan lulus dengan nilai tinggi. Sesuai janji Goei Poo An, Oei langsung diangkat sebagai jurnalis Terompet Masjarakat.

“Tugas pertamamu adalah mewawancarai tokoh terkenal!” perintah Manan Adinda pada Oei.

“Siapa?”

“Bung Karno!”

Oei menelan ludah. Tubuhany menggigil. Ia menerima tugas pertamanya yang sungguh berat: Mewawancarai pemimpin tertinggi Republik.

(Doan Widhiandono-Guruh Dimas Nugraha)

 

 

Sumber: Harian DI’s Way, 1 April 2021

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *