Seramnya Dampak Kekurangan Vitamin D. Harian Disway. 27 Januari 2022. Hal. 42-43

Dalam era pandemi yang tak berkesudahan seperti sekarang, masyarakat selalu panik dan latah. Mencari tahu obat apa saja yang terbaik untuk menaikkan imumintas tubuh. Di berbagai literatur, ada yang menganjurkan minum vitamin D dosis tinggi. Ada juga yang menyarankan berjemur setiap hari. Mana metode yang paling oke untuk mendapatkan asupan vitamin D?

DI SELURUH dunia, diperkirakan satu miliar orang mengalami kekurangan vitamin D. Karena itu, pihak berwenang di bidang kesehatan perlu mempertimbangkan untuk memberikan suplemen bagi mereka yang paling berisiko kekurangan vitamin D.

Perempuan Indonesia rata-rata mengalami defisiensi vitamin D. Sebab, karunia Tuhan berupa sinar matahari yang berlimpah malah dihindari. Kita takut berjemur. Takut hitam kena matahari. Sedangkan di Eropa, karena matahari merupakan barang mewah, malah ditunggu tunggu. Berjemur jadi kebiasaan. Dan pada musim dingin, mereka mengonsumsi suplemen vitamin D.

Jadi, perempuan Indonesia itu ibarat tikus mati di lumbung padi. Matahari berlimpah, tapi tidak mau terkena matahari. Padahal, kekurangan vitamin D berdampak pada pengeroposan tulang, lupus, kanker, lemas lesu, dan penyakit lainnya.

Sebenarnya, vitamin D bisa didapatkan dari makanan. Misalnya seperti salmon, susu, dan sebagainya. Namun, vitamin D dari bahan-bahan makanan itu hanya bisa diaktifkan jika tubuh kita mendapatkan paparan sinar matahari. Kalau hanya meningkatkan konsumsinya, bahkan dengan vitamin D dosis tinggi pun. tidak akan efektif tanpa matahari.

Vitamin D juga dapat ditemukan pada minyak hati ikan, telur dan ikan berlemak seperti salmon, ikan haring dan makerel, atau diperoleh sebagai suplemen, Tapi, sekali lagi, ia hanya berfungsi aktif jika kita berjemur. Sebab, sebagian besar vitamin D dibuat sendiri oleh tubuh sebagai produk sisa alami dari kulit yang terpapar sinar matahari.

Kelebihan vitamin D dapat menimbulkan penyakit. Demikian juga kekurangan vitamin D. Karena itu, sangat penting memenuhi kebutuhan harian sesuai dosis yang dianjurkan.

Vitamin D mempengaruhi DNA melalui sesuatu yang disebut Vitamin D Receptor (VDR), yang terikat pada lokasi khusus dari gen manusia. Heger dan timnya memetakan titik-titik tersebut dan mengidentifikasi lebih dari 200 gen yang dipengaruhi secara langsung.

Kekurangan vitamin D merupakan faktor risiko yang dikenal untuk penyakit rickets, sejenis penyakit yang biasa terjadi pada bayi dan anak-anak dan menyebabkan metabolisme tulang terganggu. Sehingga pertumbuhan tulang tidak normal. Penyakit ini biasanya ditandai oleh bengkoknya tulang kaki sehingga berbentuk seperti huruf O.

Defisiensi vitamin D bisa menyebabkan keletihan, nyeri otot umum dan lemas, kram otot, nyeri sendi, hingga nyeri kronik. Ia bahkan, berpengaruh terhadap kenaikan berat badan, tekanan darah tinggi, membuat tidur gelisah, konsentrasi yang buruk, serta sakit kepala.

Riset terbaru para ahli mengindikasikan bahwa masalah kekurangan vitamin D tidak bisa dianggap sepele. Defisiensi vitamin D bisa berdampak serius terhadap kesehatan karena vitamin itu mempengaruhi lebih dari 200 gen. Termasuk yang berkaitan dengan kanker dan penyakit autoimun.

Hubungan Vitamin D dengan Penyakit Autoimmum

Berdasarkan sejarahnya, vitamin D berhubungan dengan regulasi dari metabolisme tulang. Namun data terbaru menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara vitamin D dengan beberapa proses biologis yang berhubungan dengan regulasi respon imunitas.

Penemuan tentang reseptor vitamin D pada berbagai segmen sel-sel imun seperti pada monosit, sel dendrit dan sel T teraktivasi, menunjukkan adanya pengaruh dari vitamin D dalam proses modulasi fungsi imunologi dan bagian bagiannya dalam perkembangan dan pencegahan penyakit autoimun.

Dari review yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Reviews in Allergy & Immunology pada Januari 2013, diketahui bahwa paling tidak ada lima hal utama tentang dampak vitamin D dalam hubungannya dengan sistem imunitas. Kelima hal terebut meliputi:

  1. metabolisme vitamin D
  2. reseptor vitamin D polimorfisme pada penyaki autoimun seperti; DM tipe 1, SLE (systemic lupus erythematosus) sklerosis multiple,
  3. regulasi reseptor vitamin D terhadap sel-sel imunitas di semua lini, termasuk Th1, Th17, Th2 regulator dan sel T NK,
  4. prevalensi defisiensi vitamin D pada pasien sklerosis multipel, DM tipe 1 dan SLE (systemic lupuserythematosus),
  5. efek terapi pemberian vitamin D terhadap progresivitas dan keparahan peyakit autoimun.

Sejumlah ilmuwan Inggris dan Kanada menemukan, vitamin D berpengaruh kuat terhadap gen-gen yang berkaitan dengan beragam jenis penyakit seperti kanker dan jenis penyakit autoimun seperti multiple sclerosis. Kondisi itu dapat meningkatkan kerentanan terhadap penyakit autoimun seperti multipel sklerosis, rheumatoid arthritis dan diabetes tipe 1, beberapa jenis kanker, bahkan kepikunan (demensia).

Tim itu mengamati daerah yang berkaitan dengan penyakit dari peta gen itu mengetahui apakah mereka memiliki kadar ikatan VDR yang lebih tinggi. Mereka menemukan bahwa ikatan VDR “cukup tinggi” pada daerah yang berkaitan dengan sejumlah penyakit autoimun seperti multipel sklerosis, diabetes tipe 1 dan penyakit Crohn’s. Serta di daerah yang berkaitan denga kanker seperti leukimia dan kanker usus besar,

Sreeram Ramagopalan, dari Wellcome Trust Center – for Human Genetics di Universitas Oxford, mengatakan hasil penelitian itu, yang dipublikasikan dalam jurnal Genome Research, menunjukkan “betapa pentingnya vitamin D bagi manusia.”

Sejumlah ahli mengatakan, setengah jumlah penduduk dunia memiliki kadar vitamin D lebih rendah dari tingkat optimal. Dan sekitar satu miliar orang kekurangan vitamin D. Masalah itu memburuk karena orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu di ruang tertutup.

Sebuah studi yang dipublikasikan Maret lalu menemukan vamin D penting untuk mengaktifkan pembunuh pada sistem kekebalan tubuh yang dikenal dengan sel T, yang dapat nyebabkan infeksi jika darah kekurangan vitamin D.

Ramagopalan mengatakan, studi terbaru itu menunjukkan bah vitamin D memainkan peran dam “korentanan penyakit dan pihak berwenang perlu mempertimbangkan untuk memberikan suplemen kepada wanita hamil dan anak-anak muda sebagai langkah pencegahan. Suplemen vitamin D selama masa kehamilan dan tahun-tahun awal anak dapat memberikan dampak menguntungkan pada kesehatan anak pada masa selanjutnya.

Dosis Vitamin D

Nah, berapa dosis vitamin D yang aman? Menurut dia, sejumlah negara seperti Prancis memberikan suplemen vitamin D secara rutin sebagai kebijakan kesehatan masyarakat. Belum ada studi definitif tentang dosis optimal harian vitamin D, tetapi sejumlah ahli merekomendasikan 25 hingga 50 mikrogram.

Menurut Institute of Medicine pada 2010 kebutuhan harian (daily value) vitamin D untuk usia 9 sampai 70 tahun adalah 600 iu hingga 4000 iu perhari. Cara yang diketahui efektif untuk mendapatkan vitamin D adalah dengan memaparkan kulit ke sinar matahari antara pukul 8 sampai 11 setiap pagi selama 10 hingga 15 menit. Nah, ayo berjemur! (Retna Christa-“)

 

Sumber: Harian Disway. 27 Januari 2022. Hal. 42-43

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.