Selera Seni Sang Begawan Properti. Bisnis Indonesia. 25 Agustus 2018. Hal.13_Ciputra

“Saya bisa demikian marah dan tegas ketika melihat ketidakberesan di area kerja karena kelalaian manusia. Tapi saya bisa menangis haru di hadapan sebuah lukisan yang sangat indah. Saya seorang yang keras terhadap hidup. Tetapi sebaliknya, saya juga mudah tersentuh..”

 

Untaian kalimat itu muncul dan menjadi penanda utama dalam salah satu bab dari buku biografi sosok Dr.(HC) Ir.Ciputra. dalam buku berjudul Ciputra The Entrepreneur The Passion of My Life, secara selayang pandang menceritakan bagaimana kepekaan rasa dan jiwa seni dari sosok mendapatkan julukan Begawan Properti Indonesia ini.

Menjadi pengusaha yang sangat sukses di bidang properti, tidak kemudian membuat pendiri dan chairman Ciputra Business Group ini lupa untuk mengelola rasa seninya. Di kalangan kolektor seni, sosok yang satu ini dikenal sangat tajam dan terampil dalam menilai karya seni.

Kecintaannya terhadap lukisan karya mestro seni Hendra Gunawan, menggiringnya menjadi kolektor yang terbesar di negeri ini.

Komitmennya terhadap kesenian tidak hanya cukup dengan menjadi kolektor benda seni. Pada Juli 1977, Ciputra mendirikan pusat kesenian yang bernama Pasar Seni Taman Impian Jaya Ancol.

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, sedangkan peremiannya dilakukan oleh Gubernur Tjokropranolo pada 17 Desember 1977.

Sejak diresmikan, pasar seni yang didirikan di atas lahan seluas 5,25 hektare ini mendapatan sambutan dari kalangan seniman dan pelaku seni di Tanah Air. Tempat ini juga menjadi saksi bisu proses perdamaian antara dua maestro seni kenangan yakni S.Sudjojono dan R.Basoeki Abdullah.

Ciputra menjadi juru damai dan mengakhiri perseturuan antara pak Djin, demikian S.Sudjojono sering disapa, dan pak Bas, sebutan akrab Basoeki Abdullah. Pada zaman itu, perseturuan antara keduanya menajam karena Pak Djon yang dijuluki sebagai Bapak Seni Indonesia Modern tersebut mengkritik lukisan mooi indie yang serba molek.

Pak Djon menganggap bahwa lukisan mooi indie hanya mengumbar kemolekan Nusantara dan melenakan masyarakat yang sesungguhnya dalam kondisi terjajah.

Pak Bas yang masuk dalam jajaran seniman dengan aliran renaissance dan naturalis ini tidak luput mendapatkan kritikan pedas.

 

 

INISIATIF

Ciputra yang bersahabat baik dengan para maestro seni itu, berusaha mendamaikan dengan mengajak mereka untuk melukis bersama di Pasar Seni Ancol. Seniman Affandi Koesoema yang juga dikenal baik oleh Ciputra tak ketinggalan untuk diajak.

Dengan cara yang dipilih oleh Ciputra itu, konflik keduanya mulai mencair. Dalam satu kanvas, seniman Affandi melukis wajah Basoeki Abdullah. S.Sudjojono melukis wajah Affandi, dan Basoeki Abdullah melukis S.Sudjono dan Ciputra.

Lukisan yang dibuat pada 30 Oktober 1985 itu masih disimpan rapi di kediaman pribadi Ciputra. Lukisan bersejarah tersebut disandingkan dengna koleksi lukisan Ciputra yang merupakan karya old master a.l.Basoki Abdullah, S.Sudjojono, Lee Man Fong, Le Mayeur, dan Rudolf Booner yang terpacak di dinding.

Bagi Ciputra, pasar seni Ancol memberikan kenangan tersendiri. Di tempat ini pula, dia memamerkan sejumlah lukisan karya Hendra Gunawan selepas keluar dari penjara Kebon Waru, Bandung.

Hubungan antara Ciputra dan Hendra Gunawan tidak berhenti sebagai hubungan antara kolektor dan seniman. Hubungan keduanya mencapai harkat persaudaraan di mana Ciputra pun berjanji untuk mendirikan Museum yang berisi Lukisan Karya Sahabatnya ini, dan dapat dinikmati oleh para pecinta seni.

“Saya akui [kehebatan] seniman-seniman lain [Basoeki Abdullah, Affandi, dan S.Sudjjono], tetapi yang paling saya kagumi adalah Hendra Gunawan. Karyanya sungguh luar biasa. Mulai dari warna, komposisi, dan figur yang dilukiskan,” tuturnya.

Janji Ciputra tertuaikan sudah. Pada 2015, didirikan Ciputra Artpreneur yang terdiri dari riang pameran, Ciutra Museum, Art Show, dan Ciputra Theater. Kawasan ini berada di lantai II superblok Ciputra World, Jakarta.

Kebahagiaan tidak dapat dilepaskan dari wajah sang Begawan, ketika pada 4 Agustus lalu, dipamerkan 32 karya lukis dan sketsa Hendra Gunawan yang belum pernah ditampilkan ke hadapan paran pecinta seni.

Pameran berskala besar dengan bertajuk Hendra Gunawa: The Prisoner of Hope ini gelar dalam rangka merayakan 100 tahun Hendra Gunawan.

Melalui pameran itu, Ciputra mengharapkan agar para pecinta seni di Tanah Air dapat karya salah satu maestro seni lukis Indonesia. “Hendra adalah pelukis langka dan memiliki ciri khas yang tak dimiliki oleh seniman lainnya. Di belahan dunia lain, tak ada seniman yang menyamai pencapaiannya.”

Totalitas dan konsistensi Ciputra dalam mengabdikan diri pada pelestarian karya seni memang patut diacungi jempol. Kesibukannya dalam bisnis tidak mengikis selera seni dan olah rasanya dalam berkesenian. Dia juga dikenal sebagai sosok yang sangat terbuka untuk bertukar pikiran dengan seniman dan pelaku seni di Tanah Air.

“Saya selalu sampaikan kalau membuat karya itu harus bagus sehingga bisa dijual. Saya ingin seniman bisa merdeka secara ekonomi, dan tidak mengulangi hal yang pernah dialami oleh Hendra pada masa tuanya. Pedagang bisa kaya, padahal seniman berhak sejahtera,” tegasnya.

Sumber : Bisnis-Indonesia.25-Agustus-2018.Hal.13_Ciputra

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *