Sejak 1927, Kantor PMK di Jalan Psar Turi (20)_De Facto Pendirian De Brandweer dari Foto Daendels. Radar Surabaya. 3 Oktober 2020. Hal.3,7. Library

“Sejak berlakunya Perda Tingkat II Surabaya No 24/1987, De Brandweer te Soerabaja berganti nama menjadi Dinas Pemadam Kebakaran Daerah Kotamadya Tingkat II Surabaya. Namun setelah berlakunya UndangUndang No 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka melalui Perda No 3/2001 tentang Organisasi Dinas Kota Surabaya, Dinas Pemadam Kebakaran berganti nama menjadi Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya,” Rahmat Sudrajat

             KEMUDIAN berdasarkan Perda Kota Surabaya No. 8 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah, maka Dinas Pemadam Kebaka- ran disempurnakan dengan Dinas Kebakaran (Dinas PMK) Kota Surabaya.

Menurut pustakawan sejarah dari Universitas Ciputra, Chrisyandi Tri Kartika, untuk menilai dan menginterpretasikan data sejarah lahir atau berdirinya sebuah organisasi dapat ditinjau dari dua aspek. Yakni waktu berdirinya organisasi dan peristiwa terjadinya sesuatu yang mendukung keberadaan organisasi itu.

Waktu berdirinya organisasi de Brandweer te Soerabaja tahun 1810,  terjadi jauh sebelum Perang Dipono goro meletus pada tahun 1825-1830 di Jawa Tengah. Apalagi, pendirian de Brandweer atau Pasukan Pemadam Kebakaran Batavia itu baru diorganisir pada tahun 1873.

“Di Kota Surabaya, urusan de Brandweer mulai diorganisir pada tanggal 4 September 1810. Memang ada reglimen (undang-undang)-nya sesuai dengan buku Oud Soerabaia yang ditulis G.H Von Faber pada tahun 1930,” jelasnya.

Secara de jure, bukti itu memang kelihatan lemah. Namun siapa yang tidak kenal sejarahwan dan arkeolog Belanda G.H. Von Faber yang mendiriakn museum Mpu Tantular di tengah Kota Surabaya.

Namun secara de facto bahwa de Brandweer mulai diorganisir pada tanggal 4 September 1810 dapat ditunjukkan dengan foto pendiri de Brandweer yakni seorang jenderal berkebangsaan Perancis, Mr. Herman Willem Daendels.

Selain itu, peristiwa terjadinya sesuatu yang mendukung perkiraan berdirinya organisasi dengan peristiwa Prancis kalah telak dalam perang dengan Inggris pada tahun 1814 dan hasil Kongres Vienna tahun 1815 yang membuat Belanda memperoleh kedaulatan kembali untuk menguasai tanah Hindia Belanda.

“Dari kedua aspek tersebut, dapat dipahami bahwa Perancis sebagai pendiri de Brandweer Surabaya tidak meninggalkan dokumen de jure apapun, namun hanya meninggalkan bukti de facto,” jelasnya.

Selepas itu, perjalanan de Brandweer Surabaya berjalan sebagaimana biasanya dengan menggunakan alat pompa manual yang ada, dan tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat sampai akhirnya bertemu dengan penguasa baru dari tanah Hindia Belanda. “Ini sebagai babak baru perkembangan de Brandweer di bawah kendali Pemerintah Kerajaan Belanda,” katanya. (bersambung/jay)

 

 

Sumber: Radar Surabaya. 3 Oktober 2020. Hal. 3 ,7

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *