Sejak 1927, Kantor PMK di Jalan Pasar Turi (14)_ Awal Berdiri, Brandweer Punya Empat Kepala Pemadam. Radar Surabaya. 26 September 2020. Hal.3,7

“Berbeda dengan saat ini, struktur kepegawaian di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya yang bernama De Brandweer te Soerabaia masih didominasi warga Belanda, Para pribumi kebanyakan hanya dijadikan pekerja penarik gerobak air ataupun selang air,” Rahmat Sudrajat

            DI zaman kolonial dulu, aparat pemadam kebakaran terdiri dari empat orang kepala pemadam dengan delapan wakil kepala pemadam. Mereka dibantu oleh delapan orang sersan dan sejumlah kopral. Semuanya diambilkan warga Eropa berkewarganegaraan Belanda.

Untuk kepala pernadam dipilih seorang mandor pembuat roda, mandor pembuat tali, mandor pabrik ember, dan beberapa orang lainnya. Namun setelah terbentuknya pemerintahan otonom Gementee Soerabaia pada 1906, susunan kepegawaian dirombak menjadi lebih ramping. Kepala pemadam diangkat satu orang dibantu dua orang wakil. Sedangkan jabatan sersan dan kopral dihapuskan.

Kepala pemadam kebakaran pertama yang tercatat dalam sejarah adalah Mr. PJ de Vries yang memimpin De Brandweer te Soerabaia mulai tahun 1915 sampai tahun 1927. Ia didampungi dua orang wakil yakni H. Ph. Cramer sebagai wakil kepala I dan D. W. Z. de Vries sebagai wakil kepala II. Pada 1927, de Vries yang sudah uzur mengundurkan diri dan digantikan wakilnya yang lebih muda J van Cleves.

Pustakawan sejarah (librarian) dari Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, agar para petugas ini bisa saling mengenal maka mereka menggunakan sebuah tanda khusus. Untuk kepala pemadam kebakaran menggunakan sebuah rotan perak dan terclapat simbol Kerajaan Belanda yang disematkan di bajunya.

Sedangkan untuk wakil kepala pemadam kebakaran menggunakan tongkat kayu berwarna merah. “Untuk sersan dan kopral menggunakan sebuah ikat kulit di lengannya dengan huruf pemadam,” terangnya.

Kemudian bagi pemadam atau kelompok pertama yang datang terlebih dahulu di lokasi kebakaran akan mendapatkan premi sebesar 50 gulden (f 50) atau setara dengan Rp 8.347 (kurs September 2020). Sedangkan kelompok kedua mendapatkan premi f 25 dan seterusnya.

Karena jumlah personel dan peralatan yang minim, situasi sulit dirasakan de Brandweer saat itu. Jumlah

pasukan terlatih yang minim membuat mereka tak bisa berbuat banyak. Apalagi, alat yang digunakan untuk memadamkan api masih manual menggunakan gerobak berisi air yang harus digenjot (dipompa) untuk memadamkan api. “Untuk penarik gerobaknya ini berasal dari pribumi,” katanya.

Di pertengahan abad kedua sebagai pengganti pompa tangan digunakan pompa bertenaga uap. Kepala pemadam (kepala dinas) yang bergaji tetap dari Gementee mendapat- kan mandat untuk melakukan pengawasan setiap hari. “Kepala dinas ini harus bertanggung jawab pada perawatan alat dan juga pelatihan pemadam pribumi,” ujarnya. (bersambung/jay)

 

Sumber: Radar Surabaya. 26 September 2020. Hal. 3,7

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *