Sedap Cuan Kedai Mi Instan Kekinian. Kontan Mingguan. 3-9 Januari 2022. Hal. 14-15

Peluang usaha warung mi instan kekinian masih terbuka karena penggemarnya banyak. Meski warung kian menjamur, marginnya tetap tebal.

Di banyak kota, warung kopi yang bersanding dengan kedai mi instan itu sudah ada sejak lama dan eksis hingga kini. Warung semacam ini, mudah dijumpai terutama di kota besar atau daerah dengan banyak sekolah dan kampus.

Belakangan, warung mi instan mengalami perubahan yang cukup signifikan. Kalau di warung mi instan lama, kita hanya bisa menemukan menu sesuai rasa di bungkus mi saja, kini beberapa pengusaha menyediakan lebih beragam rasa, dari rendang, sate, ala-ala korea, hingga bermacam topping seperti sosis, bakso, salmon dan sebagainya.

Penampilan warung mi instan kekinian juga berbeda. Mereka menata varian mi di rak akrilik, hingga lebih menggoda. Pembeli yang datang, bisa langsung mengambil mi yang diminati dari rak, plus topping yang dipilih. Istilah warung mi instan self service.

Perubahan ini sekaligus memperluas segmen pasar. Jika warung mi instan konvensional lebih banyak disambangi kaum pria, sekaligus untuk nongkrong, warung kekinian ini mendapatkan pembeli wanita dan keluarga pula.

“Kalau warung mi gaya lama, pembeli perempuan segan, karena sungkan sama laki-laki yang nongkrong,” jelas Andri Sukmana, pemilik Warung Dari Kecil di Depok.

Pembeli di warung Andri yang seluas 50 meter persegi itu kebanyakan dari kalangan keluarga. “Karena varian mie banyak, topping banyak. Jadi cocok untuk keluarga. Harga terjangkau,” jelas Andri yang memulai usaha warung mi instan pada pertengahan 2021. Hal ini diamini Siti Choiryatul Tasrifah, pemilik Hasanah Kitchen. Siti, yang akrab disapa Ifa bilang, warungnya di area kampus, banyak didatangai kalangan keluarga. “Target marketnya memang mahasiswa tapi yang datang justru dari banyak kalangan,” jelas Ifa.

Sebelum menawarkan olahan mi instan, Hasanah Kitchen yang berdiri 2018 merupakan warung makan yang menyajikan aneka lauk pauk. Saat jalan-jalan ke Jogja, Ifa heran dengan banyaknya warung mi instan di sana. “Saya dapat ide dari situ,” jelas Ifa.

Nah, pada pertengahan tahun lalu, Ifa mengubah kedainya jadi warung mi instan kekinian.

Langkah itu membuat Ifa meraih sukses. Dengan menawarkan lebih dari 30 varian mi instan dari Indomie, Mie Sedaap, dan Megah Mie Ifa mampu meraup omzet Rp 1 juta per hari. Omzet akan naik di akhir pekan. “Supaya pembeli tak bosan kami menawarkan 40 varian topping,” jelas Ifa.

Andri yang menawarkan 20 varian mi dengan 18 topping dalam sehari mampu meraup omzet Rp 800.000. Jika di akhir pekan bisa sampai Rp 2 juta. “Lumayan hasilnya sejauh ini, apalagi saya baru mulai usaha,” jelas Andri yang sebelumnya bekerja di perusahaan swasta.

Ifa dan Andri, menilai usaha mi instan dengan konsep self service ini bukan sekadar usaha kekinian yang berusia pendek. “Mi instan sekalipun bisa dibuat sendiri di rumah, pasti akan beda kalau dinikmati di warung,” sergah Ifa. Kelebihan mi bikinan warung adalah topping dan varian rasa.

“Penikmat mi instan itu banyak, jadi pasarnya bakal terus ada. Selama kita mengemas usaha dengan baik tentu bakal terus jalan,” jelas Andri.

Mereka tak gentar, kendati banyak pemain di usaha ini. “Bagi saya, semakin banyak pemain tidak menjadi soal. Justru warung dengan konsep ini bisa Andri yang menawarkan 20 lebih dikenal. Semua kembali pada layanan kita,” jelas Ifa. Karena hampir semua rasa mi instan sama, Anda harus menonjolkan layanan dan ke nyamanan konsumen untuk mempertahankan pasar. “Banyaknya pemain juga bikin kita tak bisa menjual dengan harga mahal,” ujar Ifa.

Meski harga cukup bersaing bukan berarti cuan usaha ini tipis. Kisaran marginnya 35% – 50%. Masih tebal kan?

Nah, mulai usaha ini terlihat cukup mudah. Anda bisa terjun langsung dengan kemampuan mengolah mi instan yang gampang banget itu. Tak perlu menambahkan bumbu atau kursus masak karena di tiap bungkus mi instan sudah ada bumbu.

“Yang penting kita tahu karakter mi dari masing-masing varian atau merek,” jelas Ifa.

Keutamaan dari masak mi instan adalah memastikan air untuk menyeduh mi dalam po sisi mendidih maksimal. Sebab jika air seduhan kurang mendidih, mengubah tekstur mie. Jadi, lama menyeduh harus disesuaikan dengan tebal tipis nya mi instan. Umumnya, mi instan hanya perlu dimasak selama 1 menit 10 detik.

“Berbeda kalau ada permintaan khusus dari pembeli yang minta mie sampai mekar atau mengembang gitu,” jelas Ifa.

Penggemar mi instan itu sangat banyak, sehingga bisnis warung mi selalu punya peluang.

Modalnya murah

Nah untuk topping, Anda bi- sa menyajikan terpisah atau di- satukan. Ifa, misalnya, selalu menyajikan topping dalam piring terpisah. “Khawatir kalau selera pembeli terganggu,” jelas Ifa. Pembeli bisa mencampurnya sendiri.

Topping yang dipakai kebanyakan berupa frozen food yang disajikan dengan cara digoreng. Misalnya sosis, bakso sapi, bakso ikan, otak-otak, kornet, salmon rolls, nugget, atau crab stick.

Di varian topping, Anda juga bisa memainkan harga. “Kalau harga mi instannya sudah umum, kita bisa tentukan harga di topping,” jelas Andri. Harga 1 porsi mi instan biasanya sekitar Rp 7000. Tapi jika ditambah topping per porsi harganya bisa sampai Rp 20.000. Andri menetapkan harga topping Rp 7000-an per jenis.

Menurut Andri, biasanya satu orang pasti akan mengambil minimal 2 varian topping.

“Kalau mau bikin beda lagi, bisa bikin sendiri misalnya me- nawarkan topping ayam geprek atau varian sambal,” jelas Ifa. Ifa mengaku, untuk mi instan yang dijual dengan rasa original pihaknya samasekali tidak menawarkan topping ayam geprek. Atau varian sambal” jelas Iva.

Ifa mengaku, untuk mi instan yang dijual dengan rasa original pihaknya sama sekali tidak menambahkan bumbu. Kecuali olahan mi instan kreasi, dia akan menambahkan resepnya. Adapun untuk konsep warungnya, Anda bisa meminimalisir modal dengan tanpa mengurangi daya tarik. Seperti yang dilakukan oleh Andri. Bermodal Rp 15 juta, Andri mem buat kios mi berbahan besi. Kios yang ditampilkan Andri seperti gerobak kontainer. Dengan cat kuning dan hitam, kios Andri tampak mencolok. Di bagian depan gerobak dipasang rak dari akrilik tempat menyusun aneka mi.

“Lihat warungnya unik, orang penasaran mampir dan coba-coba. Kalau cocok pasti balik lagi. Yang penting mereka mampir dulu,” jelas Andri.

Sementara modal untuk beli peralatan dan perlengkapan warung seperti meja kursi, mangkok, panci, kompor, dan perangkat dapur lain butuh dana sekitar Rp 5 jutaan, renovasi warung sekitar Rp 5 juta.

Ditambah sewa lahan, modal yang Anda keluarkan untuk usaha ini sekitar Rp 50 juta. Menurut Andri, modal itu akan kembali dalam setahun.

Anda bisa memperkecil modal dengan tidak membuat gerobak dari kontainer. Seperti yang dilakukan Ifa. Tengok saja, dia memajang mi instan di dinding dengan rak arklilik. Jadi untuk membuat pajangan mie ini Anda hanya bisa keluar dana sekitar Rp 5 jutaan.

Adapun untuk operasional warung dan karyawan, Anda bisa terjun langsung dibantu oleh satu tenaga kerja dulu sebagai awal usaha.

Jika nanti dirasa sudah lebih ramai, Anda bisa menambah karyawan. Kaalisikasi karyawan usaha ini tidak susah tentunya. Yang penting, Anda merekrut orang jujur dan mau kerja. Ifa saat ini memiliki lima. orang karyawan dan Andri mempekerjakan 2 orang karyawan.

Jadi, mau mulai buka warung mi sekarang?

Jadi Mitra Produsen

Agar warung mi instan Anda sukses, pilihlah lokasi yang menyimpan potensi pembeli. Misalnya di area kampus atau pemukiman yang ramai. Karena itu lokasi yang dipilih baiknya di pinggir jalan. “Karena segmen usaha ini cukup luas, tidak sebatas anak nongkrong, atau kaum laki-laki, melainkan juga keluarga dan wanita.

Jadi sekalipun warungnya tidak luas, harus dibuat senyaman mungkin untuk makan,” jelas Andri Sukmana, pemilik warung mi instan kekinian bernama Warung Dari Kecil di Depok. Desain warung menjadi daya pikat bagi calon pembeli. Sebab kalau dari sisi menu, konsumen rata-rata sudah mengenal citarasa mi instan secara umum. Jadi untuk memberikan kesan berbeda kala menikmati mi, Anda harus menyediakan tempat makan yang nyaman bagi pelanggan yang datang. Usaha ini rata-rata mengandalkan pembelian secara offline, mengingat menu yang ditawarkan kebanyakan cocok dinikmati kala masih panas. Jadi penentuan lokasi usaha sangatlah penting untuk menjaring pembeli yang banyak.

Nah, jika warung sudah buka dan dikenal, biasanya Anda akan didatangioleh sales produk mi instan. “Selain menawarkan kerjasama bentuk barter pasang banner mereka juga akan menawarkan produk,” jelas Siti Choiryatul Tasrifah atau yang akrab disapa Ifa, pemilik Ha sanah Kitchen.

Ifa mengatakan, harga produk dari para sales ini biasanya lebih murah 10% ketimbang kulakan sendiri dari agen atau distributor yang biasa. “Dengan selisih itu kan lumayan, bisa menambah margin ke untungan kita,” jelas Ifa.

Meski mengandalkan pembeli offline, Anda tetap wajib memper kenalkan warung di media sosial, lo. Tujuannya, biar warung Anda makin dikenal dan tambah ramai. Dengan media sosial, Anda bisa meluaskan pangsa pasar, bukan hanya pembeli dari sekitar lokasi warung saja tetapi mereka yang dari jauh.

 

Sumber: Kontan Mingguan. 3-9 Januari 2022. Hal. 14-15

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.