SAMUEL FORS DOPAZO: OUT OF COMFORT ZONE

Pandemi Covid19 berdampak bagi banyak orang, tak terkecuali Samuel Fors Dopazo, mahasiswa asal Spanyol jurusan IBM-IC (International Business Management –International Class) ini menceritakan bahwa dirinya juga harus beradaptasi dengan gaya normal baru.

Tinggal di Indonesia membuat Samuel hidup jauh dari keluarga dan beradaptasi dengan budaya dan bahasa baru. Tuntutan mendapatkan nilai bagus dan cita-cita memiliki bisnis sendiri menjadi tantangannya, ditambah adaptasi menjalankan pembelajaran daring selama pandemi juga harus dilalui.

UC Library berkesempatan mewawancarai Samuel, dan bertanya mengenai perjuangannya sebagai mahasiswa asing di Universitas Ciputra, bagaimana bertahan sebagai mahasiswa dalam era new normal, serta apa saja tips untuk bisa menjalankan perannya dengan maksimal. Berikut penuturannya:

 

Bagaimana pengalamanmu dalam masa pembelajaran online di waktu pandemi ini?

Menurut pendapat saya, tidak ada dari kita yang mengharapkan terjadinya pendemi seperti ini. Saya masih ingat waktu itu saya sedang mempersiapkan semua bahan untuk ujian tengah semester lalu para dosen kami mulai mengirim pesan lewat grup LINE, memberitahu bahwa kami mungkin tidak bisa pergi ke kampus untuk melakukan ujian, jadi sebelum saya bisa menyiapkan apa pun, situasi ini datang secara tiba-tiba. Pada awalnya saya kesulitan karena saya tidak pernah melakukan kelas online sebelumnya dan pertama kalinya saya menggunakan aplikasi Zoom. Namun sedikit demi sedikit saya beradaptasi dengan model pembelajaran baru ini.

Saya menjadi terbiasa belajar di rumah, lebih memperhatikan kelas, dan tetap terhubung dengan teman-teman lewat chat atau telepon. Para dosen juga sudah bekerja keras memberikan materi yang menarik, mengubah model tugas perkuliahan, dan membuat kelas lebih fokus ke tujuan pembelajaran.

Pada akhirnya saya pikir kejadian ini adalah pengalaman hebat yang membantu kita semua belajar bagaimana cara belajar secara online dan tetap terhubung walau tidak bertemu secara langsung. Saya berterima kasih kepada para dosen dan teman-teman di UC yang telah memberikan yang terbaik untuk membuat pembelajaran online ini bisa terlewati dan saya berharap kita dapat bertemu sesegera mungkin.

Apakah ada motivasi yang dapat dibagikan dengan teman lain selama masa new normal ini?

“Bersyukurlah atas apa yang Anda miliki hari ini dan bekerjalah untuk apa yang Anda inginkan besok”. Ini adalah salah satu kutipan favorit saya pada waktu karantina ini dan sangat membantu saya melewati situasi ini. Momen sulit ini membantu kami menyadari bagaimana hal-hal yang kita anggap berharga dapat hilang hanya dalam beberapa hari. Kita benar-benar perlu berterima kasih atas semua hal yang kita miliki sekarang,

“Stress does not come from facts, it comes from the meaning that gives to the facts”. Sebagai contoh, ada fakta bahwa kita tidak bisa kuliah, jadi kita harus belajar online dan tinggal di rumah. Kita dapat memberikan fakta ini arti yang buruk seperti: Betapa sayangnya saya tidak bisa kuliah, saya tidak bisa fokus pada kelas online, dll. Di sisi lain, kita dapat memberikan fakta-fakta ini makna optimis, seperti: Mulai menyadari ini adalah kesempatan besar untuk belajar tentang cara melakukan kelas online, untuk menggunakan waktu luang untuk mempelajari keterampilan baru atau menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga saya.

Bergantung pada situasi ini, bisa menjadi lebih sulit atau tidak, tetapi saya yakin kita semua bisa melalui semua hal dalam hidup ini, belajar sesuatu yang baru dan meningkatkan kemampuan diri kita sendiri.

 

Bisa cerita sedikit asal Samuel dan mengapa memilih untuk meninggalkan negara asal dan memilih untuk belajar di UC?

Saya berasal dari Spanyol namun ayah saya dari Finlandia, jadi saya campuran Spanyol dan Finlandia. Sebelumnya saya sudah tinggal di Indonesia sudah sekitar 2,5 tahun, satu tahun di Bali dan satu setengah tahun di Surabaya, di Bali karena bibi saya tinggal di sana.

Saya pergi ke Bali karena sebetulnya selesai sekolah tingkat SMA saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, jadi saya memutuskan untuk pergi ke sana dan belajar Bahasa Inggris. Saya juga melakukan beberapa pekerjaan sukarelawan menjadi guru Bahasa Inggris. Lalu kemudian saya mulai tertarik untuk memulai bisnis saya sendiri dan melanjutkan studi, akhirnya teman saya merekomendasikan Universitas Ciputra.

Pada semester berikutnya, saya mencoba membangun sebuah start-up dan mencoba pengembangan dalam hal pemasaran website dan sosial medianya, namun start-up saya gagal. Tapi saya banyak belajar dari kegagalan saya tersebut. Semester ini saya dan teman-teman saya sedang mengembangkan bisnis kopi bernama kopi pincut yang dijual secara online. Kopi @pincutcoffee ini menjual kopi asli Indonesia yang berasal dari Sumatra, Flores, dan Toraja.

Pincut dari bahawa Jawa, kepincut yang artinya suka, tertarik, terpikat, dan terpesona. Saya sendiri tidak terlalu suka minuman kopi, tapi saya membantu di bagian marketing @pincutcoffee ini. Semester depan saya akan memulai bisnis Clothing Line yang 50% penghasilannya akan disumbangkan ke anak-anak di panti asuhan di Surabaya di sekitar Tunjungan Plaza dan di sekitar daerah pakuwon, di sekitar daerah sini.  Nama brand-nya Lovle (Love+Style), yang berarti bajunya memiliki desain bertemakan ‘cinta’ dan mempromosikan ‘cinta’ kepada orang lain. So it makes awareness to help other people.

 

Bagaimana perjuanganmu untuk ‘survive’ di Universitas Ciputra sebagai mahasiswa asing?

Awalnya sulit karena sangat berbeda antara Spanyol dan Indonesia, namun saya mengingat lagi apa yang saya cari ketika saya berada di sini, saya di sini berusaha keluar sari zona nyaman saya. Jika saya tetap tinggal di kota saya yang kecil di Spanyol saya tidak akan berkembang. Di sana saya tinggal dengan keluarga dan teman saya, bertemu dengan orang yang sama sepanjang waktu, namun saya mencari tempat seperti ini, tempat di mana saya merasa tidak nyaman, tempat di mana saya harus bekerja sendiri. Jadi ‘its OKAY’. Kadang terasa sulit tapi ini adalah pilihan saya dan saya bahagia.

Tips & trik untuk mahasiswa lain yang belajar di UC?

Yang saya temukan di UC sama dengan orang-orang yang ada di tempat asal saya, mindset yang sama. Pada umumnya mereka sangat peduli tentang apa yang dipikirkan dan pendapat orang lain tentang mereka, sehingga mereka tidak pernah melakukan apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan.

Tips saya untuk teman-teman yang lain, adalah “Lakukan apa yang ingin kalian lakukan bukan yang orang lain inginkan”. Kalau ingin belajar di luar negeri atau ingin belajar bisnis atau ingin melakukan apa pun dan jangan lakukan karena pendapat orang lain. Saya mengerti karena sebelumnya saya melakukan itu.

Jika Anda bertemu saya 2 tahun yang lalu sangat berbeda dengan diri saya saat ini. Dulu saya sangat pemalu ketika harus berbicara dengan orang lain. Saya sangat tidak bahagia karena setiap hari saya selalu melakukan apa yang orang lain inginkan yang membuat saya selalu bad mood dan sedih setiap saat. Ketika saya memutuskan hendak keluar dari spanyol, orang tua saya khususnya ayah saya tidak mengijinkan karena bahasa Inggris saya tidak bagus. Ayah saya mengatakan bahwa dia tidak mendukung saya karena takut tidak akan bisa bertahan di Indonesia.

Sebaliknya ibu saya mendukung saya dan akhirnya saya pindah ke Indonesia. Nilai semester awal saya bagus dan mendapatkan pekerjaan moddeling dan akhirnya ayah saya bilang, “Oke Samuel, kamu baik-baik saja, sekarang papa mendukungmu.”

Ketika saya tinggal di Surabaya, saya melihat banyak hal dari berbagai budaya orang yang berbeda dan banyak perubahan ketika saya keluar dari zona nyaman saya. Ayo kita coba lakukan dan kalaupun gagal, kita bisa belajar lebih baik di masa depan.

Tentang UC Library

Saya sangat menyukai UC Library, karena memiliki koleksi yang banyak dan ketika saya mau membaca semua, saya tidak perlu membayarnya, hahahaha. Ketika saya membaca di sini saya bisa fokus karena saya tidak bisa fokus ketika membaca di rumah saya, jadi saya sangat sering berkunjung ke UC Library.

Dalam masa pandemi ini saya tinggal di Bali dengan bibi saya dan saya sudah banyak membaca. Di masa karantina ini, saya telah membaca 16 buku. Saya akan senang sekali bisa kembali ke perpustakaan UC karena saya tahu mereka memiliki buku-buku bagus dan layanan yang bagus pula. Saya tidak sabar untuk dapat kembali ke kampus dan menggunakan fasilitas perpustakaan seperti yang biasa saya lakukan sebelumnya.

UC Library sangat membantu saya, contohnya ketika saya mendapat tugas untuk mata kuliah Pancasila. Saya meminjam buku ‘The History of Indonesia’ (call no. 959.8 DRA h) yang sangat membantu saya membuat essay tugas saya.

Sangat susah mencari buku itu diluar, tapi saya menemukannya disini. Ada satu lagi buku yang sangat saya sukai ketika saya memulai start-up bisnis saya, berjudul ‘The 10X Rule: The Only Difference Between Success and Failure’ (call no. 650.1 CAR t) karya Grant Cardone. Grant adalah entrepreneur favorit saya dan bukunya sendiri sangat terkenal dan berharga mahal di luar sana. Ada satu lagi buku yang saya suka berjudul ‘The 4-Hour Workweek: Escape 9-5, Live Anywhere, and Join the New Rich’ (call no. 650.1 FER f C-01).

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.