Samsuridjal Djauzi. Bekerja untuk Kemanusiaan. Kompas. 30 Juni 2021. Hal.16

Menjadi dokter adalah bekerja untuk kemanusiaan. Dokter yang kehilangan rasa kemanusiaan tidak bisa menjadi dokter yang baik. Prinsip itu dipegang erat Samsuridjal Djauzi, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia atau FKUI. Hal itu ditanamkan kepada para mahasiswa baru FKUI lewat kuliah umum bertema “Menjadi Dokter yang Profesional, Berakhlak Mulia, dan Mencintai Tanah Air”.

Menjadi dokter mensyaratkan sikap peduli, empati pada sesama dan tidak diskriminatif. Selain profesional, setiap dokter harus bersedia menolong pasien tanpa membeda-bedakan manusia dan penyakitnya.

Hal itu dibuktikan Samsuridjal di awal merebaknya HIV/AIDS. Di tengah masih sedikitnya pengetahuan tentang sindrom defisiensi kekebalan tubuh, keraguan tenaga kesehatan, dan ketakutan masyarakat terkait penularan, ia menjadi satu dari sedikit dokter yang bersedia merawat pasien HIV/AIDS. Atas kiprahnya, dia meraih penghargaan Cendekiawan Berdedikasi Tahun 2021 dari harian Kompas.

Pertengahan tahun 1995, Samsuridjal sempat berbeda pendapat dan tidak di izinkan merawat pasien di sebuah rumah sakit swasta tempatnya berpraktik akibat prinsipnya. Sikap kukuhnya dibela organisasi profesi, Ikatan Dokter Indonesia.

Lewat Kelompok Studi Khusus (Pokdisus) AIDS yang diresmikan Maret 1986, Samsuridjal bersama Zubairi Djoerban, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI yang belajar tentang HIV/AIDS saat pelatihan di Perancis pada 1982-1983, serta sejumlah dokter melakukan kajian dan penelitian tentang AIDS.

Pokdisus mulai memberikan layanan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) lewat Program Akses Diagnosis dan Terapi, November 1999. Lewat negosiasi dengan perusahaan farmasi, diperoleh potongan harga sehingga bisa memberi layanan tes HIV dan terapi obat antiretroviral (ARV) dengan harga terjangkau.

Karena tetap dirasa mahal bagi sebagian besar pasien, Pokdisus mengadvokasi berbagai pihak, termasuk pemerintah. Tahun 2004, sebagai upaya penang gulangan HIV/AIDS, Pemerintah Indone sia memutuskan melakukan pelaksanaan paten agar bisa memproduksi sejumlah obat ARV di dalam negeri dengan membayar royalti ke pemilik paten. Tahun 2005, obat ARV sudah bisa diakses secara gratis.

“Saat ini, 90 persen biaya obat ARV berasal dari APBN,” kata Samsuridjal. Terapi itu diakses sekitar 130.000 ODHA melalui berbagai pusat layanan kesehatan, 10.000 di an taranya mengakses lewat Pokdisus. Tim Pokdisus yang kini diperkuat banyak dokter dari berbagai spesialisasi tak hanya memberikan layanan ARV, pengobatan infeksi oportunistik, dan infeksi menular seksual. Samsuridjal dan Zubairi bersama tim Pokdisus menghasilkan banyak penelitian yang dipublikasikan di berbagai jurnal ilmiah nasional dan internasional. Kedua guru besar itu juga melakukan penelitian bersama antar negara yang dibiayai National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat serta dipresentasikan di konferensi internasional.

Memberdayakan

Untuk mengedukasi masyarakat terkait HIV/AIDS serta memberi dukungan bagi ODHA, tahun 1989, bersama Zubairi dan Sri Wahyuningsih, Samsuridjal mendirikan Yayasan Pelita Ilmu (YPI). Kegiatannya antara lain penyuluhan pada remaja, konseling dan tes HIV, pencegahan HIV/AIDS pada pengguna narkoba suntik, pencegahan penularan pada ibu ke bayi, serta dukungan bagi ODHA.

“Saat ini, YPI memberikan pendampingan bagi ODHA yang usahanya terpuruk akibat pandemi untuk mendapat bantuan hibah modal dari pemerintah,” ujar Samsuridjal.

Hal yang menggembirakan, kata Samsuridjal, kini banyak tenaga kesehatan bersedia terlibat dalam layanan kesehatan untuk HIV/AIDS. Selain itu, di kota-kota besar stigma bagi ODHA sudah berkurang. Komunitas juga berkembang untuk pemberdayaan ODHA.

YPI memiliki kegiatan lain, yakni Pelita Desa yang sejak 2002 memberdayakan remaja desa. Menempati lahan di Desa Ciseeng, Parung, Kabupaten Bogor, Pelita Desa jadi tempat pelatihan keterampilan dan wirausaha bagi remaja desa; budidaya ikan, ternak, dan perkebunan; serta sarana perkemahan dan outbound bagi anak sekolah dan masyarakat umum. Dana yang didapat untuk membiayai kegi YPI dan meningkatkan wawasan remaja desa dengan mengajak mereka studi banding ke negara tetangga.

Di masa pandemi, kegiatan outbound terhenti. Sebagai ganti, para pemuda desa mengekspor ikan dan tanaman hias ke sejumlah negara. Mereka menawarkan lewat internet, melayani pembelian skala kecil langsung ke konsumen dibantu alumni IPB terkait persyaratan karantina dan kemasan pengiriman.

Kini sebagai penasihat YPI dan Pelita Desa, Samsuridjal memberikan inspirasi dan semangat bagi para remaja desa lewat acara “Belajar Bareng Prof Samsu” yang diunggah di Youtube.

Di usianya yang ke 76 tahun, Samsuridjal masih aktif mengajar S-2 dan S-3 serta menguji S-3 dari FKUI dan FK universitas lain. Juga praktik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan RS Kanker Dharmais serta menulis untuk kolom Konsultasi Kesehatan di harian Kompas yang diasuh sejak November 1993.

Kegiatan lain, menjadi Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi). Satgas yang diresmikan tahun 2003 itu kini telah melatih sekitar 3.000 dokter umum agar dapat menyediakan layanan vaksinasi di tempat praktik. “Selain pada anak, vaksinasi penting bagi orang dewasa. Sebagai gambaran, angka kematian pada orang lanjut usia akibat pneumonia di RSCM mencapai 20 persen. Padahal itu bisa dicegah dengan vaksin pneumokokus,” ujar Samsuridjal.

Menjadi dokter bukan cita-cita awal. “Saya sudah lolos ujian masuk Teknik Kimia ITB. Tetapi agar tidak perlu kos dan meringankan beban orangtua, saya ikut ujian masuk FKUI,” kenangnya.

Setelah lulus dokter tahun 1969, ia mengikuti pendidikan Spesialis Penyakit Dalam. Selesai pendidikan pada 1976, Samsuridjal bertugas di Kalimantan Timur. Meski ditempatkan di Rumah Sakit Wahab Sjahranie, Samarinda, ia berkeliling ke rumah sakit kabupaten karena merupakan satu-satunya dokter penyakit dalam di daerah itu.

Pada mahasiswa baru, Samsuridjal menekankan untuk tidak melewatkan kesempatan bekerja di daerah. Itu merupakan sarana mematangkan diri, belajar, bergaul, dan memahami budaya suku lain serta menjadi pemersatu bangsa.

Semangat bekerja untuk kemanusiaan mendarah daging di keluarga. Putra putrinya, Irfan Wahyudi dan Hilma Paramita, kini sudah menjadi dokter spesialis. Demikian juga para menantunya. Tiga dari lima cucu memilih belajar di fakultas kedokteran. Cucu pertama telah lulus dari FKUI dan mendaftar untuk internship di daerah.

 

Sumber: Kompas. 30 Juni 2021. Hal.16

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *