Sampai Kapan Bayar Pakai Sampah. Harian DI’S Way. 17 Juli 2020. Hal.1. Freddy H Istanto. INA

Proyek Trem Surabaya gagal karena terlalu mahal. Ongkosnya membangunnya Rp 4,5 triliun. Hampir separuh dari total APBD Surabaya. Maka yang bisa dimaksimalkan selama dua tahun terakhir hanya angkutan penunjangnya: Suroboyo Bus.

 Masalahnya tidak semua orang bisa naik bus itu. Hanya yang punya sampah botol plastik yang bisa naik. Uang tidak laku. Bukan pemkot tidak mau duit. Tapi memang belum ada payung hukumnya. Sebab bus-bus itu masih ber-pelat merah. Kendaraan dinas tidak boleh ditarik tiket. Bisa-bisa disemprit BPK (Badan Pemeriksa Keuangan).

Masing-masing botol plastik punya nilai berbeda. Untuk tiket sekali jalan penumpang harus mengumpulkan 3 botol plastik besar, 5 botol medium, 10 botol kecil, atau 10 gelas plastik. Jika pulang pergi, maka botol yang dibutuhkan tinggal dikali dua.

Kalau ingin rutin naik bus itu tentu pengeluaran bulanan jadi bertambah.

“Kecuali memang orangnya mau mengumpulkan botol bekas tiap hari. Tapi itu sulit,” kata Direktur Surabaya Heritage. Society atau Sjarikat Poesaka Soerabaia Freddy H. Istanto kemarin. (Tomu C. Gutomk-Salman Muhiddin)

 

Sumber: Harian DI’S WAY. 17 Juli 2020z Hal. 1

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *