Saling Terbuka, Prioritaskan Kesehatan Finansial Keluarga. Jawa Pos. 22 Mei 2020.Hal.15. Luky Patricia Widianingsih. Akuntansi

SURABAYA, Jawa Pos – Menonton drama Korea tidak sekedar larut dalam alurcerita dan dinamika emosi tiap karakternya, tapi bisa juga mengambil pelajaran. Misalnya, yang disampaikan Luky Patricia Widianingsih SE MSA dalam sesi bincang Pelajaran Pengelolaan Keuangan dari Drakor. Dosen Prodi Akutansi Universitas Ciputra tersebut mencoba untuk menjabarkan pengelolaan keuangan rumah tangga melalui kidah drama korea The World of The Married yang sedang booming.

Luky membagikan beberapa masalah yang sering muncul atau beberapa aspek keuangan yang luput dipertimbangkan. “Pertama, kita perlu tahu sifat sumber penghasilan kita, baru menentukan ritme keuangan keluarga,” jelasnya. Ada profesi yang sumber penghasilannya tetap, ada pula yang tak tentu pada setiap periode.

“Seperti Ji Sun Woo yang bekerja sebagai dokter, jadi penghasilannya stabil. Sedangkan Tae Oh bekerja di dunia film yang penghasilannya tidak menentu,” ucap Luky. Tak ada yang salah dengan dua kondisi tersebut, yang penting perencanaan keuangan dilakukan berdasar pemasukan yang ada.

Selain itu, keterbukaan kondisi keuangan dalam keluarga menjadi kunci penting. Kondisi tersebut bisa mendukung pencapaian target dari setiap individu di keluarga. Suami dan istri perlu memetakan dari mana saja penghasilan, pengeluaran, aset, dan utang yang dimiliki. Termasuk rencana investasi dan sumber dana apa yang akan digunakan, secara jangka pendek maupun jangka panjang.” Dalam series-nya, Sun Woo dan Tae Oh tidak terbuka. Sun Woo baru tahu Tae Oh sedang mengalami kesulitan perusahaan setelah meminta akuntannya untuk memeriksa keuangannya,” jelas Luky.

Sebagai pasangan, suami dan istri harus memandang perbedaan pemasukan dengan saling melengkapi. Bukan sebagai ketidakseimbangan atau kesenjangan. “Bayangkan keluarga sebagai perusahaan. Kontribusinya, total dari setiap individu, bukan satu orang saja,” jabarnya. Pasangan harus memprioritaskan kesehatan keuangan keluarga, bukan individu saja.

Luky juga mengingatkan kesalahan yang umum terjadi adalah penggunaan dana pihak ketiga yang bukan pada tempatnya. Keterbatasan sumber daya memang mendorong seseorang untuk mencari suntikan dana seperti dari bank atau rekanan mitra.

“Tapi, harus ditegaskan bahwa utanh ini untuk aktivitas yang produktif, ya,” papar Luky. Contohnya, pembelian laptop baru untuk pekerjaan, penjualan online, atau mendukung pekerjaan usaha.

Luky juga mengingatkan pentingnya membuat diversifikasi dana simpanan. Tanungan biasa, deposito, asuransi, atau investasi lainnya.

Pembagian peran yang jelas antara keputusan keuangan juga perlu dilakukan. “Ada yang menjadi manajer dan yang jadi kasir,” tuturnya. Tentu semua keputusan harus dikomunikasikan lebih dulu dengan pasangan dan seperti apa batasannya.

Terakhir, pengecekan keuangan secara rutin. “Semakin sering kita memantau, berarti ada proses monitoring. Kuncinya adalah disiplin agar tidak sampai muncul ‘penyakit’ keuangan,” tegasnya. Penyakit keuangan di sini adalah pengeluaran yang lebih besar daripada pemasukan.

Apa saja yang perlu dikurangi, bahkan dihilangkan karena kurang bermanfaat. (dya/c12/nor)

 

Sumber: Jawa Pos. 22 Mei 2020. Hal. 15

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *