Ronggeng: Mitos dan Realita

Dalam memperingati Dies Natalis Institut Seni Budaya Indonesia Bandung yang ke-52, ISBI Bandung bekerjasama dengan Museum Ullen Sentalu, Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya serta Center for World Dance Studies ISI Surakarta menyelenggarakan International Conference on Ronggeng: Myth & Reality. Kegiatan yang diadakan pada Rabu (7/10/2020) secara daring melalui Zoom ini dihadiri lebih dari 200 peserta dari dalam negeri maupun luar negeri.

Tepat pada pukul 09.00 WIB kegiatan ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya diikuti oleh sambutan pembuka oleh Prof. Dr. Een Herdiani selaku Rektor Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, dalam sambutannya beliau mengungkapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang menghadiri kegiatan Dies Natalis ISBI Bandung dan para pendukung kegiatan ini. Beliau juga menyampaikan melalui kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan budaya di Jawa Barat, yaitu Ronggeng dan melihat perspektif lain dari seni tari Ronggeng. Setelah sambutan, para peserta disuguhkan penampilan dari Nur Fitriyani yang membawakan Tari Gaplek secara langsung dari Teater Sunan Ambu di ISBI Bandung.

Agenda selanjutnya adalah sesi pemaparan bersama dengan Bapak Daniel Haryodiningrat, Director of Ullen Sentalu Art, Culture and Nature Museum Yogyakarta, selaku moderator. Pada pembuka sesi, beliau menjelaskan bahwa dalam acara ini akan menemukan jawaban bagaimana perkembangan Ronggeng dahulu dan sekarang serta hal apa yang membuat Ronggeng memiliki stigma negatif di masyarakat.

Prof. Kathy Foley, Ph.D sebagai pemateri pertama membawakan tema “Women’s Performance: South East Asian Patterns”. Kathy mempresentasikan mengenai pertunjukan wanita di Asia Tenggara yang memiliki 3 penggambaran yang berbeda saat pertunjukkan yaitu berdasarkan gender, usia dan kelas. “Seperti dalam pertunjukkan pada laki-laki, biasanya mempertunjukkan cerita peperangan yang lebih menonjolkan cerita hidup dan mati, sedangkan berbeda dengan pertunjukkan perempuan yang mempertunjukkan cerita dalam pesta panen yang biasanya ada unsur melodrama”, tuturnya. Kathy juga menjelaskan beberapa teori tentang ronggeng.

Dalam sesi selanjutnya Prof. Henry Spiller Ph.D membawakan materi “Music & Dance Perspective“, dalam pemaparannya dijelaskan terdapat 3 elemen yang saling berkaitan dalam sebuah pertunjukan tari Ronggeng, yaitu Ronggeng sebagai sebuah pertunjukan profesional, alunan kendang yang memberikan efek suara dan juga bajidor atau para penikmat tarian Ronggeng. Bagaimana ketiganya saling berkaitan dan kombinasi ini tidak akan berubah meskipun terus ada perkembangan di dunia tari.

Pembicara terakhir adalah Prof. Dr. Endang Caturwati dengan tema “Ronggeng: Now and Then“. Pada sesi pemaparan, beliau menjelaskan bahwa Ronggeng adalah hal yang kompleks karena berkaitan dengan perempuan. Dahulu Ronggeng dianggap tabu dan memiliki citra negatif namun sebenarnya Ronggeng memiliki arti penting bagi kehidupan di tengah masyarakat. Ronggeng adalah sosok perempuan pekerja keras yang multi peran, mereka adalah sosok yang penuh cinta kasih kepada keluarga dan mempunyai tanggung jawab masa depan bagi anak-anaknya.

Pada agenda selanjutnya, peserta kembali disuguhkan dengan penampilan secara langsung oleh seniman Sunda, Bunga Dessri Ghaliyah dan Raden Bangun Nurraga, keduanya membawakan komposisi berjudul Swastria. Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan dipimpin oleh moderator Bapak Daniel Haryodiningrat dan Bapak Wasi Bantolo, Head of International Program in ISI Solo and head of Center for World Dance Studies. Pada sesi ini, para peserta juga diberikan kesempatan untuk memperoleh pemaparan oleh Bapak Ahmad Tohari seorang sastrawan, budayawan dan penulis buku Ronggeng Dukuh Paruk yang diadaptasi ke dalam film dengan judul Sang Penari. Dalam sesi ini, antusias dari peserta ditunjukkan dengan berbagai pertanyaan yang masuk.

Sebagai penutup kegiatan International Conference on Ronggeng, Prof. Dr. Een Herdiani mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang turut mendukung kegiatan ini untuk melestarikan budaya Jawa Barat. “Ngamumule tradisi” ujarnya dalam Bahasa Sunda, merupakan pesan yang disampaikan beliau kepada para peserta untuk berarti memelihara baik-baik tradisi yang kita miliki. Acara kemudian ditutup dengan menari Ronggeng bersama dengan dipandu oleh Prof. Dr. Een Herdiani dan para penampil.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *