Rithaony Hutajulu Penyambung Rantai Regenerasi Musik Tradisi.Kompas.19 Juni 2021.Hal.16

Pemain musik tradisi Batak kian berkurang lantaran regenerasi berjalan lambat. Banyak pemain musik tradisi yang justru melarang anaknya meneruskannya karena tidak menjanjikan secara ekonomi. Dalam situasi seperti itu, Rithaony Hutajulu (57) menggairahkan kembali regenerasi itu. Para pemain musik tradisi dia carikan panggung sampai ke Europalia di Spanyol.

Semula, amat sulit mencari anak muda pemain musik tradisi Batak. Pada upacara adat seperti Sipaha Lima atau Mardebata sebagai bagian dari ritual agama lama orang Batak, Ugamo Malim, misalnya, nyaris tak ada anak muda yang memainkan alat musik Batak mengiringi ritual tersebut.

Sebagai akademisi yang lahir dan besar di tanah Batak, Ritha, sapaan akrab Rithaony Hutajulu, khawatir suatu saat tak ada lagi orang Batak yang memainkan alat musik tradisi. Ia sadar, untuk bisa memainkan musik tradisi, Batak, seperti taganing, sarune, dan hasapi, tidak hanya butuh kemampuan teknis. “Juga perlu pengetahuan tentang budaya, upacaranya. Dia harus tahu apa yang dimainkan untuk upacara apa. Ini sudah sulit menemukan generasi muda. Sementara untuk belajar musik tradisi, gondang khususnya, di Batak itu butuh waktu lama,” kata Ritha.

Dalam tradisi Batak, anak muda yang belajar menjadi pemain musik tradisi harus tinggal bersama dengan pemusik Batak senior selama bertahun-tahun. Itu pun belum tentu diberi kepercayaan untuk memegang alat musik. Mereka juga harus membantu bekerja di sawah atau mengangkat alat musik saat hendak dimainkan. Proses ini di perlukan untuk menanamkan tradisi berikut sistem pengetahuannya. Selain itu, “Guru dan murid harus punya kepatuhan dan bonding yang kuat, juga cara belajar yang berbeda. Dengan melihat saja itu proses belajar,” ujar Ritha.

Masalah lainnya, para pemain alat musik tadisional ini, misalnya pargonsi (pemain gondang), sering kali tak ingin anaknya juga. menjadi pargonsi. Alasannya, menjadi pargonsi itu tak menentu penghasilannya karena hanya mengandalkan pita-pita alias saweran penonton.

Faktor-faktor di atas menyebabkan banyak maestro pemain musik tradisi makin berkurang karena terputusnya rantai regenerasi. “Juga ada pelarangan-pelarangan dari lembaga agama,” kata. Ritha yang menjelaskan beberapa lembaga agama modern menilai musik tradisi bagian dari pemujaan setan atau kemusyrikan.

Kesadaran tradisi

Kecintaan terhadap musik sudah lama ada pada diri Ritha. Pada 1980-an dia penyanyi pop lewat kelompok RIS Trio. Amat tenar di Medan kala itu karena sering muncul di TVRI menyanyikan lagu-lagu ABBA dan se kelasnya. Dia kuliah mengambil jurusan etnomusikologi tahun 1982 di Universitas Sumatera Utara. Ia dikirim ke Bali dan Jawa untuk memahami tradisi, terutama gamelan. Di situlah Ritha memahami kekayaan musik tradisi lalu mencintainya.

Latar belakang itu membuat Ritha memanggul dorongan sekaligus beban menjaga keber langsungan musik tradisi Batak.

Musik tradisi Batak bisa mati lantaran banyak pemainnya meninggal sebelum mewariskan keterampilan dan pengetahuannya. Agar hal itu tidak terjadi, Ritha lalu mengajukan proposal penelitian dan pendokumentasian musik tradisi pada 2001 sampai 2003 kepada The Ford Foundation. Dia menggali semua unsur dalam musik itu. Misalnya untuk Batak Toba mencakup gondang hasapi, gondang Batak Toba, uning-uningan, opera Batak, sampai nyanyian-nyayiannya.

Sejak tahun 2007 Ritha merancang program revitalisasi musik tradisi Batak dengan bantuan dana dari The Ford Foundation. Ia mencari dan menemukan tujuh pemain musik tradisi yang sudah sepuh untuk dijadikan guru. Setiap guru dia minta mencari tiga murid untuk diajari alat yang berbeda, seperti gondang, serune, taganing, dan garantung. Baik guru maupun murid mendapat honor dan biaya transportasi serta disediakan alat musik. Mereka berlatih sepekan sekali secara tatap muka guru dan tiga muridnya. Lalu sebulan sekali para guru kumpul bersama para murid bersamaan. Itu berjalan selama dua tahun. “Mereka latihan memainkan ensambel, itu intinya. Jadi, harus bertemu. Saya monitoring dan merekam setiap bulan tentang perkembangan teknik,” kata Rita.

Rantai regenerasi Ritha sambung lagi. Hampir semua murid itu akhirnya menjadi pemain alat musik tradisi. Bahkan, tak sedikit yang mampu bermain di ranah ritual, sebuah fase paling sulit dalam permainan alat musik tradisi karena mereka juga harus menghayati makna setiap bunyi.

Bahkan, dua dari murid-murid itu pada 2017 dibawa Ritha bersama kelompok Mataniari yang dipimpinnya dengan sponsor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata ke Festival Seni Europalia, sebuah ajang bergengsi. Mereka tampil di Belanda, Belgi, dan Spanyol. Europalia menjadi salah satu ajang pembuktian bahwa regenerasi pemain musik tradisi Batak masih berlangsung.

Ritha juga mengembangkan revitalisasi musik tradisi, khususnya Batak, dengan mempromosikan lewat pertunjukan musik Mataniari dalam beberapa festival musik, seperti Kongres Kebudayaan 2018 dan Pekan Kebudayaan Nasional 2020. Juga menggagas Festival World Music di Danau Toba “Toba Caldera World Music Festival” sejak 2019 yang di dalamnya, antara lain, menampilkan musik Batak. Selain itu, dia juga menulis buku-buku tentang musik tradisi Batak.

Semua upaya Ritha itu menyebabkan regenerasi pemain musik tradisi terselamatkan. Tentu masih butuh perjuangan panjang untuk mempertahankan keberlanjutannya. Pada titik itulah, Ritha butuh banyak sokongan.

 

Sumber: Kompas.19 Juni 2021.Hal.16

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *