Riset Dasar Vs Riset Terapan.Tabloid Kontan.15-21 Januari 2018.Hal.31

 

Baru baru ini perhatian para ilmuan tertuju ke pernyataan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir. Dalam rapat terbatas yang membahas pengelolaan dana abadi pendidikan melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), pemerintah memutuskan untuk mengkaji ulang alokasi dana pendidikan untuk meraih beasiswa.

Menteri Natsir menilai, distribusi alokasi dana LPDP kini perlu dirombak ulang karena proporsi penerima beasiswa untuk jurusan ilmu-ilmu sosial lebih banyak dari pada ilmu alam dan teknologi. Padahal, menurut Menteri Natsir, pemerintah sebenarnya merencanakan proporsi yang sebaliknya. Ilmu alam  dan teknologi merupakan proiritas karena dipersepsikan menunjang langsung agenda pembangunan nasional.

Pemerintah bahkan berencana untuk mulai menentukan negara tujuan studi dan bidang studi penerima beasiswa LPDP, yakni ke universitas-universitas di Amerika Serikat (AS) dan China. Alasannya, dua negara ini dianggap memiliki program studi terbaik yang dibutuhkan industri. Singkatnya, pemerintah ingin beasiswa diberikan kepada insan yang bersedia untuk melakukan riset terapan yang dibutuhkan untuk menjawab kubutuhan-kebutuhan industri.

Fenomena ini memantik reaksi berbagai kalangan, khususnya dari ilmuan-ilmuan sosial yang fokus risetnya bersifat intangible. Bayangkan ilmuan sosiologi yang meneliti struktur sosial yang abstrak bentuknya. Tentu, tidak dapat dibandingkan dengan ilmuan teknik sipil yang meneliti pembangunan jembatan yang jelas produk luarannya.

Kritik juga diberikan ilmuan nonsosial yang selama ini menerima riset dasar (basic research). Sebabnya luaran penelitian riset dasar adalah pengetahuan baru, bukan berupa produk yang langsung dapat digunakan.

 

Jangan menihilkan

Berbagai kalangan mengkritik pandangan Menteri Natsir umumnya karena dua alasan utama. Pertama, agenda penelitian nasional semestinya tidak menempatkan riset dasar dan riset terapan sebagai dua bidang riset yang timpang urgensinya. Keduanya semestinya dipandang setara karena memiliki peran masing-masing. Pemerintah seharusnya tidak memandang dengan cara mengunggulkan yang satu dan menihilkan yang lain, baik dalam tataran wacana, maupun implementasi kebijakan.

Kedua, implementasi riset tidak selalu dapat dimulai atau dieksekusi dengan logika pasar. Artinya, tidak semua bidang ilmu dapat memulai riset dengan cara mengidentifikasi apa yang dibutuhkan industri.

Beberapa bidang ilmu seperti sains terlahir dengan sebuah natur untuk mengkaji dan memahami pola-pola umum dari alam semesta. Luaran penelitiannya berupa pernyataan ilmu pengetahuan atau dapat pula berbentuk rumus yang tidak secara langsung dapat berguna untuk kepentingan industri.

Riset terapan dan riset dasar memiliki dua muara berbeda yang sama pentingnya. Riset terapan bermanfaat untuk menjawab kebutuhan industri. Luaranya jelas dan tangible, yakni sebuah produk teknologi yang bermanfaat untuk menjawab kebutuhan banyak orang.

Peneliti bisa pula mendaftarkan hasil temuannya sebagai karya intelektual (KI) dan bahkan dapat berujung ke paten yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Industri dapat menindaklanjutinya dengan komersialisasi untuk kepentingan luas. Secara ekonomis, tentu saja ada keuntungan finansial yang didapatkan berbagai pihak.

Namun dalam dunia riset, ada dimensi-dimensi penelitian yang tidak dapat dikelola denga logika pasar. Terutama jika dimensi-dimensi ini berkaitan dengan kepentingan orang banyak (the public goods). Setiap orang berhak untuk kebaikan bersama. Temuan penelitian yang tergolong penting, yang perlu digunakan oleh semua orang tanpa harus membayar. Konteks seperti ini lazim ditemukan dalam riset dasar.

Missal, Sir Isaac Newton, yakni rumus Newton yang lahir dari pelaksanaan riset dasar bertahun-tahun. Berdasarkan formula ini, ia mengembangkan rumus-rumus turunan lain untuk menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan massa dan akselerasi.

Dari rumus itu pula, para insinyur menciptakan teknologi alat-alat berat, robotika, persoalan gravitasi, hingga pengembangan otomotif. Riset terapan untuk kepentingan industri baru bisa terjadi ketika hasil riset dasar termanfaatkan.

 

Jaga Keseimbangan

Kini, anak-anak kita bisa belajar formula Newton dengan bebas. Bayangkan jika Sir Issac Newton memilih untuk mendaftarkan temuan riset dasarnya sebagai hak paten. Atau kita kembali ke hal mendasar, bayangkan jika saat itu Newton tidak mendapatkan dukungan pembiyaan dari negara atau universitas karena melakukan sebuah penelitian yang luarannya hanya berua rumus yang tidak jelas manfaatnya untuk masyarakat industri.

Sejak puluhan tahun lalu, Departemen Pertahanan AS dan Pentagon diketahui bekerja sama secara ekstensif dengan para ilmuwan-ilmuwan ilmu kognitif. Mengapa? Jawabannya adalah karena departemen-departemen ini menyadari bahwa riset-riset dasar tetap berguna untuk pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan pertahanan nasional.

Simak pula bagaimana Presiden Barrack Obama bekerja sama dengan Richard Thaler, Guru Besar Ekonomika Perilaku dari Universitas Chicago, dan Cass Sunstein Guru Besar Ilmu hokum dari Universitas Harvard untuk merancang kebijakan-kebijakan AS yang mengakomodasi perilaku sehat masyarakat AS yang polanya tidak selalu teratur. Hal ini menunjukkan bahwa peranan riset-riset dasar, meskipun tidak ada kaitan dengan industri secara langsung, tetap dibutuhkan.

Kita perlu mendukung visi pemerintah yang berupaya untuk menarik investor yang dapat mengantarkan hasil riset terapan diterima industri. Namun, bukan berarti hal ini dapat diterjemahkan sebagai pembatasan akses dan alokasi anggaran untuk riset dasar. Bobot penelitian dan pengembangan riset dasar dan riset terapan perlu tetap dipastikan ada dalam neraca yang seimbang.

Namun, isu lebih mendasar adalah kita perlu menjaga agar pengambilan kebijakan nasional tetap memiliki basis ilmiah. Jadi, ekosistem pengembangan ilmu di sini tetap kondusif.

2 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *