Rifqi Maulana. Secuil Peternak di Jakarta. Kompas. 25 Juni 2021. Hal.16

Sapi adalah bagian dari hidup Rifqi Maulana (33). Sejak bocah, suara sapi akrab di telinganya. Hingga usaha turun-temurun ini tiba di tangannya. ia mantap melanjutkan dan mengembangkan peternakan di tengah kepungan gedung-gedung jangkung Ibu Kota.

Teras rumah di Jalan Mampang Prapatan XV Nomor 2 tampak sibuk, Rabu (16/6/2021). Dua pekerja menyaring susu yang baru saja diperah. Dengan cekatan, mereka mengemas susu ke plastik, masing-masing berisi 1 liter atau 2 liter. Hilir-mudik pembeli selama pengemasan membuat bungkusan susu sapi ludes dalam satu jam saja.

Susu itu berasal dari 42 sapi perah kandang keluarga, tepat di belakang rumah itu. Ada pula enam ekor sapi perah di kandang keluarga di Duren Tiga, Jakarta; serta 30 ekor di Depok. Kandang ini dikelola oleh Rifqi dan kakak-kakaknya. Mereka adalah generasi ketiga peternak sapi perah yang tersisa di kawasan itu.

“Dulu, orang Betawi di sini menjalankan usaha ternak sapi perah. Jumlahnya sekitar 20 keluarga. Tapi sekarang tinggal empat keluarga yang masih memelihara sapi, termasuk kami,” tutur Rifqi.

Sebagian peternak memilih untuk kandang sapi menjadi usaha yang lebih “kota” mengganti seperti rumah kontrakan. Selain membutuhkan kerja fisik yang cukup berat, risiko beternak sapi tergolong tinggi. Apabila seekor saja mati, kerugian bisa mencapai Rp 40 juta atau lebih.

Di tengah tantangan itu, Rifqi memilih tetap meneruskan usaha yang dirintis kakeknya. “Ekonomi kami, ya, dari sapi ini. Orangtua saya bilang, “Kamu bisa kuliah juga karena sapi. Sapi ini yang bayarin kamu,” tutur Rifqi soal peternakannya yang juga menghidupi 13 pekerja.

Menyesuaikan zaman

Sebagian cara beternak masih tetap sama, seperti pemerahan yang masih manual. Hanya saja, aspek kebersihan mendapat perhatian saat ini. Beda zaman juga membuat perlakuan terhadap sapi berubah. “Dulu, kalau ada sapi sakit, kami bawa ke tanah kosong punya tetangga di belakang kandang. Di situ, sapi dijemur biar sehat. Sekarang, lahan itu sudah jadi rumah. Kalau sapi sakit, saya langsung konsultasi ke dinas (Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta) dan dokter akan langsung datang memeriksa sapi,” ujarnya.

la mengakui, memelihara sapi bukan perkara mudah, apalagi dilakukan di tengah kota Jakarta yang lahannya amat terbatas. Ia tidak hanya susah payah menjaga agar sapi-sapinya terhindar dari penyakit, tetapi juga menjaga ternaknya tidak stres. Berada di tengah kota yang cenderung panas saja membuat produksi susu sapi perkotaan turun, apalagi ditambah stres.

Di luar itu, ia mesti memperhatikan benar kebersihan lingkungan lantaran sapi dipelihara di tengah permukiman padat. Untuk itu, Rifqi meng ikuti pelatihan budidaya maggot yang bisa membantu mengurai limbah padat peternakannya.

Selain sapi perah, Rifqi juga meneruskan usaha pembuatan tahu yang diwariskan ayahnya. Tercatat ada 34 pembuat dan pedagang tahu di bawah naungannya. Sekitar 90 tenaga kerja yang berkecimpung di bisnis tahu ini.

Bisnis tahu ini punya keterkaitan dengan sapi. Ampas tahu merupakan pakan sapi, selain rumput gajah. Semasa hidupnya, H Mardani-ayah Rifqi-mengumpulkan ampas tahu dari para perajin dan menjualnya ke peternak sapi. Lama-kelamaan, sang ayah membuka usaha pembuatan tahu.

Simbiosis mutualisme pembuatan tahu dan peternakan di lanjutkan Rifqi. Ia memproduksi sendiri pakan berupa ampas. Pakan lainnya, yakni rumput, ia beli dari pedagang rumput. “Dulu sih, di Pancoran ada lahan rumput. Sekarang, cari rumput mesti jauh. Saya enggak sanggup lagi, jadi saya beli dari penjual rumput yang biasa memasok ke Jakarta Selatan.”

Selain menjalankan usaha warisan, Rifqi juga melirik peluang sapi potong, terutama untuk hewan kurban sejak 2005. Beberapa tahun terakhir, sapi potong Rifqi dipilih sebagai hewan kurban oleh pimpinan negara ini, termasuk Presiden Joko Widodo pada Idul Adha 2020.

Bersama kakaknya, Rifqi juga mengembangkan usaha pembibitan sapi di Depok. Selain bisa menambah pemasukan, mereka juga bisa mendapatkan calon induk sapi perah yang berkualitas. Usaha sapi potong dan pembibitan sapi menjadi semacam tabungan dan bonus bagi Rifqi sekeluarga. Adapun usaha sapi perah tetap jadi pemasukan harian. Rata-rata mereka menjual 600 liter sehari.

“Sebenarnya, permintaan jauh di atas kemampuan produksi kami. Apalagi kalau akhir pekan, ada ratusan liter permintaan yang tidak bisa kami penuhi,” tuturnya.

Pemandangan di teras depan Rifqi mengonfirmasi tingginya permintaan itu. Sebagian susu dibeli pengelola restoran, sebagian lagi dibawa loper susu yang sudah memiliki pelanggan tetap masing-masing dan sebagian kecil kantong susu dibeli tetangga Rifqi.

Melihat kecukupan pendapatan dari sapi, Rifqi mengaku tidak pernah sedetik pun terpikir untuk mengakhiri bisnis keluarga ini dan beralih ke profesi kantoran yang banyak di jalani warga perkotaan. Ia tetap menekuni dunia sapi perah.

 

Sumber: Kompas. 25 Juni 2021. Hal.16

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *