Review Film “Tilik”: Kearifan Lokal yang Menghilang dan Budaya Gibah

Oleh: Yohanes Yus Kristian (Mahasiswa PSY UC)

Film ““Tilik”” menjadi film pendek yang banyak di tonton dan ramai menjadi perbincangan pada tahun 2018. Bahkan film yang memiliki durasi selama 30 menit ini sempat memenangkan ajang kategori film pendek pada Piala Maya 2018. Tidak hanya itu, apresiasi yang lebih membanggakan lagi mengenai film “Tilik” ini adalah menjadi Official Selection Jogja-Netpac Asian Film Festival tahun 2018 dan Official Selection World Cinema Amsterdam 2019. Jika melihat prestasi yang didapatkan, menurut beberapa orang film pendek ini memang layak dengan semua pencapaian itu. Sebab, kisah dan pembelajaran dibalik film pendek ini memang menarik banyak perhatian masyarakat, terutama untuk bangsa Indonesia sendiri.

Film “Tilik” ini mengisahkan tentang sebuah budaya yang menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia, yaitu menjenguk atau menengok orang yang sedang sakit. Ya, sudah sejak sekian lama budaya menjenguk yang dimiliki masyarakat Indonesia ini menjadi sesuatu yang sudah mendarah daging. Bahkan, bisa dibilang budaya menjenguk ini sudah menjadi suatu kearifan lokal bagi masyarakat Indonesia. Budaya menjenguk ini sampai sekarang masih banyak diterapkan di daerah-daerah pedesaan, terutama pulau Jawa. Biasanya jika ada warga dari salah satu desa yang sakit, orang-orang di daerah tersebut biasanya langsung berbondong-bondong untuk pergi menjenguk. Semakin besar strata atau semakin berpengaruh seseorang yang sedang sakit, maka semakin besar juga jumlah orang yang akan datang untuk menjenguk. Sedangkan untuk daerah perkotaan yang sudah mulai maju saat ini, budaya tersebut sudah mulai tergerus dan sudah tidak banyak lagi dilakukan oleh orang-orang di perkotaan. Selain semua itu, film berdurasi singkat ini tidak hanya ingin mengenalkan tentang budaya menjenguk saja atau mengangkat isu tentang budaya menjenguk, tapi ada budaya lain yang menjadi daya tarik dari film ini, yaitu budaya Gibah.

Budaya gibah saat ini memang sedang trend, sehingga hal ini menjadi salah satu isu yang diangkat dalam film “Tilik”. Gibah sendiri adalah sebuah kebiasaan membicarakan kebaikan maupun keburukan orang lain tanpa sepengetahuan orang tersebut. Di dalam film “Tilik” ini sendiri, budaya Gibah coba di jelaskan dari sosok perempuan bernama Bu Tejo. Dalam film tersebut, Bu Tejo ini digambarkan sebagai seorang perempuan yang suka nyinyir (tukang gosip). Diceritakan  lagi dalam film itu, selama perjalanan untuk menjenguk, Bu Tejo banyak  sekali nyinyir tentang seorang perempuan dari desanya yang bernama Dian, kembang desa. Hal yang di gunjingkan oleh Bu Tejo selama perjalanan mengenai sosok Dian ini selalu hal-hal yang negatif. Hingga akhirnya ada seorang Ibu lain yang berusaha untuk mengubah pandangan negatif Bu Tejo mengenai Dian. Meski akhirnya memang sosok Dian ini sesuai dengan yang digunjingkan oleh Bu Tejo, tapi yang menjadi fokus dari film ini bukan tentang hasil akhirnya, tapi  adalah budaya gibah yang biasa dilakukan oleh semua orang.

Berbicara mengenai gibah, sebenarnya kenapa sih kita sebagai manusia sangat mudah sekali atau sangat suka sekali gibah? Dalam pandangan psikologi, membicarakan tentang orang lain sudah menjadi sifat dasar manusia sejak jaman dulu. Jadi sebenarnya ini bukan fenomena yang baru saja terjadi. Gibah sejak dulu bisa di definisikan sebagai sesuatu hal yang positif atau negatif. Jika dipandang secara negatif, gibah ini bisa menjadi salah satu bentuk pertahanan diri seseorang terhadap sesuatu hal. Ya, misalnya saja ada kabar tidak baik tentang seseorang, maka seseorang tersebut akan mulai mencari kambing hitam untuk mengalihkan perhatian terhadap dirinya. Nah, salah satu caranya adalah dengan menyebarkan gosip yang tidak benar tentang orang lain. Sedangkan, jika dilihat dari sisi positifnya, gibah bisa memberikan kita berbagai informasi, baik itu informasi yang penting untuk kita atau informasi yang tidak penting. Untuk saat ini, mendapat berbagai informasi sangatlah penting sebab manusia hidup berkelompok, sehingga untuk bisa melakukan interaksi sosial kita terkadang butuh banyak informasi.

Di samping semua itu, agaknya terlalu sederhana jika pesan dalam film hanya ingin menunjukkan tentang budaya menjenguk dan budaya gibah. Namun, jika di telaah lebih dalam, film ini mampu menyiratkan berbagai hal:

  1. Hilangnya kebersamaan antar masyarakat

Indonesia sejak dulu selalu di kenal sebagai negara dengan masyarakat yang ramah dan penuh dengan kebersamaan antar masyarakatnya. Namun, semakin berkembangnya zaman dan teknologi, hal itu mulai menggerus budaya yang sempat menjadi kearifan lokal bangsa Indonesia. Munculnya film “Tilik” ini seakan menegur setiap orang  apakah masyarakat Indonesia saat ini  masih memiliki nilai tersebut, nilai kebersamaan. Sebab, hal-hal seperti menjenguk yang coba di tampilkan oleh film “Tilik” ini nampaknya sudah mulai jarang dilakukan, jarang juga di temukan, terutama di wilayah perkotaan. Dengan adanya isu ini, harusnya bisa menjadi sorotan untuk seluruh masyarakat Indonesia agar tetap memiliki nilai kebersamaan.

  1. Perubahan zaman ke era digital

Makna lain yang coba ditunjukkan dalam film ini adalah bahwa zaman sudah mulai berubah menuju modernisasi. Ya, meski tidak di tunjukan secara gamblang mengenai perubahan zaman, namun ada beberapa kali percakapan antar tokoh menyingung tentang kecanggihan teknologi yang ada saat ini untuk dapat mengumpulkan berbagai informasi. Isu yang coba diangkat dari adegan itu adalah bahwa saat ini, masyarakat sudah harus mulai menggunakan teknologi dan mengikuti perubahan yang terjadi. Fungsinya adalah agar masyarakat bisa melakukan modernisasi terhadap dirinya dan tidak tertinggal dengan perkembangan yang ada. Pesan singkat yang sangat baik ini sepertinya diharapkan dapat ditangkap oleh masyarakat yang menutup dirinya dari perubahan dan perkembangan zaman.

  1. Berita Hoaks

Nah, isu selanjutnya yang dibahas dalam film ini adalah isu tentang kabar hoaks. Ya, isu ini nampaknya sengaja diangkat mengingat di era modern saat ini kabar hoaks mudah sekali tersebar. Hal itu disebabkan karena berkembangnya dunia teknologi dan mudahnya untuk mengakses internet. Kabar hoaks dalam film ini digambarkan dari percakapan dan perdebatan antara ibu-ibu pendukung Bu Tejo yang merasa memiliki banyak informasi dan Yu Ning yang selalu berusaha agar ibu-ibu tidak segera percaya sebelum ada buktinya. Meskipun pada akhirnya perkataan dari Bu Tejo memang benar, tapi bukan berarti ketika ada informasi disampaikan langsung asal percaya. Jadi pesan yang disampaikan melalui kejadian itu adalah berusaha memberikan edukasi pada masyarakat, khususnya pada perempuan yang sudah menikah atau ibu-ibu agar tidak mudah percaya dengan berita atau kabar hoaks yang belum tahu kepastiannya. Karena kebanyakan orang diluar sana saat ini mudah sekali terhasut dengan yang namanya kabar hoaks, terutama penyebaran yang terjadi lewat media sosial atau grup-grup di media sosial.

Pada akhirnya, film ini mau menjelaskan kepada penonton dan masyarakat bahwa Indonesia memiliki kearifan lokal yang unik dan harus di jaga. Kunci untuk menjaga kearifan lokal bangsa Indonesia ini dapat dilakukan dengan menjadi pribadi yang lebih peduli lagi dengan sesama. Selain itu, film pendek “Tilik” ini juga mencoba memberikan edukasi kepada masyarakat tentang hal-hal budaya gibah, menyebarkan berita hoaks dan tuntutan untuk mengikuti perkembangan zaman agar tidak mengalami ketertinggalan. Melihat banyaknya respon positif dari penonton dan prestasi yang sudah didapat, rasanya film “Tilik” ini layak untuk di tonton untuk kalian yang belum menonton film ini. Selain mudah sekali diakses, film ini juga akan memberikan banyak pelajaran yang bisa di ambil dari sana.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *