Resolusi Kemendikbudristek 2022. Kompas. 28 Desember 2021. Hal. 6

Seorang suster biarawati, kepala sekolah dasar swas. orangtua siswanya, memberikan jawaban sangat lugas ketika ka mi sempat terlibat diskusi singkat terkait proses pembelajaran di 2022. “Kami akan mem- berikan pendampingan healing kepada orangtua siswa di awal tahun 2022 ini,” tegasnya.

Suster berkilah, para siswa sampai pengujung 2021 ini telah sangat cepat beradaptasi dengan berbagai teknologi dan model pembelajaran yang menyertainya, apakah daring, semiluring, campuran daring-luring, atau pun uji coba tatap muká; tetapi justru sebagian orangtua siswa belum sukses beradaptasi dengan kondisi selama ini sehingga sampai saat ini belum mengizinkan anaknya ke luar rumah, apaagi ke sekolah.

“Beliau yang meninggal ini salah satu contohnya. Almarhum sering ketakutan karena katanya menderita sakit jantung, dan traumanya itu meng- imbas ke berbagai larangan pada anaknya.” Tiga resolusi tahun 2022

Di awal 2022 ini, terutama di semester kedua tahun ajaran 2021/2022, Kemendikbudristek selayaknya terpanggil untuk memberikan sekurangnya tiga resolusi pendidikan. Pertama, resolusi untuk orangtua, berupa pendampingan healing kepada orangtua. Kedua, resolusi tentang arah “kebudayaan digital”. Ketiga, resolusi tentang “akar dan buah teknologi” yang akan menjelaskan sosok pohonnya

Harus diakui, selama pandemi ini, orangtua siswa adalah pihak yang paling pontang-panting, tetapi memang mengembalikan muruah asas utama pendidikan, untuk ikut menyelenggarakan suksesnya proses pembelajaran anaknya, apa pun model pembelajaran yang sedang dialami anak saat ini. Tak mustahil daya tahan mental ataupun emosi sebagian orang tua tergerus, bahkan mengarah ke kondisi traumatis yang harus segera dicari jalan keluarnya.

Pendampingan healing oleh pihak satuan pendidikan (sekolah) adalah salah satu jalan ke luar terbaik mengingat orang tua tak terpisah dari anaknya dan sekolahnya dimana mereka bergelut dengan model-model pembelajaran yang silih berganti berhubung kondisi pandemi.

Seolah tumbuh berdampingan, model pembelajaran di masa pandemi beriringan dengan kian cepat tumbuhnya “kebudayaan digital,” dalam setiap rumah tangga dan lebih-lebih dalam masyarakat.

Salah satu pemicu trauma orangtua tentu lantaran gempuran digital ini sehingga kompletlah penderitaan mereka, “memaksa” mereka harus segera bisa. Kebudayaan digital sangat cepat merasuki siapa pun, baik yang tak siap, tak mau, maupun yang merasa tak membutuhkan nya. Akselerasi kebudayaan digital harus memanggil Kemendikbudristek untuk secara konkret menumbuhkan ekosistem pendidikan (masyarakat) secara baru, yakni: tetap berkiblat pada pengembangan cipta, rasa, dan karsa untuk menghasilkan karakter berbangsa dan bernegara secara modern.

Akar dan buah teknologi MT Zen (1984) selaku editor buku Sains, Teknologi, dan Hari Depan Manusia menuliskan antara lain: “Sains tanpa teknologi bagaikan pohon tak berbuah, sedangkan teknologi tanpa sains bagaikan pohon tidak berakar”.

Memang, sains hanya mampu menyodorkan dan mengajarkan fakta dan nonfakta ke manusia, tetapi tak mampu (berhak?) mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan/jangan dilakukan orang. Yang terakhir ini tugas kesenian (kebudayaan) dan teologi, karena sains dan teknologi tetap membutuhkan bimbingan moral sebagaimana pameo lama mengatakan: sains tanpa religi/teologi akan buta, religi/teologi tanpa sains akan lumpuh.

Di sinilah kebudayaan sangat berperan, yaitu membantu orang (manusia) untuk terus menemukan jati dirinya untuk akhirnya memampukan orang itu memberikan jawaban religius atas pertanyaan-pertanyaan: siapa aku, siapa engkau, siapa mereka; ke mana aku, ke mana engkau, ke mana mereka. Kualitas jawaban atas pertanyaan- pertanyaan itulah buah sains dan teknologi; dan dalam konteks nomenklatur Kemendikbudristek tentu ada pertanyaan, di mana riset berkiprah: di pendidikannya, kebudayaannya, ataukah teknologinya?

Dan inilah resolusi 2022 yang harus tegas menyebutkannya, betapa riset itu akar dari pendidikan, kebudayaan, dan teknologi; sedangkan buahnya dapatlah dilihat antara lain dari orangtua (siswa) yang merdeka karena tak lagi stres atau trauma serta kebudayaan digital yang membangun cipta, rasa, dan karsa secara modern.

Dalam buku editannya, MT Zen menampilkan kutipan puisi WB Yeats yang gelisah karena, di satu sisi “akal budi kita dipaksa memilih kesempurnaan dalam hidup atau pekerjaan”, padahal di sisi lain manusia itu sebenarnya senang jadi pemalas, tetapi nikmat hidupnya.

Maka ambil semua emas dan perak sebisamu. Puaskan ambi simu/tuangi hari-biasa dengan sinar mentari.

Dan semarakkan bagai hari raya/. Dan atas pepatah ini renungkan: lelaki malas dirindukan semua perempuan/tapi anak-anak mengharapkan harta kekayaan./Sesungguhnya, belum pernah ada seorang lelaki jua/cukup hidup hanya dengan rasa syukur anak-anaknya/dan peluk kecup perempuannya. (hal. 77-78)

Penggalan puisi (tepatnya satire) ini bisa kita pakai sebagai pengingat dua hal penting ter kait resolusi 2022 menuju hari depan berbangsa dan bernegara. Pertama, teruskan kerja keras (dan cerdas) Kemendikbud ristek sebagaimana terjadi di 2021. Kedua, bagaikan lelaki yang “tak cukup hidup hanya dengan rasa syukur anak-anak nya dan peluk kecup perempuannya”, pengabdian kementerian ini cakupannya bukan saja untuk “anak dan istri”, melainkan sangat luas di aspek-aspek pendidikan dan kebudayaannya, berikut menyangkut buah riset dan teknologinya.

POJOK

Harga sejumlah bahan pokok melonjak. Hati-hati, siapa tahu ada yang “aji mumpung”….

Menanti realisasi janji manis energi bersih. Jangan manis di depan, tapi pahit di belakang.

Akhir tahun, penum pang masih datangi bandara dan stasiun…. Ingat protokol kesehatan.

 

Sumber: Kompas. 28 Desember 2021. Hal. 6

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.