Rekomendasi Film peringatan Hari Anak Nasional

Tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional (HAN) dan tahun ini memiliki tantangan tersendiri karena diperingati pada masa pandemi Covid-19.

Mengutip Pedoman HAN 2021 yang dipublikasikan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, tujuan peringatan HAN 2021 adalah sebagai bentuk penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak anak sebagai generasi penerus bangsa. Tema tahun ini adalah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”, dengan tagline #AnakPeduliDiMasaPandemi.

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada hari ini, berikut rekomendasi tontonan buat kalian tentang anak dan keluarga yang bisa kalian tonton di weekend ini.

I Not Stupid (2002)

Ketika menyaksikan film ini, kamu akan diajak mendalami arti pentingnya peranan orangtua dalam mengasuh anak, menjadi guru yang sesungguhnya dan bagaimana lingkungan tempat tinggal dan komunikasi keluarga menjadi elemen yang sangat penting dalam pertumbuhan karakter seorang anak.

 

Film bergender komedi ini adalah film ketiga tertinggi terlaris di Singapura, setelah Money No Enough dan sekuel film ini, I Not Stupid Too, dirilis pada tanggal 27 Januari 2006.

Laskar Pelangi (2008)

Laskar Pelangi itu sendiri merupakan sebuah sebutan untuk 11 siswa di sekolah tersebut karena dengan segala bakat yang berbeda-beda dan kekurangan yang mereka punya, mereka tetap satu untuk melengkapi sesamanya. Bu Muslimah yang sudah mendedikasikan dirinya sebagai seorang guru dengan ikhlas dan terus menanamkan ajaran-ajaran penting dalam kehidupan. Salah satu pembelajaran yang perlu diingat seperti, kita harus bisa memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.

Raya and The Last Dragon

Film animasi besutan Disney ini juga terinspirasi dari budaya Asia tenggara dan salah satunya adalah Indonesia? Awalnya dari judul sekaligus nama sang tokoh utama, Raya. Dalam bahasa Indoenesia, raya berarti besar, dan kata ini dipakai dalam percakapan sehari-hari, seperti jalan raya, hari raya, sampai lagu kebangsaan kitapun berjudul Indonesia Raya.

Issue utama yang diangkat melalui film ini adalah tentang rasa percaya (trust). Jika sebelumnya kita pernah dikhianati, apakah kita bisa kembali mempercayai orang lain? Itulah enaknya menonton film animasi, pesannya bisa dikemas sedemikian rupa tanpa terasa menggurui. Kalau anak-anak kita sudah besar, boleh sempatkan berdiskusi dengannya setelah menonton.

 

 

Wonder

Tentang perjuangan seorang anak laki-laki bernama August Pullman (Jacob Trembley) yang biasa dipanggil Auggie, terlahir dengan kelainan bentuk wajah yang sangat langka, yang dikenal sebagai ‘mandibulofacial dysostosis’. Hal itu membuat Auggie minder, dan menghindar untuk pergi ke sekolah umum. Selama operasi wajah, Auggie belajar di rumah dengan metode homeschooling oleh ibunya, Isabel (Julia Roberts).

Namun ketika Auggie duduk di kelas 5 SD, Isabel dan Nate (Owen Wilson) kedua orangtua Auggie memutuskan memasukannya ke sekolah swasta umum.

Ketika di sekolah, Auggie harus membuktikan dirinya sama seperti anak lainnya, meskipun anak-anak lain tidak menyukainya.

 

Like Stars on Earth/Taare Zameen Par

Taare Zameen Par bercerita tentang Ishaan Awasthi, putra bungsu keluarga Awasthi yang jauh berbeda dengan kakaknya, Yohan. Jika Yohan begitu cemerlang dalam pelajaran, maka Ishaan adalah kebalikannya. Nilainya selalu buruk dan tak punya minat pada pelajaran. Para guru di sekolahnya pun tak sanggup lagi menghadapi Ishaan dan kelakuannya. Demi menyelamatkan sang putra dari tidak naik kelas untu kedua kalinya, sang ayah akhirnya memutuskan memindahkan Ishaan ke sekolah berasrama di pertengahan semester. Berada di sekolah baru, tidak serta merta membuat kondisi Ishaan membaik. Perasaan ditinggalkan, sebutan bodoh yang kerap ditujukan padanya membuat Ishaan sempat menjalani masa sulit. Namun Ishaan memiliki sebuah bakat, yaitu menggambar.

Beruntung dia bertemu dengan Ram Shankar Nikumbh (Aamir Kahn), seorang guru kesenian pengganti yang pada akhirnya berhasil menemukan penyebab ketidakmajuan Ishaan dalam belajar, yakni Dislexia. Dan seperti yang kita tahu, Disleksia adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. Dengan pengalamannya sebagai guru tetap di sebuah sekolah anak cacat, Ram berusaha mengembalikan semangat yang sempat hilang dari diri Ishaan, serta semangat untuk mengembangkan bakat menggambarnya. Di akhir tahun pelajaran, sekolah asrama ini mengadakan lomba menggambar antar siswa dan guru. Gambar dari pemenang lomba ini akan dijadikan cover dari buku tahunan sekolah. Pemenang lomba ini adalah Ishaan dan sang guru yang selalu membimbingnya. Gambar mereka pun dijadikan cover buku tahunan.

 

Fireflies: River of Light

Karya sutradara Hiroshi Sugawara, melalui film ini kita dapat belajar melalui seorang guru sekolah dasar, Hajime Miwa, yang memiliki impian dapat melihat kunang-kunang  dapat terbang kembali di atas Sungai Yamaguchi. Namun hal tersebut tidaklah mudah. Ia harus membuat habitat tempat tinggal kunang-kunang sesuai dengan habitat aslinya, yang artinya ia harus membersihkan sungai yang sudah tercemar air dengan berbagai kotoran seperti ban sepeda, keyboard computer, dan sepeda itu sendiri! Para muridpun sangat bersemangat, dan para muridlah yang menjadi penyemangat pak guru Miwa untuk terus membersihkan sungai dan mengkembangbiakan kunang-kunang walaupun kegiatan tersebut ditentang oleh pihak sekolah. Namun ia tetap bertanggung jawab jika kunang-kunang yang dikembangbiakkannya tidak berhasil hidup ia akan berhenti dari pekerjaannya.

Sebuah langkah yang berani dari Pak guru Miwa untuk tetap berkomitmen kepada apa yang telah ia mulai. Ia tetap berkomitmen membersihkan lingkungan demi kunang-kunang kembali hidup serta mengembalikan alam kepada tempat yang semestinya kembali.

The Boy Who Harnessed the Wind

Film ini memotret kehidupan masyarakat Malawi yang sangat bergantung pada hujan. Intensitas hujan yang sangat jarang berakibat pada sedikitnya hasil panen dan pendapatan masyarakat. Kesulitan pangan memaksa mereka untuk menjarah satu dengan yang lainnya agar bisa bertahan hidup. Di tengah kesulitan ini hadir perusahaan multi nasional yang ingin memperluas lahan tembakau dengan mengiming-imingi warga dengan uang pengganti yang sangat rendah.

Dalam situasi seperti ini Trywell Kamkwamba (Chiwetel Ejiofor) masih sempat berusaha agar anak-anaknya memperoleh pendidikan. William Kamkwamba (Maxwell Simba) anak kedua Trywell memiliki ketertarikan pada sains dan sering memperbaiki radio dan tape warga sekitar. Pada suatu saat William terpaksa harus dikeluarkan dari sekolah karena orang tuanya belum membayar uang sekolah. Kondisi ini tidak mematahkan semangatnya untuk terus belajar. William merasa terpanggil untuk memecahkan masalah yang sedang mereka alami.

William mampu melihat peluang dari berbagai masalah yang sedang terjadi. Angin dan Sains. William menemukan ide inovatifnya untuk memadukan angin dan sains sebagai sumber energi pompa air. Ide ini muncul ketika dia melihat dinamo sepeda yang mampu memberi energi pada lampu sepeda. Dari situ William ingin menggunakan angin sebagai penggerak dinamo. Untuk mewujudkan idenya William membutuhkan ilmu pengetahuan, sumber daya dan kepercayaan. William yang sudah dikeluarkan dari sekolah harus bersekongkol dengan guru sains (pacar kakaknya) agar boleh belajar di perpustakaan, meskipun pada akhirnya ketahuan. Untuk membangun kincir angin yang besar William memanfaatkan barang-barang rongsokan. Dia masih harus meyakinkan ide gila ini pada ayahnya agar rangka sepeda ayahnya dapat dia manfaatkan sebagai salah satu bagian dari kincir angin. Tidak semulus yang diharapkan, ayahnya tidak setuju begitu saja. Setelah melewati proses yang sulit akhirnya kincir angin pun berhasil beroperasi dan air pun mulai mengalir ke kebun warga.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.