Regina Martha Produksi Tas Bioplastik yang Ramah Lingkungan_Berbahan Dasar Gelatin dan Pewarna Makanan. Surya. 15 Oktober 2020. Hal.1,15. Alumni FDB

Berbahan Dasar Gelatin dan Pewarna Makanan

Maraknya sustainable fashion (fashion ramah lingkungan) menjadi alternatif untuk melestarikan lingkungan. Ini seperti dilakukan oleh Regina Martha dengan memproduksi tas ramah lingkungan.

Regina Martha embuat tas berbahan bloplastik yang merupakan bahan renewable atau dapat diperbaharui dan juga ramah lingkungan.

            “Brand saya (Nuova), sementara desainnya saya namai (Adattare) saya ambil dari bahasa Italia yang berarti adaptasi, di mana ke depannya sayaberharap brand tas saya dapat ikut bradaptasi dengan perkembangan fashion,” kata Regina, Rabu (14/10).

Model tas buatan alumni mahasiswi Fashion Design and Business Universitas  Ciputra ini memiliki adjjustable strap sehingga tali tas dapat dilepas ataupun dipasang. Biasanya tas ini digunakan untuk occasion hang out atau berpergian.

“Tas ini berbahan dasar utama gelatin, jadi beberapa bahan itu saya masak lalu diwarna dan diceram di cetakan silikon, dikeringkan beberapa hari sehingga menjadi lembaran bioplastik yang kemudian siap untuk membuat tas,” ujarnya.

“Sementara dari bMian bioplastiknya tinggal saya buat pola tasnya dulu, lalu diblat di bioplastik dandipotong sesuai pola, kemudian dijahit,” imbuhnya.

Untuk mewarnai tasnya, Regina memilih menggunakan pewarna makanan. Dimana saat bahan bioplastik dicetak pada kondisi belum kering, pewarna makanan diteteskan kemudian digradasi menggunakan garpu.

Meski begitu perempuan kelahiran Surabaya, 20 Maret 1998 ini merasa kurang fasilitas dan eksperimen sehingga bahan yang dihasilkan masih ada beberapa kekurangan. Ditambah lagi proses pembuatan bioplastik masih membutuhkan waktu yang lama.

Ke depan Regina berharap dapat menjual setelah menemukan eksperimen bahan bioplastik yang benar-benar pas untuk dijual kepada masyarakat. Regina mematok harga sekltar Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta untuk per satu tas Nuova ini.

“Saya jual harga segitu karena produk tas ini termasuk produk slow fashion, dengan harapan semoga dapat diterima oleh masyarakat,” pungkasnya. (mohanunad zainal arif)

 

Sumber: Surya 15 Oktober 2020. Hal 1, 15

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *