Refleksi Keselamatan Mudik Hari Raya.Kontan.24 Mei 2018.Hal.23

Oleh Jony Eko Yulianto (Dosen Psikologi Sosial Universitas Ciputra Surabaya)

Kecelakaan besar yang baru-baru ini terjadi di Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes patut menjadi perhatian kita semua. Berbagai media melaporkan bahwa penyebab dari kecelakaan ini adalah rem truk pengangkut gula kristal tidak dapat berfungsi dengan baik saat melalui jalan yang melandai turun alias blong.

Setidaknya ada 11 orang meninggal dan 10 orang luka-luka, serta kerusakan material pada enam rumah, satu kios, 19 sepeda motor, dan dua mobil. Melihat kejadian yang memilukan tersebut, ada harga mahal yang harus dibayar untuk kecelakaan fatal tersebut.

Kejadian ini menggugah empati kita. Terutama untuk korban dan keluarganya. Serta tak ketinggalan masyarakat setempat yang mengalami kerugian material karena insiden kecelakaan maut tersebut.

Di sisi lain, kejadian tersebut sebenarnya menjadi momen refleksi yang sangat berharga untuk kita. Terlebih, dalam waktu dekat, kita akan memasuki periode mudik ke kampung halaman di Hari Raya Idul Fitri beberapa saat lagi. Memahami dimensi kecelakaan lalu lintas secara holistik akan membuat kita awas dan mengkalkulasi risiko dengan cermat ketika berkendara.

Di harian ini, saya pernah menulis sebuah artikel yang berjudul “Prangai Abai Dunia Transportasi” pada 12 Januari 2017. Kala itu, kita menyoroti dua kasus kecelakaan di laut (Kapal Zahro Ekspress) dan udara (Pesawat Citilink). Melalui artikel tersebut, kita dapat melihat bahwa kecelakaan sebenarnya merupakan buah interaksi faktor mesin dna faktor insani.

Kecelakaan yang disebabkan karena faktor permesinan atau rem yang mendadak tidak berfungsi tntu di luar kendali kita. Tetapi yang perlu kita waspadai adalah faktor psikologis kita sebagai pengguna kendaraan.

Secara psikologis, setidaknya ada dua penekatan yang dapat menjelaskan mengapa sebuah kecelakaan dapat terjadi. Pertama, irasionalitas manusia. Tema irasionalitas ini terutama terlihat dalam pola-pola pengabaian.

Misalnya, meskipun pengguna kendaraan telah dihimbau untuk melakukan pengecekan secara berkala, tetapi tidak dihiraukan. Beberapa orang malah lebih memilih untuk abai terhadap kondisi rem yang longgar, berkendara tenpa helm untuk jarak dekat, maupun keputusan untuk menerobos lampu merah ketika situasi sepi.

Hal tersebut merupakan representasi irasionalitas manusia. Keingnan untuk mendapatkan gratifikasi instan berusaha dipenuhi meskipun harus mengorbankan hal-hal yang lebih mahal seperti keselamatan pengendara. Pada hal, aturan yang telah dibuat itu justru didesain untuk melindungi pengendara dari kecelakaan yang tidak perlu terjadi.

Namun sebagaimana Daniel Kahneman katakan, dalam sitauasi yang penuh ketidakpastian seperti di jalan raya, manusia dapat mengambil keputusan secara heuristik tanpa memiliki dasar atau alasan yang jelas.

Pendekatan kedua adalah kepribadian pengendara. Dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Verma (2017), ditemukan bahwa kepribadian pengemudi sangat menentukan cara mengemudi, fluktuasi emosi saat mengemudi, dan cara mengambil keputusan dalam situasi-situasi kritis. Dalam ilmu psikologi, variasi toleransi seorang pengemudi dalam bersentuhan dengan risiko dalam berkendara disebut sebgai sensasion-seeking behavior.

Secara deskriptif, sensasion-seeking behavior akan menentukan sejauhmana seorang pengendara akan mengemudi dengna cara menantang adrenalinnya. Semakin memacu adrenalin, ia akan semakin puas. Contohnya, dengan sengaja mamacu kendaraan di atas toleransi kecepatan yang diizinkan, melanggar lampu lalu lintas, dan merasa bangga ketika dapat menempuh jarak sejauh mungkin dengan waktu tempuh secepat mungkin.

Secara perpektual, pengemudi-pengemudi yang memiliki kecenderungan sensasion-seeking behavior yang tinggi adalah orang-orang yang mempersepsikan bahwa kemampuan mengemudinya di atas rata-rata. Mereka juga cenderung untuk memandang remeh setiap risiko sebagai hal kecil yang dapat ia atasi selama berkendara.

Profil risiko yang berbeda ini membuat perilaku berkendaranya berbeda dengan kebanyakan pengendara lainnya di jalan raya. Tidak jarang kecelakaan terjadi karena ulang para pengendara di semacam itu.

 

Refleksi mudik

Eksplanasi di atas sebenarnya memberikan setidaknya dua perefleksi penting sebagai persiapan melakukan mudik di Hari Raya Idul Fitri nanti.

Pertama, mewaspadai perilaku abai kita maupun pengendara lainnya. Pengecekan kondisi kendaraaan merupakan bentuk persiapan awal yang baik untuk memastikan kendaraan telah aman. Persiapan kendaraan ini juga menunjukan bukti bahwa kita tersadar penuh dengan risiko kecelakaan yang isebabkan karena faktor mesin.

Kita perlu juga mewaspadai cara kita berkendara, termasuk cara kita mengambil haluan, kebiasaan-kebiasaan dalam mendahului pengendara lain, maupun kemampuan dalam berkomunikasi memberikan tanda kepada pengendara lain.

Hal ini menunjukan mempuan meta-kogra kita dalam berkendara di jalan raya yang berisi interaksi antar pengendara. Perpektif berkendara yang memandang semua pengendara lain sebagai pengguna (user) akan meminimalisir perilaku egosentris di jalan raya yang bermuara pada menurunnya tingkat kecelakaan.

Kedua, pentingnya menekankan tiga E sebagai tiga elemen penting dalam meningkatkan keselamatan berkendara selama periode menjelang mulainya hari raya. Yakni education yakni memberikan edukasi keselamatan berkendara, mulai dari level wacana seperti kampanya berkendara aan, hingga level konk seperti pelatihan berkendara aman.

Semudian enforcement, yakni menginstruksikan banyak petugas terkait seperti kepolisian untuk memastikan pengendara mematuhi rambu dan ketentuan berlalu lintas; dan engineering, yakni mendorong pihak terkait untuk melakukan inspeksi desain control perawatan jalan.

Sumber : Kontan.24-Mei-201.Hal.23

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *