Perencanaan Menjadi Kunci Sukses Mengajar Daring. Jawa Pos. 13 Agustus 2020. Hal.13,23. Lucky Cahyana Subadi.TLC

SURABAYA, Jawa Pos – Belajar daring maupun luring punya tantangan masing-maSing. Seharusnya, diskusi tentang pendidikan di tengah pandemi tidak hanya berkutat pada lokasi dan jenis medianya. “Tetapi, lebih pada perencanaan dan hasil pembelajarannya, tercapai ataukah tidak,” tutur Lucky Cahyana Subadi, pakar pendidikan dari Universitas Ciputra (UC).

Dalam proses belajar, guru harus mengasah aspek psikomotorik, kognitif, dan sikap siswa. Hilangnya salah satu aspek dari perencanaan pembelajaran membuat pendidikan tidak berjalan maksimal.

Maka, pentingmenciptakan pembelajaranyangmenuntut siswa untuk mengalami dan berinteraksi “Konsepnya experiential learning. Siswa dikondisikan untuk berinteraksi mulai dari alat, bahan, hingga orang lain,” tutur head of Teaching and Leanting Innovation Center UC itu.

Aspek kognitif mungitin terlihat lebih mudah untuk disampaikan secara daring. Siswa bisa menerima materi langsung, membaca sendiri, atau melakukan riset. Namun, aspekpsikomotorik dan sikap baru bisa dicapai saat siswa mengalami secara langsung. “Kalau dengan guru, siswa lain, mungkin bisa dengan chat, telepon. Tapi, melatih sici// masak misalnya, apa bisa?” imbuhnya. Guru harus melakukan perencanaan pendidikan sebelumnya. Persiapan alat dan bahan apa saja yang digunakan siswa di rumah. Hal tersebut juga disesuaikan dengan kemampuan siswa dan keluarga. “Kalau tidak memungkinkan, berarti butuh laboratorium di sekolah. Nah, kita jadi geser, protokol kesehatannya seperti apa biar siswa bisa praktik di sekolah,” jelasnya. Kebersihan alat praktik, pengaturan jarak siswa, dan penjadwalan sif bagi siswa. Beberapa hal tersebut perlu dipikirkan guru dan sekolah. Bentuk evaluasi hasil belajar juga mesti berubah. Tak bisa hanya berdasar ujian pilihan ganda atau isian esai. Jenis evaluasi juga sebaiknya memberikan tambahan skill di luar kognitif. “Misalnya, melalui presentasi kreatif. Debat antarsiswa juga bisa jadi pilihan,” ucapnya. Kolaborasi dengan materi dan guru mata pelajaran lain patut dicoba. Siswa jadi lebih bisa mengeksplorasi koneksi antarmateri. Waktu siswa yang terbatas bisa digunakan untuk menyelesaikan satu tugas untuk beberapa materi sekaligus.

Lucky mengatakan, guru kini punya peran tambahan. Tak hanya menyampaikan materi, tetapi juga sebagai mentor dan desainer sistem pembelajaran. “Sekarang guru tidak bisa ajari ini itu, tapi mereka juga harus siap dikontak di luar jam belajar. Karena siswa dan orang tua juga bisa mengalami kesulitan saat itu,” sambungnya.

Dalam merancang sistem pembelajaran, Lucky mengatakan sangat wajar jika guru tidak langsung menemukan formula yang pas di awal. “Saya sebagai dosen juga coba-coba metode, lalu dilihat hasilnya apakah optimal,” jawab pria berkacamata tersebut Evaluasi menjadi aspek penting dalam sistem pembelajaran saat ini. Baik dari guru maupun dari siswa. “Jadi, guru saat ini jangan mudah nggondok. Coba ini gagal, lalu sudah tidak mau coba yang lain. Lalu, siswa mau bagaimana?” tuturnya. (dya/c6/git)

 

Sumber: Jawa Pos. 13 Augustus 2020. Hal 13. 23

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *