Peran Hotel bagi Bangsa dan Dunia. Venue.07.2018. Hal.46-47_Dewa Gde Satrya.IHTB

 

Penulis : Dewa Gde Satrya Dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya

 

Pada 18-24 April 1955 Indonesia menorehkan sejarah penting bagi peradaban dunia. Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika (KAA) adalah sebuah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. KAA diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (dulu Burmo), Sri Lanka (dulu Cylon), India dan Pakistan dengan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario. Pertemuan ini berlangsung di Gedung Merdeka, Bandung.

Sebanyak 30 negara yang mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia pada saat itu mengirimkan wakilnya. Konferensi ini merefleksikan apa yang mereka pandang sebagai ketidakinginan kekuatan-kekuatan Barat untuk berkonsultasi dengan mereka tentang keputusan-keputusan yang memengaruhi Asia pada masa Perang Dingin; kekhawatiran mereka mengenai ketegangan antara Republik Rakyat Cina dan Amerika Serikat; keinginan mereka untuk membentangkan fondasi bagi hubungan yang damai antara Tiongkok dengan mereka dan pihak Barat; penentangan mereka terhadap kolonialisme, khususnya pengaruh Perancis di Afrika Utara dan kekuasaan kolonial perancis di Aljazair; dan keinginan Indonesia untuk mempromosikan hak mereka dalam pertentangan dengan Belanda mengenai Irian Barat.

Sepuluh poin hasil pertemuan ini kemudian tertuang dalam apa yang disebut Dasasila Bandung, yang berisi tentang pernyataan mengenai dukungan bagi kedamaian dan kerja sama dunia. Dasasila Bandung ini memasukkan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru. Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961.

Peringatan 63 tahun KAA pada April lalu di Bandung pertama-tama menegaskan peran penting hotel bagi perjalanan bangsa Indonesia hingga sekarang. Sekaligus Momentum yang mengenang jasa Bung Karno yang tahu betul peran hotel bagi pencitraan bangsa Indonesia. Hotel menjadi simbol harga diri bangsa. Di bisnis akomodasi tersebut, bangsa Indonesia menampilkan diri dalam pergaulan global, di Surabaya, Hotel Majapahit (waktu itu Hotel Yamato) menjadi saksi sejarah penyobekan bendera Belanda (merah-putih-biru) menjadi Sang Saka Merah Putih.

Di Jakarta, ada Hotel Indonesia (HI), simbol kebanggaan bangsa. HI dikenal dan dikenang sebagai wadah pendidikan, sebuah ‘kawah Candradimuka’, tempat para hotelier digembleng, serta mendapat pelajaran dan pengetahuan tentang bisnis dan administrasi perhotelan. Maka tak heran, HI telah melahirkan hotelier yang tangguh dan tersebar di seluruh Indonesia hingga mancanegara.

HI juga merupakan awal industri perhotelan modern bertaraf internasional di Indonesia. Manajemen awal dipegang oleh Intercontinental Hotels Corporation (IHC), sebuah perusahaan perhotelan yang berkantor di New York, anak eprusahaan Pan American Airways (PanAm) yang sering digunakan Bung Karno dalam lawatannya ke luar negeri.

Bung Karno-lah yang memiliki gagasan pendirian HI dan hotel berbintang lainnya di negeri ini: Hotel Bali Beach, Ambarukmo Palaca Hotel, Samudra Beach Hotel, dan sepuluh hotel nasional yang tersebar di seluruh Nusantara sebagai Natour Hotel. Proyek pembangunan hotel berbintang tak lepas dari strategi Bung Karno membangun citra Indonesia sebagai negara yang baru merdeka, apalagi Indonesia sudah bergabung dengan Perserikatan Bangsa-bangsa (Arifin Pasaribu, 2014).

Rupanya strategi pembangunan hotel berbintang dengan menggunakan dana pampasan perang Jepang itu merupakan bagian dari strategi pendiri bangsa ini untuk ‘meningkatkan kasta’ bangsa Indonesia dalam pergaulan global. 10 tahun setelah Indonesia merdeka, dengan tambahan modal memiliki hotel berbintang di Jakarta dan Bandung, Indonesia menjadi tuan rumah KAA. Kini, KAA tercatat sebagai perintis atau cikal bakal industri MICE (meeting, inventive, conference, exhibition) di Indonesia.

Di Bandung, sejarah mencatat, berlokasi dekat Gedung Merdeka, Hotel Savoy Homann Bidakara menjadi satu-satunya hotel tempat menginap para kepala negara pada pelaksanaan KAA pertama tahun 1955. Kepala negara yang pernah menginap di hotel ini adalah Bung Karno, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru dan Perdana Menteri Tiongkok saat itu Zhou Enlai. Nehru menempati kamar nomor 144 di lantai satu, Bung Karno di kamar nomor 244 di lantai dua, Zhou Enlai di kamar nomor 344 lantai 3.

Kini, 63 tahun pasca KAA, Indonesia kembali menjadi tuan rumah event penting bagi dunia. Annual Meeting IMF dan Bank Dunia tahun ini akan diadakan di Bali. Pertemuan tersebut akan dihadiri 189 negara dengan delegasi 17.000 orang. Terdiri dari menteri keuangan dan gubernur bank sentral, lembaga keuangan internasional, petinggi perusahaan dan pengusaha kaya.

Semoga kesuksesan KAA dari segi acara, logistik dan oengamanan terulang di Annual Meeting IMF dan Bank Dunia di Bali. Keberhasilan KAA dan Annual Meeting IMF dan Bank Dunia secara khusus merupakan kontribusi kinerja industri perhotelan bagi bangsa dan dunia. Profesi sebagai hotelier menjadi pekerjaan mulai bagi perjalanan peradaban bangsa dan dunia.

Sumber : Venue.7.2018.Hal.46-47

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *