Refleksi 1 Tahun Bom Surabaya_Pentingnya Narasi dan Diksi Persatuan. Jawa Pos. 13 Mei 2019. Hal.4. Dewa GS. IHTB

Jos Salibmu

 

Kita ini semasa, sederap, seirama Jos

Pak Dirman, Ngurah Rai, dan Dikau

Dan kita semua orang orang 45

Pak Dirman Islam beriman

Ngurah Rai ikut Dewata Agung

Dikau Jos berpegang pada salibmu

 

Betapa indah

Betapa megah

Lambang korban bersama

 

PENGGALAN puisi karya Bung Tomo itu tercetak di sebuah lempeng besi dan tersimpan sebagai koleksi Museum TNI Angkatan Laut Loka Jala Chrana di Bumimoro, Surabaya. Tercermin kuat relasi emosional di antara dua patriot Nusantara. Kini narasi puisi itu terasa “bernyala”, ikut tergores bersama nurani pada peringatan satu tahun serangan bom di Surabaya pada 13-14 Mei 2018.

Para korban serangan terorisme di tiga gereja (Gereja Katolik Santa Perawan Maria, Ngagel; GKI Diponegoro; dan GPPS, Arjuno) serta Polrestabes Surabaya adalah korban bangsa, korban kemanusiaan di bumi Indonesia yang bineka ini. Syair puisi persatuan dan penghormatan atas perbedaan itu kini harus lebih bernyala kuat mengatasi ancaman permusuhan dan kebencian yang memecah belah persatuan Praktik toleransi dan welas asih harus terus dihidupi dan dihidupkan.

Sejarah mengajarkan, tindakan konkret toleransi, persatuan, cinta, kasih, dan welas asih yang dipraktikkan para pendiri bangsa juga tercermmin kuat dalam narasi dan diksi yang mereka sampaikan Puisi Bung Tomo untuk Jos Sudarso di atas salah satunya.

Bukti lain yang menunjukkan betapa tutur kata dan keputusan tindakan penting para bapak bangsa untuk menyelamatkan bangsa juga tercermin pada peristiwa akhir Februari 1947. Saat itu, uskup pribumi pertama Indonesia, Mgr Albertus Soergijapranta SJ, memberi tempat perlindungan kepada Ibu Negara Fatmawati dan putrinya yang kala itu belum genap berusia satu bulan yang kelak menjadi presiden ke-5 RI (Megawati Soekarno-putri). Bung Karno kala itu diasingkan ke Pulau Bangka dan untuk menyelamatkan keluarganya dari kejaran serdadu Belanda, Romo Kanjeng (panggilan akrab Uskup Soegijapranata) memberi tempat berlindung bagi ibu negara dan putrinya di Kampung Ledok Ratmakan, tepi barat Kali Code, Jogjakarta. Saat ini, tempat berlindung itu masih ada, berada di kompleks Gereja Katolik di Bintaran, Jogjakarta.

Dalam buku Soegija, Si Anak Betlehem (G. Budi Subanar, 2003) diceritakan, akhir November 1946, Soekarno Hatta memindahkan pusat pemerintahan barunya dari Jakarta ke Jogjakarta. Sebagai ungkapan sikap nasionalisme dan dukungan terhadap pemerintahan Soekarno-Hatta, sejak 15 Februari 1947 Romo Kanjeng memindahkan kantor Vikariat Apostolik-nya dari Gereja Katedral Semangat ke Gereja Bintaran. Dari sinilah setting sejarah kasih heroik dan praktik cinta kasih di atas bermula.

Relasi ini yang kemudian mengeratkan Romo Kanjeng dengan Bung Karno. Bahkan, Bung Karno pernah menghadiahi Romo Kanjeng sebuah repro lukisan karya perupa mashyur Italia berjudul Heilige Maagd. Dalam suarat pengantar yang dibuat di Jogja tertanggal 10 Agustus 1948, Bung Karno menulis, “…Sekarang saya bergembira hati dapat menghadiahkan lukisan itu kepada Yang Mulia, sebagai tanda penghargaan saya kepada golongan Roma Katolik di Indonesia. Moga-moga golongan Roma Katolik tetap sejahtera dalam Republik.

Bagi Surabaya serangan terorisme setahun yang lalu merupakan “pukulan” bagi kota yang sarat dengan citra keberanian, pengorbanan, dan kepahlawanan ini. Peristiwa heroik perang tidak berimbang di Surabaya November 1945 terpatri sebagai teladan dan keteguhan hati para pewaris kota ini untuk mempertahankan pecahan dan bentuk-bentuk penjajahan kemanusiaan lainnya.

Salah satu hal terpenting dalam sejarah kepahlawanan yang perlu diberi penekanan adalah pembelajaran akan sinkronnya antara keyakinan hati, tutur kata, dan tindakan para pejuang di medan revolusi fisik. Tersirat dalam ungakapan “Merdeka ataoe Mati” merupakan serpihan narasi posisitf di atas nilai kemanusiaan, yang didorong oleh otak bawah dasar akan kemenangan kedaulatan Indonesia atas penjajahan.

Rhonda Byrne (Secret, 2008,9) menuliskan, tugas kita sebagai manusia adalah memelihara pikiran-pikiran yang kita inginkan, memperjelas apa yang kita inginkan di dalam benak, dari situ kita mulai membangunkan salah satu hukum terbesar di semesta untuk menjadikan kita seperti apa yang paling kita pikirkan dan meraih apa yang paling kita pikirkan. Segala kebaikan, juga keburukan, selalu berawal dari pikiran dan keinginan.

Ungkapan keyakinan “Merdeka ataoe Mati” menjadi roh dan gerakan kolektif bagi setiap anak bangsa yang hidup dan tinggal di kota ini untuk mengkreasikan segenap daya upaya bagi suatu impian dan cita-cita mulia. Kini, tak terkecuali impian atas persoalan kemanusiaan dan bahaya penyebaran kebencian yang memecah persatuan sebagai bangsa melalui narasi dan diksi negatif, maupun serangan mengerikan terorisme setahun yang lalu, dengan pendekatan ala secret ini niscaya akan mengubah seperti yang diimpikan.

Pertempuran di Surabaya semestinya secara teori juga tergerakkan oleh otak bawah sadar pejuang yang mengkristalkan kemerdekaan dari tangan penjajah. Narasi positif, patriotisme, dan tindakan konkret nasionalisme tak hanya milik para pendahulu. Menerima perbedaan sambil mengupayakan persatuan melalui tutur kata serta tindakan positif sekiranya menjadi sikap sederhana yang juga mengupayakan perdamaian. Dan itu berarti nasionalis dan berkebangsaan.

Pengampunan keluarga korban bom Surabaya setahun lalu menjadi teladan narasi positif yang amat penting bagi bangsa saat ini dan bagi perjalanan bangsa di masa depan. (*)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *