Pendeteksi Antibodi Berbasis Elisa. Kompas. 10 Januari 2022. Hal. 9

Peneliti dari IPB University mengembangkan kit antibodi Covid 19 berbasis enzyme-linked immunosorbent assay atau Elisa. Alat ini dapat mengukur antibodi seusai vaksinasi.

Selain menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, vaksinasi juga menjadi strategi kunci menangani pandemi Covid-19. Bahkan, dalam waktu dekat dilakukan vaksinasi penguat atau booster menyusul kemunculan mutasi virus penyebab Covid-19 dengan tingkat penularan yang tinggi seperti Delta dan terbaru Omicron.

Mengingat pentingnya vaksinasi, hingga kini pemerintah terus mengejar cakupan vasi nasi. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, cakupan vaksinasi tahap pertama hingga Minggu (9/1/2022) mencapai 170227461 orang atau 81,74 persen dari sasaran. Cakupan vaksinasi kedua sebanyak 116.825.699 orang atau masih 56,09 persen.

Seseorang divaksinasi agar tubuhnya menghasilkan anti bodi untuk melawan virus. Ide awalnya, hal ini perlu ditindak lanjuti dengan pengujian untuk mendeteksi dan mengukur kadar antibodi yang terbentuk. Namun, alat pengukuran anti bodi yang banyak digunakan masyarakat mayoritas masih impor dan berbiaya mahal.

Saat ini peneliti Pusat Studi Satwa Primata Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IPB University telah mengembangkan kit anti bodi Covid-19 berbasis enzyme -linked immunosorbent assay (Elisa). Melalui inovasi ini, efektivitas program vaksinasi Covid-19 selama pandemi bisa dipantau dan dievaluasi secara lebih baik.

Produk inovasi yang diberi nama kit Elisa antibodi Covid-19 Merah Putih ini diluncurkan secara resmi pada 21 Desember 2021.

Dua jenis penanda

Ketua Tim Peneliti Kit Elisa Antibodi Covid-19 Pusat Studi Satwa Primata LPPM IPB Uni versity Huda Shalahudin Darusman menyampaikan, kit Elisa antibodi Covid-19 ini dikembangkan dengan dua jenis penanda antibodi untuk mendeteksi dua partikel utama virus SARS-CoV-2. Dua jenis tersebut ialah penanda bagian luar (spike/protein paku) dan dalam (nukleokapsid) sehingga informasi yang diperoleh lebih definitif serta akurat.

“Saat ini banyak varian Co vid-19 seperti yang terbaru, yakni Omicron, dan kita harus tahu banyak perubahan di bagian spike sehingga bisa kita back up atau deteksi lainnya agar lebih akurat kadar antibodinya. Kit ini mendeteksi dua jenis partikel virus dan dapat mengetahui kekebalan dan jumlahnya secara spesifik,” ujarnya.

Proses pembuatan kit Elisa antibodi Covid-19 ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama ialah memproduksi protein rekombinan nukleokapsid (N) LOSON. dan antigen protein receptor Grun binding domain (RBD) SARS-CoV-2. Sementara pada tahap kedua ialah pengaplikasian protein rekombinan

SARS-CoV-2 melalui uji Elisa. Proses pembuatan kit Elisa antibodi Covid-19 ini menggunakan teknologi yang berbeda dengan kit antibodi yang sudah ada di masyarakat. Teknologi yang digunakan dalam mengembangkan protein N dan sehatan. RBD SARS-CoV-2 ini ialah dengan protein rekombinan berbasis gen sintetik yang sudah dioptimasi kodenya.

Komponen deteksi protein rekombinan yang dikembangkan oleh peneliti dari IPB University ini merupakan komponen utama dalam dasar pengujian antibodi dan telah dipatenkan. Komponen ini juga di aplikasikan dengan teknik yang mudah dan ramah digunakan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan

Sebelum resmi diluncurkan dan mendapatkan paten, kit Elisa antibodi Covid-19 telah melalui serangkaian tahap pengujian. Salah satu tahap yang dilakukan adalah pelapisan rekombinan protein in house dan komersial untuk mendeteksi antibodi. Hasil pengujian menunjukkan adanya interaksi antara protein dan antibodi pada serum kontrol. Artinya, ter- dapat indikasi potensi kemampuan protein rekombinan dalam mendeteksi antibodi SARS-CoV-2 pada sampel serum.

“Kami juga telah menguji pada sampel manusia yang telah divaksin dan telah melalui persetujuan etik. Penelitian ini melibatkan mahasiswa sehingga ada konektivitas LPPM dengan sekolah pascasarjana dan telah menghasilkan dua karya tulis ilmiah pada media internasional bereputasi,” kata Huda.

Integrasi teknologi

Menurut Huda, hasil deteksi kit Elisa antibodi Covid-19 da- pat diintegrasikan dengan teknologi kecerdasan buatan (ar- tificial intelligence/Al) yang bisa dibaca dan dianalisis. Integrasi teknologi ini memungkinkan untuk mendapatkan hasil yang mendekati penggunaan mesin konvensional. Pengembangan ini nantinya akan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan IPB University.

Huda menegaskan, kit Elisa antibodi Covid-19 pada akhirnya dapat membantu dalam mengevaluasi keberhasilan pelaksanaan vaksinasi yang telah berjalan. Dengan adanya evaluasi, ke depan akan dapat menghasilkan pertimbangan untuk strategi tata laksana vaksin yang lebih baik. Pengembangankit ini juga mendukung kemandirian nasional dalam penanganan Covid-19 dan riset kesehatan.

“Kami akan mencoba terus mengembangkan kit antibodi ini pada proses produksi dan perlu validasi serta pendampingan dari mitra riset maupun Badan POM (Pengawas Obat dan Makanan) untuk menja dikan produk ini kompetitif,” ucapnya.

Dalam kegiatan peluncuran kit Elisa antibodi Covid-19 tersebut, Pusat Studi Satwa Primata LPPM IPB University juga mengenalkan enzim reverse transcriptase (RT) inventpro. Enzim ini adalah enzim rekombinan asal gen sintetik Molony Murine Leukemia Virus (MMLV) dan Simian Retrovirus Serotipe-2 (SRV-2) yang sudah dimodifikasi pada beberapa asam amino lainnya.

Enzim RT inventpro sangat penting di dalam pengembangan teknologi terutama untuk bioteknologi dan kegiatan yang terkait dengan biomolekuler uji yang memerlukan suatu sintesis asam deoksiribonukleat (DNA) dari materi genetik asam ribonukleat (RNA). Salah satu aplikasi penggunaan enzim ini ialah membantu mendeteksi Covid-19 melalui teknik reaksi rantai polimerase (PCR).

Tak hanya pangan

Rektor IPB University Arif Satria mengatakan, dengan di kembangkannya kit Elisa an tibodi Covid-19 dan enzim RT inventpro tersebut, secara de à facto IPB University sudah me nempatkan diri tidak hanya dalam penelitian di bidang pangan, tetapi juga kesehatan. Penelitian di bidang kesehatan yang berbasis sumber daya lokal ini sangat penting untuk pengembangan biomedis ke depan.

Ia menyatakan, IPB University terus mendorong agar hilirisasi riset dari IPB terus terwujud untuk kepentingan masyarakat, industri, ataupun pemerintah. “Oleh karena itu, inovasi ini harus terus digulirkan di masyarakat dan bergantung kepada desain riset. Kami terus mengajak para peneliti untuk 1 mengombinasikan antara imajinasi dan interaksi dunia nyata 1 agar penelitian membawa manfaat yang besar,” tuturnya.

 

Sumber: Kompas. 10 Januari 2022. Hal. 9

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.