Pasar Maling, Surga Barang Murah. Radar Surabaya. 22 November 2021. Hal. 6. Chrisyandi. LIB

Di Surabaya ada satu pasar yang unik dan cukup terkenal, Pasar Maling. Pasar yang cukup fenomenal itu berada di depan Pasar Wonokromo atau di belakang Darmo Trade Center (DTC), lebih tepatnya di samping Stasiun Wonokromo.

Meski terbilang kriminalis, namun barang yang dijual bukan berarti barang hasil curian. Disebut pasar maling karena pasar tersebut dibuka hingga larut malam. Sehingga warga menyebutnya sebagai pasar maling.

“Bedanya kalau pasar yang di depan DTC itu lebih banyak dibuka sore hingga larut malam. Tapi kalau pasar loak dibuka sejak matahari mulai bersinar hingga menjelang maghrib,” ujar Pustakawan Sejarah Universitas Ciputra Chrisyandi Tri Kartika.

Pasar Maling juga kerap disebut sebagai Pasar Jongkok. Para pedagang berjualan dengan memanfaatkan bahu jalan. Para pembeli yang datang pun harus berjongkok untuk melihat barang-barang yang dijajakan pedagang.

Pasar yang memanfaatkan lampu seadanya itu tak hanya menjual barang baru, namun juga bekas seperti HP, baterai HP, lampu, dan berbagai alat eletronik lainnya. Ada pula baju, sepatu, ikat pinggang, hingga alat-alat rumah tangga.

Meski begitu, Chrisyandi mengatakan, tak diketahui pasti sejak kapan disebut pasar maling. Namun, pasar itu berdiri memiliki pola yang sama dengan pasar loak. Awalnya hanya beberapa pedagang hingga akhirnya menumpuk dan menjadi pasar.

“Bedanya kalau pasar loak barang yang dijual berukuran besar-besar. Tapi kalau pasar maling itu barang yang dijual lebih banyak berkurang kecil-kecil,” jelasnya. (far/nur)

Sumber: Radar Surabaya. 22 November 2021.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.